DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH: "KENA CEKAL KARENA JUDULNYA" (TPI, SELASA/RABU/KAMIS, 9, 10, 16, 17, 18 JUNI 1992 Pkl: 09.30 WIB)

Halimah dan ibunya menangisi nasibnya 

MENYAMBUT Idul Adha 1412 H, Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) memarakkan tayangannya dengan memutar film yang diangkat dari novel roman sejarah karya almarhum Buya Hamka, Di Bawah Lingkungan Kabah (DBLK). Karena panjangnya durasi DBLK, kurang lebih 150 menit, TPI membaginya menjadi lima kali tayangan.

Film besar karya terakhir Asrul Sani ini bukan film jelek. Tetapi dalam peredarnanya tidak sepreti yang diharapkan produsernya, Adni Azhar. Andi menjelaskan modal PT Tati & Sons Film sebesar 400 juta rupiah, nyaris tak kembali. Banyak kejanggalan terjadi ketika DBLK hanya beredar di gedung bioskop selama 3-4 hari. Itu pun hanya di wilayah Jawa Timur dan Sumatera Barat.

Sedang Asrul Sani menyebut filmnya sebagai korban Pemilu. Judulnya seakan menjadi alat ampuh bagi satu organisasi politik yang kala itu menggunakan Ka’bah (sebelum berganti bintang) sebagai tanda gambar partai.

Uniknya, saat FFI 1981 di Surabaya, DBLK menyabet 11 nominasi untuk Citra. Nmaun ketika diumumkan tak satu pun yang menang, termasuk ilustrasi musik yang dikerjakan Idris Sardi. Kekecewaan Asrul bertambah lengkap saat DBLK harus diganti judulnya dengan Para Perintis Kemerdekaan. Orang lebih mengenal DBLk dibanding Perintis.

Selain itu, DBLK identik dengan Hamka dan karya sastra Pujangga Baru (angkatan ’33). Sebelum menggarap proyek Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat untuk TVRI, DBLK merupakan usaha Asrul pertama kalinya mengadaptasi roman Pujangga Baru.

Kekecewaan Asrul bertambah lengkap saat DBLK harus diganti judulnya dengan Para Perintis Kemerdekaan. Orang lebih mengenal DBLK dibanding Perintis. Selain itu, DBLK identik dengan Hamka dan karya sastra Pujangga Baru (angkatan ’33). Sebelum menggarap proyek Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat untuk TVRI, DBLK merupakan usaha Asrul pertama kalinya mengadaptasi roman Pujangga Baru.

Itu sebabnya saat TPI menawarkan akan menayangkannya, Andi Azhar menyambut dengan senang. “Kini (1992-red) lebih kepada misi pendidikan dibanding misi bisnis,” jelasnya (waktu itu). “Walau harga yang ditawarkan TPI jauh dari kata mencukupi, namun saya senang DBLK diputar.”

Perlakuan Sidi Marajo terhadap Halimah disaksikan penduduk 

 

BUNTUNG di Tati Film, untung di TPI. Itu ungkapan yang agaknya tepat. Dengan tayangan selama 30 menit, jatah iklan sebnayak 6 menit, dengan harga satu menitnya 18 juta rupiah. Total yang diterima TPI dari iklan DBLk saja bisa lima kali 108 juta rupiah. Pujian DBLk sebagai film bagus tak kurang keluar dari ketua MUI Hasan Basri.

“Film-film seperti inilah yang menunjang dakwah keagamaan. Banyak manfaat yang bisa dipetik,” jelas Hasan Basri selesai ‘preview’ DBLK di TIM 21, Jakarta. Kisah DBLk terjadi sekitar tahun 1926. Rakyat Minang harus menghadapi dua musuh: Belanda dengan polisi rahasianya, PID, serta para penguasa yang feodal. Dengan mudah Belanda setiap saat menciduk dan memenjarakna pemimpin agama. Korban pertama adalah Haji Jalaluddin.

Dengan ditangkapnya Jalaluddin, orang-orang berpendidikan memindahkan kegiatan siar agama dan menentang Belanda ke Padang Panjang, di bawah bimbingan Haji Ali. Fakhrudin, Zainudin, dan Hamid yang baru lulus dari MULO memperkuat barisan Haji Wali dengan menerbitkan buletin Menara.

SEMENTARA itu, hukum Islam digugat setelah munculnya surat yang berasal dari Halimah. Halimah dihukum ‘nusyuz’ (tidak dicerai, tapi tidak diberi nafkah batin maupun lahir) oleh Sidi Marajo, karena wanita ini lebih menyukai ceramah agama ketimbang tinggal di rumah.

Sedang Sidi sendiri lebih suka berjudi daripada menghidupi istrinya. Malangnya, hukum ‘nusyuz’ ini disahkan Kadi Haji Makmur meski tanpa tahu sebab-musababnya. Keimanan Halimah diuji. Ternyata Halimah memilih jalan keluar dari Islam, sehingga ikatan perkawinan menjadi batal.

Hamid dan Fakhurdin berusaha mencegah Halimah, tapi tidak berhasil. “Tuhan lebih dekat kau daripada urat nadimu sendiri,” kata Hamid. Namun, ketika sampai di pintu mesjid, Halimah mengurungkan niatnya. Para ulama pun menyatakan, Keputusan Haji Makmur tidak kuat hukumnya.

Hamid sendiri harus menemui kenyataan pahit. Zaenab, putri Haji Jakfar yang dicintainya, harus memenuhi permintaan ibunya menikah dengan Wahab, pegawai pemerintah Belanda di Batavia. Pergerakan politik historis-materialistis Tan Malaka pun akhrinya sampai di tanah Minang. Pembantaian terhadap orang-orang Belanda, mengundang kemarahan Batavia. Orang-orang pergerkan dipenjarakan, termasuk kawan-kawan Hamid.

Hamid menyelamatkan diri dan melanjutkan pendidikan agamanya ke tanah Arab. Sebenarnya DBLK belum tuntas, Andi Azhar berniat meneruskan cerita perjuangan Hamid ketika kembali dari tanah Arab. Namun jatuhnya peredaran DBLK memaksa Andi untuk lepas tangan.

Ditulis oleh: Aris Muda Irawan

Pemain: Mutiara Sani (Halimah), Cok Simbara (Hamid), Camelia Malik (Zaenab), Arman Effendi (Fakhrudin)

Sutradara: Asrul Sani

Produser: Andi Azhar

Musik: Idris Sardi

Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer