DALAM FILM, KORBAN BISA MEMBALAS PELAKU SECARA EKSTRIM

 THE ACCUSED. Jodie Foster jadi korban perkosaan dalam film The Accused.

KARIER, KEKERASAN. Masih ingat opera sabun The Bold and The Beautiful (di Indonesia pernah diputar TVRI Programa 1-red)? Judul di atas tidak luar biasa – seperti kebanyakan opera sabun. Namun sekali waktu, The Bold pernah Istimewa. Selama beberapa episode, penonton dihadapkan kasus perkosaan yang menimpa Caroline Spencer.

Lewat adegan yang digarap lambat, penonton didorong untuk merenungi penderitaan Caroline. Gadis secantik Caroline, anak pengusaha kaya, berkarier gemilang, dan selalu dilindungi ayahnya, ternyata bisa juga terjamah kekerasan seksual. Yang mengenaskan lagi, Caroline masih perawan saat diperkosa.

 











Perkosaan Caroline menyadarkan penonton betapa jahatnya pemerkosa dan betapa menyedihkan nasib korban. Setegar apapun seorang wanita, ia memnjadi nihil begitu dipaksa secara brutal untuk melakukan hubungan seksual. Lantas setelah mimpi buruk itu berakhir, wanita akan menjalani “neraka” yang lain: menceritakan peristiwa jahanam itu pada orang terdekat, dan melapor pada polisi.

Situasi semakin buruk karena kesedihan dan penderitaan belum lagi usai, tapi kewajiban melapor harus segera dilaksanakan bila ingin pelaku diringkus. Bayangkan bagaimana pedihnya korban saat merekonstruksi pengalaman tragis secara sangat rinci berulang-ulang.

Pada kasus Caroline, tertuduh bisa leluasa mengelak tuduhan, karena minimnya bukti. Caroline yang merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, segera mandi dengan air sebanyak-banyaknya, untuk “membuang” semua kotoran hingga bukti perkosaan hanyut. Untung, akhirnya hakim menghukum berat tertuduh, meski tak ada saksi dan minimnya bukti. Penonton pun lega.

Dalam realitas sehari-hari, kelegaan di atas sukar dicapai. Kasus perkosaan lebih rumit ketimbang yang dipertontonkan di televisi atau bioskop. Para korban pun menjalani siksaan batin yang lebih mencekam.

Tapi setidaknya film tentang perkosaan membuat penonton sadar: perkosaan itu terjadi di mana-mana, pelakunya bisa siapa saja, dan korbannya bisa dari kalangan apapun juga – dari wanita negro miskin (The Color Purple), wanita Vietnam miskin di zaman perang (Heaven and Earth), wanita neurotis (A Streetcar Named Desire), wanita neurotis (A Streetcar Named Desire), wanita binal (The Accused), perawat (Rape of Love), penulis (I Spit on Your Grave), bahkan model terkenal (Lipstick).

Sebagian judul di atas diangkat dari kisah nyata, mungkin dengan dramatisasi di sana-sini (majalah ‘TV Guide’ edisi 14 Maret 1992 menyayangkan film televisi tentang wanita korban perkosaan yang terlalu didramatisasi). Efek film-film di atas terhadap masyarakat, memang tergantung cara penyajian. Dalam The Bold, penonton sangat mungkin mengambil pelajaran berharga (antara lain yang bersifat praktis: jangan mandi setelah diperkosa, langsung lapor ke polisi).

Tapi banyak kritikus yang menganggap film tentang korban perkosaan malah menakut-nakuti wanita. Barangkali. Atau justru makin mempolarisasi pria dan wanita. Bisa jadi. Tapi memang demikianlah adanya. Pria dan wanita memang (sampai saat itu) belum setara, sayang sekali. Wanita (waktu itu) masih sangat mungkin “dijajah” pria, terutama secara seksual.

Lantas, Solusi apa yang ditawarkan film-film di atas? Ada yang sadis dan ekstrim seperti I Spit on Your Grave. Tokoh wanita yang secara brutal dianiaya, memutuskan membalas sendiri empat pemerkosanya dengan cara yang tak kalah brutal. Gaya makin hakim sendiri juga terlihat dalam Lipstick, saudara perempuan korban menembak mati pelaku.

Ada juga yang memilih jalan tertib kendati disulitkan pasal-pasal perundangan (The Accused, The Bold and The Beautiful). Selebihnya, memperlihatkan korban terpaksa cuma menelan sendiri kepahitan – karena situasi tak memungkin bertindak melalui jalur hukum – dan terus menjalani hidup (The Color Purple, Heaven and Earth). Para korban dalam judul-judul di atas masih beruntung. Tidak demikian dengan Blanche Dubois dalam A Streetcar Named Desire.

Setelah diperkosa saudara iparnya sendiri, Blanche dimasukkan ke rumah sakit jiwa (RSJ)! Sekali lagi, dalam realitas sehari-hari, siksaan batin yang dialami korban tentu lebih menyiksa. Penderitaan harus ditanggung bukan dalma hitungan jam, tapi tahunan.

Namun setidaknya film bisa memberi kesadaran pada penonton: bersikap waspada. Bagi korban: jangan menyalahkan diri sendiri. Tentu korban didera penyesalan, rasa malu, dan sia-sia. Namun menganggap perkosaan sebagai ‘the end of the world’, bukan tindakan tepat. Mengapa korban harus menanggung dosa orang lain?

Terus menjalani hidup meski sudah merasa hancur, bukan hal mustahil. Caroline Spencer – meski fiktif – sudah membuktikannya. Atau tengoklah Tina Turner. Penyanyi kondang ini sering disiksa suaminya sendiri. Namun Tina menunjukkan keperkasaan dan berhasil menata kembali hidupnya (riwayat perjuangan Tina bisa dilihat di film What’s Love Got To Do With It?).

Tengok juga La Toya Jackson yang konon sering dikasari secara seksual oleh ayah kandungnya sendiri, tapi tetap ‘survive’. Kalau mau ekstrim, kasuss Mike Tyson bisa dijadikan contoh. Saat digiring ke penjara, Tyson kehilangan segala-galanya. Namun begitu kelau, Tyson tidak diganyang (majalah ‘People’ menulis artikel manis tentang Tyson). Ah, bila penjahat saja bisa disambut sehangat itu, apalagi wanita tidak berdosa? Bukankah ‘tomorrow is another day’?

Ditulis oleh: Sandra Kartika

Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan 

Komentar

Postingan Populer