DEWI POERNOMO: "JADI PENYIAR GARA-GARA SULIT MENCARI PRIA MANDUL"

 
KONON, garis tangan seseorang menentukan perjalanan nasibnya. Bila benar begitu, bagaimana dengan Dewi Poernomo, penyiar Lintas Lima di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia)? Percaya atau tidak, nasib cewek kelahiran 15 Februari 1971 ini justru “ditentukan” tangan orang lain. Tepatnya, alur jari-jari pria mandul. Hush, jangan berpikir yang bukan-bukan, ah.

Kisahnya bermula Dewi ketika sudah di semester akhir fakultas MIPA, jurusan biologi UI (Universitas Indonesia). Semua mata kuliah sudah ditempuhnya dengan indeks prestasi memuaskan. Namun, untuk jadi sarjana, Dewi mesti menyusun skripsi. Waktu itu, Dewi sangat tertarik dan ingin meneliti korelasi antara pria impertil (cairan semennya tidak mengandung spermatozoa alias mandul-red) dengan alur jari-jari tangan yang berpola ‘arch’ (melengkung seperti gunung-red).

Menurut hipotesis Dewi, pria dengan alur jari-jari berpola ‘arch’ cenderung mandul. Korelasi itulah yang dijadikan bahan kajian untuk skripsinya. Tapi, mencari pasien yang mengidap mandul sejak lahir bukan main sulitnya. Sehingga proyek penelitian Dewi tak semulus yang diharapkan.

Nah, di tengah kesulitan mencari responden itulah Dewi mendengar kabar, TPI membuka lowongan untuk penyiar. “Waktu itu saya merasa kesulitan mencari responden yang ‘researchable’. Kebetulan saya mendengar di TPI ada lowongan penyiar. Semula saya ragu. Tapi akhirnya saya coba,” tutur bungsu dari 4 bersaudara pasangan Bambang Poernomo dan Sri Wahjoeni.

Ringkas ucap, setelah melewati beberapa tahap tes, pada bulan Oktober 1994, Dewi diterima sebagai penyiar. Pada mulanya cewek bertinggi/berat (saat itu) 161/54 ini ditugaskan di bagian ‘continuity’. Saat itu, Dewi juga sempat jadi pembawa acara paket Bahana Suara Pelajar. Lantas, bagaimana dengan skripsinya? “Karena sibuk, saya mengalami kesulitan menyelseaikan kuliah. Akhirnya saya ‘off’ selama 3 bulan dari TPI,” ungkapnya.

Begitulah, Dewi kembali ke lapangan dan menghadapi problem lama: kesulitan mencari pasien! Untungnya, konsentrasi Dewi tidak lagi terbagi dua. Pernah dia terkantuk-kantuk di ruang tunggu RS Cipto Mangunkusumo saat mencari responden, lantaran pagi harinya baru saja bertugas membaca berita untuk paket Selamat Pagi Indonesia.

Kesabaran selalu berbuah manis, begitu kata orang bijak. Setelah melewati berbagai tantangan. Dewi berhasil, menyelesaikan, kuliahnya dengan baik. 1997, Dewi bisa lebih tekun bekerja. Tidak ada lagi aktivitas lain yang menyita pikirannya. Setelah satu tahun di bagian ‘continuity’, Dewi bergabung dengan Serbaneka, cikal bakal Lintas Lima. Dan 1997, di samping tetap bertugas sebagai pembaca berita, penyuka warna coklat ini jadi presenter sekaligus reporter paket Wanita-Wanita.

Selama jadi reporter, ada satu pengalaman yang tak mungkin terlupakan. Pernah, usai liputan pagi, mobilnya mogok di jalan tol. Walau Dewi sudah berusaha menyetop mobil-mobil yang lewat, tidak ada yang mau berhenti.

Cukup lama dia menanti, sampai tiba-tiba sebuah mobil menepi. Pengemudinya seorang ibu dengan dandanan seronok. Dia bersama anaknya, yang juga tak kalah seronok. Alis mereka tipis dan mencuat. Melihat dandanan mereka. Dewi sempat takut juga. Di luar dugaannya, mereka malah menolong. “Mobil saya diderek sampai Cawang, Jakarta Timur.

Kemudian dibetulkan di bengkel dekat rumahnya. Sebelum pulang, saya berjanji pada ibu itu akan datang lagi untuk mengucapkan terima kasih,” ungkap Dewi. Sayang, belum sempat Dewi mengucapkan terima kasih, dia mendnegar kabar bahwa ibu itu (waktu itu) telah meninggal dunia. Wajar saja bila selama beberapa lama, wajah si penolong sempat terbayang-bayang di benaknya.

Dewi (saat itu) sudah mantap bekerja sebagai penyiar. Ia (waktu itu) akan terus menekuni dunia televisi, sambil menanti cowok idaman hati. Yang seperti apa sih? “Saya ingin dapat cowok yang imannya tebal dan bertanggung jawab. Itu saja!,” tutur Dewi. Ada yang merasa memenuhi persyaratan itu?

Ditulis oleh: Teguh Yuswanto

Dok. Bintang – Edisi 324/Th. VII/minggu keempat Mei 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer