CITRAAKTUAL - KAMPANYE AIDS LEWAT RADIO DAN TELEVISI (RRI/TVRI) DILIBAS HABIS WHITE SNAKE LEGEND (SCTV)
AGAR permasalahan seputar HIV/AIDS dipahami dengan tepat,
dan penderitanya diperlakukan dengan bijak dan tepat pula, Departemen Kesehatan
melakukan serangkaian kegiatan. Di antaranya kampanye perihal HIV dan AIDS itu
dengan memanfaatkan media radio, lewat program sandiawra radio. Serta
memanfaatkan sang primadona layar kaca alias sinetron.
Dibuatlah serial drama radio Titian Kasih Sayang dengan dukungan Ford Foundation dan dipancarkan oleh RRI Programa Nasional (Programa 1-red, 104,1 FM) jam 08.30-9.00, sejak Juli 1994. Lalu sinetron miniseri Onah dan Impiannya-Suryakanta Kala garapan N. Riantiarno yang telah ditayangkan TVRI (Programa 1-red) akhir November 1994 dan awal Desember 1994 silam.
Ada alasan khusus memanfaatkan media audio dan pandang dengar itu, “Kalau kampanye AIDS dilakukan begitu saja, siapa yang mau dengar?,” ujar Dahroni, kepala Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Karenanya, lanjut Dahroni, “Kita sisipkan lewat cerita rakyat, ya lewat sandiwara radio dan sinetron itulah.”
Upaya ini terbilang berhasil. Setidaknya terbukti, untuk wilayah Jabotabek saja pendengar fanatik Titian… berjumlah cukup banyak. Bahkan sekitar 15-200 orang di antaranya mereka – tua-muda (kala itu), sudah berkeluarga dan (waktu itu) masih jaka-dara – rela meluangkan waktunya untuk hadir dalam acara tatap muka dengan para pemeran/pengisi suara sandiwara radio itu plus sejumlah pakar AIDS di Departemen Kesehatan, Kuningan, Jakarta, Senin, 16 Januari 1995 lalu.
Ada yang datang dari Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bogor. Ada guru yang mengaku sengaja meninggalkan murid-muridnya di Bogor untuk mendapat penjelasan lebih lanjut perihal AIDS agar bisa memberi jawaban bila murid-muridnya ingin bertanya lebih detil. Juga ada suami yang datang dengan memboyong anak, istri, sekaligus orangtuanya.
Karena itu, Dahroni optimis, para pendengar fanatik ini suatu saat, “Bisa jadi agen atau penyuluh soal AIDS dengan membentuk perkumpulan semacam kelompencapir.” Cara ini, menurutnya, terbilang murah dibanding bila harus membiayai perawatan penderita HIV/AIDS yang terjangkit karena tidak paham tentang cara penularan penyakit itu.
“Satu penderita saja memerlukan biaya sekitar Rp 1-6 juta. Bayangkan, berapa jumlah yang harus dikeluarkan bila hingga akhir 94 saja sudah tercatat 275 penderita HIV/AIDS di Indonesia. Itu yang tercatat, belum yang tidak tercatat karena berbagai sebab.”
Ratna N. Riantiarno
MELIHAT kenyataan betapa efektifnya penyampaian informasi
perihal AIDS lewat radio, Depkes pun optimis hal senada (waktu itu) akan
tercapai bila dikampanyekan lewat sinetron. Ya…, khan hipotesa sementara (waktu
itu) ini mengatakan media audiovisual lebih efektif dibanding media audio.
Apalagi bila media audionya itu RRI yang konon sudah ditinggalkan banyak
pendengarnya, karena makin merajalelanya radio swasta yang dianggap lebih
mengikuti perkembangan jaman.
Tapi anehnya, kendati Onah dan Impiannya-Suryakanta Kala sudah ditayangkan TVRI (Programa 1-red), tetap saja (waktu itu) masih banyak di antaranya yang hadir dalam acara itu yang meminta, “Agar kampanye AIDS juga dilakukan lewat sinetron!” Dari ratusan pencinta fanatik Titian…., hanya 1 orang yang mengaku menonton Suryakanta Kala. Selebihnya, (waktu itu) belum! Bahkan tidak tahu kalau “Surya…” itu ada.
Pemeran dr. Halimah dalam sinetorn tersebut, Ratna Riantiarno, yang juga hadir di acara ini menerima kenyataan tersebut dengan besar hati. Tapi rupanya ia sudah menyiapkan satu jawaban mengapa hal itu bisa terjadi.
“Suryakanta Kala ditayangkan bersamaan waktunya dengan serial White Snake Legend di SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) yang sudah keburu kesohor. Nah, orang-orang ternyata lebih suka nonton White Snake…,” ujar Ratna sambil tertawa, dan diakui oleh banyak yang hadir di acara itu. Sungguh membuat miris!
Mungkin karena itu, sebuah sumber di Depkes (waktu itu)
mengatakan, “Surya….” – waktu itu – akan ditayangkan ulang di stasiun TV
swasta. “Cuma stasiun mana dan kapan waktunya, belum tahu.”
“Asal jam tayangnya jangan bersamaan dengan White Snake… lagi. Juga tidak bersinggungan dengan serial-serial telenovela. Kalau tetap seperti itu, sama saja bohong,” ujar seorang ibu yang datang bersama 2 anak gadisnya (era itu). Rupanya, si Ular Putih, Kassandra, Ines, dan Maria Mercedes (keempatnya diputar SCTV-red) lebih memikat dibanding Onah.
Bahkan bila dibanding dengan pengetahuan tentang penyakit turunnya daya tahan tubuh yang bisa ditularkan lewat hubungan seks sejenis maupun lawan jenis, transfusi darah, jarum suntik, serta dari ibu yang mendeerita AIDS kepada bayi (era itu) yang dilahirkannya itu.
Jadi…, pintar-pintarlah menempatkan Onah. Karena ternyata upaya mulia mencerdaskan masyarakat dan memberi pemahaman lewat tayangan layar kaca itu (waktu itu) masih dijadikan kebutuhan “sekunder” oleh banyak pemirsa. Bahkan (perkiraan waktu itu) mungkin cuma tersiar setelah – sekali lagi – Ular Putih dan Kassandra….
Ditulis oleh: Maman Suherman
Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar