DEMI KELAHIRAN PUTRA KEDUA, ASTRI IVO BERJALAN KAKI KE RUMAH SAKIT
KETIKA BDI (Broadcast Design Indonesia) syuting TOS (Tantangan Olahraga Selebritis, diputar RCTI-red) di Ancol, Astri Ivo tampak ceria, meski tubuhnya basah kuyup. Saat itu, Astri baru saja beraksi di depan kamera dengan mengendarai jet ski. Tawanya lepas. Wajahnya cantik berseri-seri. Dan semangatnya menggebu. Siapa nyana, saat itu telah tumbuh janin di dalam perutnya. Astri sendiri juga (waktu itu) belum menyadarinya.
Karena kecintaan pada dunia yang dipilihnya, hingga janin berusia 7 bulan, penyanyi dan pemain sinetron bernama lengkap Astri Feizaaty Ivo ini, masih syuting untuk sinetron Sepagi Itu Kita Berpisah (dari novel karya Marga T-red). Untungnya, dalam sinetron yang akhirnya diganti judulnya menjadi Cinta Sepanjang Jalan (kemudian diputar di Indosiar-red), Astri berperan sebagai dokter yang tengah hamil.
Minggu, 27 April 1997, pukul 04.00 WIB, Achi, panggilan wanita kelahiran 21 September 1964, melahirkan putra kedua di rumah sakit umum bersalin YPK Menteng, Jakarta. Beratnya 33 kg dan panjangnya 49 cm. Menurut rencana (waktu itu), putra kedua pasangan Astri Ivo-Dariola Yusharyahya ini (kala itu) akan diberi nama Abram Luigi. Abram diambil dari nama Nabi Ibrahim, karena lahir bertepatan dengan bulan haji.
Sedang Luigi, menruut Dariola, tak ada artinya. “Saya senang saja menggunakan nama itu, karena seperti nama orang Italia,“ ungkap Dariola yang juga menambahkan, nama utnuk bayinya (waktu itu) akan dirundingkan lagi. Achi sendiri sebenarnya telah menyiapkan nama, tapi nama perempuan. Lewat pemeriksaan USG, mereka sudah tahu jenis kelamin bayi yang dikandung laki-laki.
Meski begitu, mereka tetap menyiapkan nama untuk perempuan. Sebab, kata Dariola, tes USG tidak menjadi jaminan pasti. Ada kemungkinan meleset. Maka, kalau lahir perempuan, sudah disiapkan nama Annisa Daniela. Ketika ditanya apakah sebenarnya menghendaki anak perempuan, Dariola berkilah, “Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting selamat.”
Untuk kelahiran kali ini, Achi mesti berjalan kaki dari rumah ke rumah sakit. Bukan apa-apa, ini memang anjuran dokter. Achi harus lebih banyak bergerak untuk memudahkan proses kelahiran. Mengingat selang antara anak pertama dengan kedua cukup jauh, 4 tahun.
Untungnya, rumah Achi tak jauh dari tempatnya bersalin. Masuk ke ruang bersalin pukul 11 malam, namun bayi yang telah mendiami rahim Achi selama 38 minggu itu baru lahir pukul 04.00. Menurut Achi, prosesnya memang cukup lama. “Hampir 2 jam, tapi masih tergolong normal,” tutur Achi.
Menyambut kelahiran putra kedua ini, Dariola tidak terlalu merasa gelisah. “Rasanya biasa saja, jika dibandingkan saat menunggu kelahiran putra pertama,” ungkap Dariola. Lain dengan Achi. Pemeran pembantu dalam Kerikil-Kerikil Tajam ini tetap merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebahagiaan ini dibaratkan Achi bagai orang mendapat undian milyaran.
Saat BI (Bintang Indonesia) datang menjenguk, Achi masih belum beristirahat. Ia masih memnikmati kebahagiaan itu (waktu itu). “Saya merasa senang, jadi tidak ngantuk,” ungkapnya. Ia begitu bersemangat menerima ucapan selamat dari saudara dan para sahabat.
Dariola tak terlalu menuntut jadi apa anaknya nantinya. Ia hanya berharap anaknya tumbuh sehat dan setelah besar mendapat pendidikan yang baik. Mengenai pilihan hidup, itu soal nantinya. Ia tidak mau memaksakan kehendak. Dariola percaya kalau anak tumbuh dalam curahan perhatian dan cinta kasih yang cukup, ia akan jadi anak yang baik. (Pihak Bintang waktu itu mengucapkan) selamat mendapat momongan baru.
Ditulis oleh: Teguh Yuswanto
Dok. Bintang – Edisi 320/Th. VII/minggu kelima April 1997, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar