DEDE YUSUF: "BENTUK WANITA" (JENDELA RUMAH KITA, TVRI PROGRAMA 1 – SELASA, 4 APRIL 1989 Pkl: 21.30 WIB)

 


NAMA lengkapnya Yusuf Macan Effendi. Usia (waktu itu) mendekati 24. Mula dikenal sebagai atlet taekwondo. 1989, mulai dikenal juga sebagai fotomodel, pemain film, dan 1989 sebagai Jojo, pemuda yang kritis, pola pemikirannya cukup matang, dan punya idealisme tinggi, dalam serial baru (ketika itu) ini.

Karakter yang berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. “Untuk idealis banget, ya saya belum bisa. Tapi bagi saya, yang sulit bagaimana menginterpretasikan kritis, namun dasarnya tidak menggurui.” Itu komentar soal peranannya.

Kalau soal cewek, apa katanya? “Saya ingin dapat wanita yang bisa dibentuk, maksudnya dalam rumah tangga nanti bisa saya bentuk sebagai nahkoda, tetapi ‘leader’-nya tetap saya.” (Membentuk diri sendiri di hal. 5 – Monitor No. 127/III/minggu ke-1 April 1989/5-11 April 1989).

BUKAN ANEH TAPI NYATA: “DEDE SUKA BELANJA KEPERLUAN RUMAH TANGGA”

 


TAWAR, AGAR. “Saya sebenarnya bosan kalau ada pertanyaan yagn menggiring hanya soal sosok saya. Karena pertanyaan itu seperti sudah seringkali saya terima.” Dede (waktu itu) lebih suka bicara tentang Jendela Rumah Kita (TVRI).

Pihak Monitor ikuti saja kemauannya. “Saya suka dengan tema cerita Jendela. Di situ, diungkapkan rasa kesetiakawanan ternyata masih ada. Saat banyak yang berpendapat di zaman modern ini rasa kesetiakawanan dinilai telah luntur, Jendela mengemukakan, kalau nilai itu sebenarnya tetap ada, dan bisa tumbuh kalau kita yang menumbuhkannya.”

Lalu, ia beralih ngomong tentang tokoh yang dimainkannya. “Lewat Jojo sediktinya ingin mengubah anggapan kalau saya pasnya cuma jadi remaja yang kesannya jagoan. Bagi orang lain, barangkali lebih suka saya jadi seperti itu. Tapi, buat saya jelas perlu pengalaman bermain dalam banyak peran. Itulah yang paling penting bagi saya.”

Cara untuk menyelami Jojo? “Setelah baca-baca naskahnya, saya menyimpulkan kalau karakter Jojo, sebenarnya gambaran dari penulisnya, ya mas Arswendo (Atmowiloto-red) sendiri. Ya, kemudian saya tinggal lihat saja gaya-gayanya. “Aduh De, bias ge-er dia nantinya. Tapi, tak apalah kalau itu memang jalan yang diperlukan.

Cuma, kita pengen tahu mengapa tertarik ke dunia film? “Pertama, saya dari dulu (jauh sebelum 1989-red) memang ingin terjun ke situ. Saya lihat orang-orang bisa, maka saya pun harus bisa. Kedua, saya ini sebenarnya minderan. Supaya penyakit itu hilang, saya harus memaksakan diri untuk berani tampil. Lewat dunia model dan film, saya berusaha menghilangkannya.”

O begitu to? Jadi, (waktu itu) sudah ada perubahan, begitu? “Belum, seluruhnya hilang, kalau kemudian jadi banyak yang kenal, ya gimana lagi? Tapi, saya tak pernah bermaksud mau memperkenalkan atau menonjol-nonjolkan diri.” Putra aktris Rahayu Effendi kelahiran Jakarta, 14 September 1966, ini kelihatannya (waktu itu) sudah cukup pintar menghadapi kuli tinta. Setiap pertanyaan dijaabnya dengan hati-hati, meski yang keluar terkadang basa-basi.

Biar Dede sendiri tampaknya rada segan menuturkan perjalanan karirnya, lantaran berulang kali ia kemukakan. Toh, terpaksa sekali ini ia berceriat lagi. “Dulu (jauh sebelum 1989-red) saya sering melamar untuk dapat peran. Ada beberapa yang ditawarkan, tetapi orangtua saya meminta agar tidak terburu-buru. Mereka menyarankan agar saya memilih yang pas.”

 


GAGAL, KENAL. Sementara menunggu yang dianggap pas, penyantap masakan ‘chinese food’ ini menenggelamkan diri sebagai peragawan, model, dan olahraga taekwondo. Prestasi nasional pernah diraihnya di kegiatan yang disebut belakangan tadi. Dimulai tahun 1982 ketika juara II dalam kejuaraan tingkat cabang.

Prestasi serupa terulang setahun berikutnya dalam kejauraan mahasiswa. Tahun 1984 di kejuaraan nasional ia tampil sebagai pemenang pertama, tahun kemudian turun ke nomor dua. “Tahun 1986 dan 87, prestasi mulai menurun, karena saya mulai main film.” Sempat pula beberapa kali dipanggil ikut Pelatnas, tapi Dede tak pernah sempat terpilih untuk bertanding ke luar. “Saya kurang disiplin,” katanya jujur. Sedang cedera cukup parah yang pernah dialami, rahang lepas pada 1982.

Olahraga keras itu memang membentuk tubuhnya. Dengan tinggi 175 dan berat (waktu itu) 75 memang ideal untuk memasuki dunia yang (ketika itu) ia geluti. Tiga film (layar lebar-red) sudah dilibatinya (sampai saat itu): Catatan Si Boy I & II dan Biarkan Aku Cemburu.

Dua film pertama itu yang kemudian membentuk imaji tentang dirinya seolah-olah jantan, jago berkelahi. Memangnya pernah berantem beneran, De? Ia tersenyum. “Sduah, jangan terus-terusan tanya soal yang begituan. Kita bicara yang lain saja, ya?”

Enaknya masalah apa ya? Ini saja deh, punya pendapat mengenai mama? “Saya kagum pada kegigihan dan ketegarannya. Sering saya dipompakan untuk selalu optimis. Saya banyak belajar kalau manusia itu sesungguhnya melakukan segalanya, kalau memang punya kesungguhan.”

Peranan orangtua dalam karir? “Saya dapat kebebasan memilih kegiatan, asal tidak melantarkan kuliah.” Ia (waktu itu) mahasiswa teknik industri Universitas Trisakti, Jakarta. Dan ia pun sadar betapa beratnya menjalankan keduanya. “Saya sempat cuti satu semester, tapi saya harus bisa mewujdukan keinginan orangtua untuk jadi insinyur.”

Penggemar mobil ‘sport’ yang takut sakit ini meski kagum akan karakter mama, namun ia mengaku tak ingin mendapatkan seperti dia. “Saya ingin dia yang mengagumi saya, dan jika cari yang kayak orangtua, saya bisa jadi “anak kecil” seterusnya.” Tambahan lainnya, “Saya suka dengan wanita yang sensual, bukan berarti terus seksi, bisa saja sensual, hidungnya, bibirnya, dan lainnya.”

Sudah ada? “Dulu (jauh sebelum 1989-red) pernah ada, tapi jangan dibilang saya gagal pacaran. Sebab, gagal menurut saya kesannya kok sama dengan frustasi? Tidak, saya tidak merasa gagal.” Buktinya, ia (saat itu) sudah mendapatkan pengganti. “Tak perlu saya sebutkan namanya. Kalau saya sebutkan toh banyak yang tak kenal, karena dia memang bukan orang terkenal.”

Satu pertanyaan lagi, (waktu itu) masih suka jalan-jalan ke supermarket? “Masih, nggak tahu, saya kok paling suka belanja keperluan rumah tangga?” Kalau ada pembaca yang ingin tanya harga penggorengan, piring atau gelas, barangkali Dede bisa menjawabnya. Tidak keberatan khan, De?


Ditulis oleh: Tavip Riyanto


Alamat Dede Yusuf (waktu itu):

Jln. Kalibata Tengah 49

Jakarta Selatan


Dok. Monitor – No. 127/III/minggu ke-1 April 1989/5-11 April 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer