CITRASINEMA - APRIL 1995 BERSAMA FRANCO NERO DI TPI

 

Franco Nero 

SETIAP Selasa malam pukul 20.00 WIB – dalam paket Sinema Prima – stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) mengetengahkan film yang dibintangi aktor Franco Nero, yakni Man, Pride and Vengeance (4 April 1995), Django (11 April 1995), Adios Django (18 April 1995), dan The Fifth Cord (25 April 1995).

Keempat film itu, tiga di antaranya berjenis koboi – ‘western’. Sedangkan satu film, yaitu The Fifth Cord merupakan lakon tentang wartawan. Seorang reporter sebagai detektif yang mengungkap drama pembunuhan misterius. Jadi, pada bulan April 1995 ini, aktor Franco Nero (waktu itu) bakal kerap tampil, termasuk stasiun RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)  mengetengahkan film bertajuk The Salamander (Layar Emas, 12 April 1995, 20.00 WIB).

Dalam Django yang diputar TPI, 11 April 1995 ini, dikisahkan soal Django yang mencari pembunuh kekasihnya. Pembunuhnya tidak lain Major Jackson. Dna dalam pengembaraannya, Django bertemu seorang WTS bernama Maria. Film Django ini dibuat tahun 1965, disutradarai Sergio Corbucci.

Unsur balas dendam juga muncul dalam Adios Django (18 April 1995) – yang kisahnya melenceng, tidak bertutur soal petualangan Django, melainkan tentang kiprah Bert Sullivan – seorang jago tembak yang menangkap penjahat tanpa mesti membunuhnya. Nah, Bert Sullivan ini bersama adiknya, Jim Sullivan – akhirnya mencari pembunuh ayah mereka. Maka terdamparlah di kota Texas.

 

John Wayne

Kalau kita membuka mengenai film klasik, akhirnya bisa menyimpulkan bahwa jenis film yang sukar mati di Amerika Serikat adalah film ‘western’ alias film koboi. Tidak berbeda dengan di Hongkong atau Taiwan, kalau film jenis silat atau kungfu yang paling berkibar.

Memang ada masa-masa film koboi atau silat mengalami masa jenuh – sehingga dalam beberapa periode sama sekali tidak dibuat film jenis ini. 1995 ini, di Amerika Serikat, film koboi ini tidak populer. Lantaran tidak banyak dibuat, akibatnya film koboi baru jarang dapat ditemukan.

 

Clint Eastwood

KEKUATAN film koboi adalah tokohnya – yang punya kecepatan alias kemahiran dalam menembak. Misalnya, tokoh Shane yang diperankan aktor Alan Landd dalam film berjudul Shane – begitu terkenal. Karya sutradara George Stevens ini (belakangan itu) menjadi film klasik – yang tidak pernah luntur digilas waktu.

Namun, film koboi akhirnya mengalami pasang surut. Sampai berjaya lagi dengan munculnya film koboi Italia. Film koboi Italia ini justru dibintangi aktor asal Amerika Serikat, yakni Clint Eastwood. Sedangkan sutradara maupun produsernya dari Italia, yaitu Sergio Leone. Film yang dihasilkan berjudul: For A Few Dollars More, Fistful of Dollars, The Good, The Bad and The Ugly.

Di masa itu pula muncul Franco Nero yang namanya langsung meroket. Franco Nero (selain Clint Eastwood) memang membangkitkan sejumlah film koboi – dengan tokoh utama yang mendapat julukan Django. Lalu film koboi terpuruk. Kemudian mendekati akhir ke-20, film koboi mengambil bentuk sedikit beda.

Adalah sutradara Lawrence Kasdan yang menciptakan suasana baru melalui film berjudul Silverado. Film ini dibintangi Kevin Costner, Kevin Kline, dan beberapa bintang terkenal lain. Bagaimanapun, Silverado berbeda dengan film koboi yang dibintangi John Wayne, Clint Eastwood, atau Franco Nero.

Karya Lawrence Kasdan ini fokusnya pada banyak tokoh pahlawan. Film koboi klasik terfokus hanya pada satu dua tokoh semata. Terlepas dari semuanya itu, film koboi – ‘western’ – tidak bakal dilupakan. Termasuk lakon Django ini, yang pada satu sisi sudah menjadi legenda.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi/Awang

Dok. Citra – No. 263/VI/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer