CITRAAKTUAL - DI PASAR KASET, PENYANYI LAIN DIHADANG NIKE ARDILLA
“’BOOM’ NIKE ARDILLA” itulah yang terjadi sejak ‘mojang’
Priangan (era itu) ini mengalami kecelakaan mobil dan tewas. Pasar album
artis-artis musik dalam negeri pun dilandanya. Dari album Nike yang dirilis
terdahulu dan (belakangan itu) masih beredar, yaitu The Best (1993), Biarkan
Cintamu Berlalu (1994), dan Seleksi (1994) hingga album yang baru dirilis
sebelum Nike meninggal dunia, Sandiwara Cinta, laku keras diburu penggemar
sejati atau penggemar dadakan Nike.
Bersamaan dengan ledakan hebat penjualan kaset album-album Nike, ternyata ada sejumlah penyanyi kita yang lain yang – menurut para produesrnya – “nasib” kaset album-albumnya “terganggu”. Memang, bisa saja itu terjadi karena hal lain. Tapi pasti, ledakan penjualan kaset album-album Nike juga berpengaruh.
Hadi Sunyoto, produser dari HP Record, menyatakan, terjadi penurunan Tingkat penjualan kaset album Poppy Mercury, Hati Siapa Tak Luka, dan bahkan album Broery Marantika, Hati Yang Terluka, yang jenis musiknya lain daripada yang punya Nike. Album-album tersebut diproduksi HP Record dan didistribusi Musica Studio’s.
“Jumlah kaset Broery dan Poppy yang terjual turun 50%. Biasanya sehari bisa 1.000 kaset lebih,” ungkapnya kepada Citra, di rumah sekaligus kantornya di Jakarta, 6 April 1995 lalu. Ia pun yakin penyebabnya adalah “ledakan Nike” tadi.
Dampak jenis lain dari “’boom’ Nike” mengena pada perusahaan-perusahan rekaman yang memproduksi dan mendistribusi ‘the best’, Biarkan CIntamu Berlalu, Seleksi, dan Sandiwara Cinta dari Nike sendiri, yaitu Music Plus dan Musica Studio’s. Itu diakui Asen dari Music Plus dan Indrawati yang biasa dipanggil Acin dari Musica Studio’s. Dampak jenis lain yang mereka maksud adalah terpaksa ditundanya rilis dan promosi album-album beberapa penyanyi mereka, hingga fenomena Nikemania mereda. Asen dan Acin sama-sama tak mau album-album itu ‘keok’ di pasar yang menurut mereka (waktu itu) tengah “berpihak” pada album-album Nike.
PIHAK Asen punya dua album seleksi yang mesti diundur rilis dan promosinya yang nama-nama penyanyinya belum mau disebutkannya (waktu itu). “Siapa yang mau melawan kaset Nike sekarang (April 1995-red)? Kalau kita mempromosikan kaset penyanyi-penyanyi lain, sementara penjualan kaset Nike lagi deras lakunya, sama saja kita buang uang khan?,” ujarnya (waktu itu).
Sementara itu, di pihak Acin ada tiga album yang harus ditunda rilis dan promosinya – Yang Kunanti dari Inka Christie serta yang berbeda jenis musiknya dengan yang punay Nike, Seandainya dari Betharia Sonatha dan Jangan Kau Pergi dari Trio Libels.
“Harusnya, ketiga album itu sudah dirilis April ini (1995-red) dan dipromosikan. Tapi, karena sepertinya semua orang cuma nyari album-album Nike, ya rilis ketiga album itu kami tunda. Mungkin sampai pertengahan atau akhir Mei (1995-red),” jelas Acin (waktu itu).
“Album-album Inka dan Betha yang belum kami rilis, tapi sudah terlanjur kami promosikan lewat paket Galaksi (diputar RCTI-red, episode 3 April 1995 lalu, yang syutingnya berlangsung pada 20 dan 21 Maret 1995, sebelum fenomena Nikemania terendus para produser), juga kami tunda rilis dan promosi berikutnya,” tambah Acin.
Tentu saja tidak semua produser mengakui hal yang sama. Fika, mewakili pihak Double R Record, contohnya. Aku Fika, penjualan album ‘slowrock’ Salahkanlah dari grup RC Formation dengan vokalis Rudy Chesara, yang diproduksi Double R Record dan baru dirilis, berjalan biasa. “Kadang sehari 100 kaset, kadang 500 kaset per hari,” bebernya.
Tentu saja juga, masih banyak album lain yang terus dipromosikan (sampai saat itu), termasuk lewat TV. Makanya, seperti kata Adnan Hadiansyah, dari rumah produksi PT Ersa Production yang mengelola artis-artis musik dan lagu-lagu mereka yang (waktu itu) bakal dimasukkan ke Galaksi, pihak PT Ersa tak mengalami kekurangan lagu untuk Galaksi yang juga merupakan ajang promosi album.
Begitu pula menurut Hoediono Drajat, kepala seksi perencana siaran musik dan hiburan TVRI Stasiun Pusat Jakarta. “Buat produser memang pengaruh bisnisnya jelas ada. Tapi buat TVRI nggak ada,” tutur Hoediono. “Lagu-lagu yang antre untuk masuk ke paket-paket musik TVRI (sebut saja yang jadi ajang promosi album, Musik Kita, Album Kita, Pop Seleksi, atau Musik Pilihan), tetap masih banyak,” tutupnya.
Ditulis oleh: M. Nizar/Ati Kamil
Dok. Citra – No. 263/V/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar