CITRAKREASI - EKSPRESI: "BUSANA KERJA TAK SELAMANYA KAKU" (RCTI/SCTV - MINGGU, 26 JULI 1992 Pk: 18.00 WIB)
GERAK langkah wanita karier menjadi sorotan Ekspresi
(RCTI/SCTV) kali ini. Karena busana dapat dijadikan tolok ukur kesuksesan dalam
bekerja dan sikap kerja yang positif dapat pula dimulai dari penampilan. Lidya
Prawinoto menyarankan busana untuk wanita karier sebaiknya tidak mudah kusut dengan
struktur yang tidak terlalu kaku, sehingga yang memakai dapat merasa nyaman dan
leluasa bergerak. Dan perlu diperhatikan pula jenis pekerjaannya.
Bagi wanita yang banyak bergerak, sebaiknya tidak
menggunakan rok yang terlalu ketat. Sedangkan Prayudi mengusulkan pemilihan warna
yang tidak suram, seperti pastel atau bisa juga warna-warna yang menyala dengan
dikombinasi warna rok yang tidak menyala.
Untuk bahan blus, dapat dipilih yang bermotif bunga-bunga dan untuk jaket, rok, atau celana panjang dapat digunakan warna polos. Untuk potongan siluetnya tetap sportif, tapi tetap fmeinin, seperti blazer, blus, dan rok, atau blazer dengan rok.
Agar tampil sopan dan apik, Poppy Dharsono menyarankan
setiap wanita karier harus memperhatikan postur dan anatomi tubuh, mengenali
kepribadian, serta masalah warna, karena setiap kulit tubuh memiliki warna
tersendiri. Stelan jas dala msatu warna adalah stelan yang pas untuk wanita
karier atau bagi yang banyak bergerak di lapangan, dapat mengganti rok dengan
celana panjang.
Untuk tampil dengan gaya apik dan menarik, harus bersikap
taktis dalam memadukan koleksi gaun yang dimiliki. Dan yang harus dipersipakan
untuk tampil meyakinkan, 3 stelan dalam warna dasar, 5 blus dengan warna muda
atau bermotif, dan 2 buah gaun. Bagi yang memiliki postur tubuh kecil, pilihlah
bahan polos di luar dan yang bercorak di dalam. Warna-warna terang dan kontras
sebaiknya dipakai sebagai aksen.
Selain pakaian kerja hasil perancang dalma negeri, tampil pula hasil rancangan KENZO. KENZO tidak saja menampilkan pakaian kerja wanita, tetpai juga pria masih dengan jas-jas yang aneka warna namun tetap maskulin.
Ditulis oleh: Utami Sri Rahayu
Dok. Citra – No. 121/III/22-28 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar