CHARLES BONAR SIRAIT-TIA MONICA: "BERUSAHA BERPIKIR REALISTIS"
CHARLES Bonar Sirait, pemandu acara Zimfoni yang ditayangkan
SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) dan Tia Monica, penyanyi dan mantan
pemandu acara Obrolan Pagi ANteve (Andalas Televisi) berjumpa, berkenalan, dan
lalu merasa cocok. “Tapi saya dan Tia akan berusaha realistis menghadapi masa
depan dari hubungan kita,” kata Bonar (waktu itu).
Wajah Charles Bonar Sirait sebagai model dan pemandu acara, sudah kondang saat pertemuan itu terjadi. Tak banyak berbeda dengan Tia. Sebagai penyanyi, pemandu acara juga sebagai pemain sinetron, wajah Tia banyak muncul di layar kaca. “Saya banyak dengar cerita tentang dia dari Nia (Lavenia-red. Lavenia dan Tia satu perusahaan rekaman),” ujar Tia. “Tapi saya menganggapnya biasa saja, malah melihat dari penampilannya, saya pikir dia masih ABG – anak baru gede,” lanjutnya (waktu itu).
Dua kali mereka bertemu. Pertama, saat Tia diwawancara Lavenia dalam acara Zimfoni, sekitar bulan Oktober 1994. Pertemuan kedua, saat Tia bersama dengan Lavenia dan Cucu Cahyati merilis album baru (kala itu), dan diwawancarai Bonar dalam acara yang sama, sekitar Desember 1994. “Waktu itu kita tukeran kartu nama. Cuma saat itu sikapnya kelihatan sombong sekali, tapi saya cuek aja,” lanjut Tia. “Nggak pernah ada dalam bayangan saya bakal kenal, apalagi pacaran sama dia,” aku Tia.
Tapi, beberapa hari setelah pertemuan itu, saat sedang di luar kota, pager Tia berbunyi. Dua kali. Pengirimnya, Charles Bonar. “Saya diemin aja,” terangnya. “Baru setelah beberapa minggu, saya telepon balik,” akunya. Setelah itu, anggapan yang terlanjur muncul dalam diri Tia bahwa Bonar suka gonta-ganti cewek, sifatnya rada ABG, pupus. “Sebelumnya, saya sempat perhatiin juga acaranya. Kok cakep?,” akunya. “pas kita ngobrol, kok ya klop gitu,” lanjut Tia.
Dari obrolan itu, Bonar kemudian tahu Tia ternyata selain menyanyi, juga sering menjadi MC (‘master of ceremony’) untuk acara pernikahan. “Saya bilang, boleh nggak saya belajar?,” ujar Bonar. Ternyata serius, Bonar sengaja hadir dalam acara-acara di mana Tia menjadi MC. “Tapi saya selalu datang setelah acaranya bubar, dan Tia sedang menyanyi,” aku Bonar.
Pertemanan itu pun berlanjut. Mengantarkan Tia pulang, jadi satu hal yang Istimewa. Bukan hanya untuk Bonar, tapi juga untuk Tia. “Ya, berbunga-bunga juga rasanya,” aku Tai. “Terkesan banget. Soalnya, rumahnya jauh banget,” sahut Bonar. “Iya, dia nganter sampai jam 2 pagi,” sambut Tia. “Selama ini, tiap saya pulang malam syuting sinetron atau apa, nggak pernah ada yang rela nganterin saya pulang, baru dia jaa yang mau,” lanjut Tia (waktu itu).
Setelah jalan bareng selama 3 bulan, banyak hal baru (kala itu) yang Tia ketahui soal sisi-sisi kehidupan Bonar, begitu juga sebaliknya. Ada begitu banyak kejutan yang mereka terima. “Ada yang membanggakan, ada yang membuat saya ‘down’,” aku Bonar. Karena kejutan-kejutan itu, hubungan mereka yang awalnya biasa-biasa saja, kian berkembang. Tapi frekuensi pertemuan yang cuma seminggu sekali atau 2 kali seminggu, tak membuat keduanya lantas mabuk kepayang.
Hanya saja, diam-diam mulai terasa ada ketergantungan satu dengan yang lain. “Saya ‘jealous’ kalau dia jalan sama yang lain. Saya jadi posesif,” aku Bonar. Sikap posesif, rasa ingin memiliki itu, membuat Bonar dan Tia mengevaluasi kembali hubungan mereka. “Akhirnya kita sepakat, nggak soal kalau cuma diantar atau ngobrol dengan cowok atau cewek lain,” terang Bonar. “Kita khan belum ada ikatan apa-apa,” lanjutnya (waktu itu).
Kebebasan itu membuat mereka merasa semakin dewasa dalam membina hubungan kasih, tak harus merasa terikat, tapi satu sama lain tetap tahu batas. “Kadang masih ada sisa-sisa lama (maksudnya cowok-cowok yang sempat kenal dengan Tia-red) yang suka mejer-mejer dia,” ujar Bonar (kala itu).
Tapi kejadian seperti itu justru semakin mematangkan komitmen yang telah mereka canangkan. “Kita sendiri nggak menyangka kalau hubungan kita bakal sejauh ini. Tadinya kita cuma ingin berteman,” ungkap Bonar, disambut anggukan kepala Tia. “Sekarang (1997-red) maunya tiap hari bersama dia,” ungkap Bonar (waktu itu).
“Keluarga saya nggak soal, mereka sudah sangat menerima Tia,” ujar Bonar. “Orangtua saya khan jauh di Cianjur. Saya merasa orangtua Bonar sudah menjadi orangtua saya juga,” aku Tia. Benturan karena perbedaan sejauh itu tak menjadi persoalan serius. Tapi sikap moderat orangtua Bonar, yang menerima baik keberadaan Tia, tak lantas membuat hubungan keduanya mulus.
Ada hal lain yang masih membentur hubugnan keduanya (waktu itu). “Soal agama, kita nggak mau ada keterpaksaan. Kita hanya mohon restu Yang Maha Kuasa,” lanjtu Bonar. “Bila memang Yang Maha Kuasa memperkenankan, pasti Dia akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita berdua,” kata Tia (waktu itu). (Harapan waktu itu) semoga.
Ditulis oleh: Lukmanoelhakim
Dok. Bintang – Edisi 321/Th. VII/minggu pertama Mei 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar