DIALOG EKONOMI DIKRITIK MENSESNEG MOERDIONO (RCTI - JUMAT MINGGU PERTAMA DAN KETIGA Pk: 21.30 WIB)
Acara ini diilhami oleh acara Crossfire atau Capital Gang di stasiun teve CNN. Kelebihan acara ini dibanding acara diskusi di TVRI adalah bentuk dialognya yang lebih bebas. Para pembicara bisa main potong terhadap pembicara lain. Di sinilah segi menarik acara ini. Dialog terasa lebih terbuka dan meriah. Kadang-kadang bisa main debat kusir, sehingga menimbulkan gerrr.
Seperti namanya, acara ini hanya menyangkut masalah ekonomi, disesuaikan dengan peristiwa ekonomi yang (waktu itu) aktual. Pembicaranya dipilih dari kalangan ahli, pejabat, dan pengusaha. Sebagai mantan wartawan yang memiliki kenalan luas di kalangan pengusaha, imluwan, dan pejabat, Chrys tak mendapatkan banyak kesulitan untuk meminta kesediaan para pembicara. Tetapi celakanya, kebanyakan pembicara adalah orang-orang yang sangat sibuk.
“Stress juga menghadapi persoalan yang menyangkut kesibukan para pembicara itu,” keluh Chrys, sang moderator. Ia memberikan contoh kasus pembatalan rekaman karena salah seorang pembicaranya harus menghadiri acara lain. Waktu itu Menteri Penertiban Aparatur Negara Sarwono Kusumaatmadja mendadak membatalkan janjinya karena ada acara penting yang harus dihadirinya. Chrys kelabakan.
“Baru pada hari penayangan, pak Sarwono memiliki waktu, “Ceritanya. Jadinya, paginya rekaman, sorenya langsung ditayangkan. Untuk mencegah kejadian seperti ini, (belakangan itu) selalu ada calon pengganti pembicara. Misalnya ketika Menparpostel Susilo Sudarman tak bisa hadir, akhirnya digantikan oleh Dirjen Pariwisata Joop Ave. Selain itu juga disediakan tema persediaan.
“Celakanya, tema pembicaraan sering sudah tak aktual lagi untuk ditayangkan,” kata Chrys (waktu itu). Dalam dialog yang ditayangkan, kita bisa menyaksikan adegan seru perdebatan para pakar. Tetapi, tidak gampang untuk menciptakan adegan perdebatan yang seru, dan tak melampaui rel.
“Dalam soal ini tersangkut masalah psikologis para pembicara. Ada seorang pengusaha yang mampu berbicara dengan sangat seru dalam sebuah dialog, tetapi dalam dialog lain ia tak bisa bicara. Rupanya yang menjadi penyebab adalah kehadiran seorang menteri dalam dialog tersebut. Di sini pasti ada faktor yang menghambat pembicara itu. Saya kira hal ini menyangkut suatu kepentingan usaha atau kepentingan lain.”
Masalah lain yang dihadapi Chrys adalah menjaga agar pembicaraan jangan sampai melewati “rel”. Untuk tujuan tersebut, sebelumnya Chrys menghubungi pembicara secara tersendiri. Masing-masing pembicara diwawancara untuk melihat sampai sejauh mana pembicaraan akan berlangsung.
“Lobi itu hanya untuk mengetahui materi. Sama sekali tidak untuk mengatur pembicaraan. Karena mereka dihubungi secara terpisah. Masing-masing pembicara punya kebebasan untuk menyatakan pendapatnya. Tak ada pembatasan sama sekali dalam pembicaraan,” katanya. Apakah dengan begitu tak menimbulkan akibat tertentu? Misalnya peringatan dari Deppen?
Menurut Chrys, hingga saat itu belum ada peringatan resmi dari Deppen tentang acara tersebut. Dia berpendapat, dialog yang berjalan masih dalam batas yang wajar (sampai saat itu). Selama pembicaraan hanya menyangkut masalah yang umum, tak akan diperingatkan. Bagi Chrys, halnya akan menjadi lain kalau masalah ekonomi lalu dihubungkan dengan politik.
Karena itu, Chrys selalu menjaga agar pembicaraan tak sampai menyerempet ke arah politik, misalnya menyangkut masalah SARA. Kalau ada pembicara yang secara langsung menuju ke situ, ia (waktu itu) akan memotong pembicaraan. Selain itu, acara ini bukanlah acara yang langsung ditayangkan. Dengan sistem rekaman, pembicaraan masih bisa diedit.
Meski begitu, Chrys toh pernah mendapatkan klaim dari Menteri Sekretaris Negara Moerdiono menyangkut acara dengan tema konglomerat.
“Hanya soal pembicaranya. Menurut menteri, ada pembicara yang tak menguasai masalah,” tutur Chris tanpa menyebut siapa yang tak menguasa imasalah itu. Yang berbicara waktu itu adalah Menteri Muda Perindustrian Tungky Ariwibowo, Christianto Wibisono, Sofyan Wanandi, dan Fahmi Idris. “Menurut menteri, saya harus mencari pembicara yang mengetahui masalahnya.”
Di luar itu, masih banyak masalah-masalah kecil yang harus dihadapi. Tetapi ‘the show must go on’. Apalagi, Dialog Ekonomi merupakan acara yang dijagokan. Meski (sampai saat itu) belum ada sponsor datang untuk acara ini, tetapi RCTI (waktu itu) mengharap akan mendapatkan citra baik dari sini.
Tujuannya tentu saja bukanlah sesuatu yang bisa digolongkan idealistik. Memang diharapkan (waktu itu) acara semacam ini akan memberikan input bagi pengambil keputusan dan ilmuawn. Tetpai tentu saja acara ini dimaksudkan untuk menarik minat pemirsa. Dan Chrys sendiri pun mengakui, acara ini hanya diminati oleh SD kalangan terbats. Si Mochtar, tukang bajaj dengan pendidikan SD yang tak tamat, jelas tak berminat menonton acara ini. Ya, inilah dialog kalangan menengah.
Ditulis oleh: Frans Kowa
Dok. Bintang, No. 01/24 Oktober 1990, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar