CERITA DARI LOKASI - RUMAH PRODUKSI PENGGARAP MISTERI PEWARIS, PUNYA CERITA "RUWET" DALAM PEMBAYARAN KRU
‘Department store’ di bilangan jalan Sunda, Bandung, itu
ramai pengunjung. Pada penghujung tahun 1994 lalu itu, menjelang tengah hari,
udara terbilang Terik. Di halaman parkir mobil berderet dan Ferina, putri
seorang boss sebuah perusahaan, dengan tenang melangkah masuk. Melihat-lihat.
Santai. Sesaat matanya menatap sekeliling dan menangka pdua buah bayangan. Juga
sesaat matanya langsung panik.
DENGAN langkah yang juga sedikit panik, Ferina lalu bergegas ke ‘counter’ lain. Di situ ada Haditya. Pemuda tampan ini tak cuma orang kepercayaan di perusahaan ayahnya. Tetapi juga kekasih. Ferina memang mencintai Haditya. Tetapi saat itu Haditya asyik berdua dengan gadis lain, Gina. Mereka “dimadu”, Ferina yang marah langsung menghampiri dan memukul pipi anak muda itu. Dan… “’Cut!’,” teriak Herman Ngantuk.
Betul, itu memang adegan syuting sinetron. Herman Ngantuk menjadi sutradara dan mantan wartawan, Dean Martin Wicaksono sebagai asistennya. Ferina dimainkan oleh Mira Asmara, itu bintang iklan yang mempromosikan bedak Harumsari dan obat Waisan.
Haditya diperankan oleh Andri Irawan, seorang mahasiswa ASTI Bandung dan Gina oleh Arfemine Santya Huzaenal – panggil saja dia Femmy – mantan Putri Parahyangan yang sebelumnya bermain dalam Generasiku (menurut rencana – waktu itu – akan ditayangkan RCTI pada Februari 1995) dan Anak-Anak Kos (yang – waktu itu – akan ditayangkan SCTV).
Dan sebagaimana laiknya syuting di tempat ramai, orang pun sejenak menunda kegiatan. Sebagian malah sama sekali menunda rencna abelanjanya. Termangu-mangu, menonton jalannya syuting. Mereka inilah yang membuat syuting jadi panggung tontonan tersendiri.
Ketika Herman Ngantuk berteriak “’Cut!’,” para penonton ‘tiban’ itu cuma bengong. Tamparan Ferina, eh Mira, pada pipi Andri Irawan dinilai kelewat lemah. Ini buruk jika nantinya ditayangkan. (Waktu itu) akan terlihat ‘etok-etokan’. Maka Herman pun memerintahkan Mira untuk menampar sungguhan.
Maka Herman pun kembali berteriak, kali ini berbunyi: “’Action!’”. Mira pun mengawali sekuen itu. Melihat-lihat etalase. Memandang keliling, sedikit kaget. Lalu bergegas ke arah Andri. Dan: plok! Kali ini menampar betulan. Agaknya, cukup keras, sehingga Andri meringis. Dan, para pengunjung yang menyaksikan adegan itu pun tertawa. Gerr…. “Dipukul beneran tiga kali saja, Andri bisa pingsan,” celetuk seorang kru.
Agar tidak betul-betul pingsan, Herman menginstruksikan agar tamparan diperlemah. Belakangan, setelah beberapa kali ‘take‘ yang diulang-ulang, Andri disuruh melindungi pipinya dengan telapak tangan. Kamera yang (waktu itu) akan menyiasati agar adegan itu tetap terlihat sebagai tamparan terhadap pipi.
DIDUKUNG oleh Robert Syarif, Harun Syarif, dan Lela Monica, sinetron itu diberi tajuk Misteri Pewaris. Dengan skenario yang ditulis Dedi Suryadi, Misteri Pewaris (waktu itu) direncanakan sebanyak 52 episode. Ini memang serial yang produksinya ditangani Esa Production, yang didirekturi Erwin Amril.
Menurut Erwin, Misteri Pewaris bukan produksi pertama Esa Production. Sejak didirikan pada 1992, PH-nya sudah menghaislkan sejumlah sinetron. Pada 1992, misalnya telah diproduksi Balada Kehidupan, Fatamorgana, dan Sukreni Gadis Bali. Ketiganya (sampai saat itu) sudah ditayangkan RCTI/SCTV (kecuali Fatamorgana ditayangkan hanya oleh SCTV saja setelah siaran nasional-red).
Pada 1993, yang juga (waktu itu) sudah ditayangkan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), pihaknya memproduksi Yang Kembali (ditayangkan oleh SCTV pula sebelum mengudara nasional-red), Mawar Di Taman Bunga, Embun Di Tengah Hari, dan Impian Pengantin I.
Tahun 1994 lalu, membuat Liku-Liku Perempuan, Ketika Bulan Pucat Pasi, Sepatah Kata Untuk Tiara, dan Badai Dalam Rumah. Juga 30 episdoe cerita untuk paket Ramadhan yang ditayangkan SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Masih ada lagi (waktu itu), yaitu Impian Pengantin II, yang (kala itu) sedang ditayangkan RCTI setiap Jumat. Cerita ini digarap Amrin Riosa dengan bintang Lucy Dahlia, Harun Syarif, dan HIM Damsyik.
Pada tahun 1995 ini, kata Erwin, beberapa judul (saat itu) segera akan memasuki jadawl syuting. Di antaranya Gadis Kampus (RCTI), yang digarap Amrin Riosa dan direncanakan (waktu itu) sebanyak 52 episode. Juga Mawar Berduri, yang diangkat dari novel trilogi Mira W dengan skneario yagn ditulis oleh Abdul Halim, mantan wartawan tabloid Citra.
Menurut Erwin, (waktu itu) 51 tahun, PH yang dipimpinnya memang sengaja beroreintasi pada nama-nama baru (era itu). “Saya memang ingin mencetak dan melahrikan sutradara atau artis baru,” katanya (waktu itu), di tempatnya menginap, Hotel Panghegar, Bandung, Kamis (18/1/95) lalu. Karena itulah, dipilih Femmy untuk mendampingi Mira dalam Misteri Pewaris. Juga Herman Ngantuk sebagai sutradara.
“Dia pernah jadi astradanya Agus Elias dalam Liku-Liku Perempuan. Dia juga astradanya Darto Joned. Awalnya syuting memang agak lambat, saya pikir karena ia punya konsep yang kelewat idealis. Dia terpaku pada set misalnya. Tak apa, lama-lama lancar. Saya juga tak mau bikin film semaunya, tapi juga tak mau terlalu mikir,” kata Erwin, yang karena bisnis sinetron (belakangan itu) telah memiliki alat ‘editing’ sendiri, di samping 10 mobil berbagai merk.
Erwin mengakui bisnis PH sangat menguntungkan, sedikitnya pada saat itu ketika sinetron sedang ‘booming’. “Tapi perjuangannya nggak mdauh. Perlu kesabaran dan ketabahan. Saya pernah mendapat cacian, pengkhianatan teman, dan sebagainya,” tambahnya.
DI balik cerita sukses Erwin berkat Esa Productionnya, di luar bertiup gosip, manajemen dan keuangan PH ini tidak beres. Di lingkungan pekerja seni sinetron, tersiar isu, pihak Esa tak selalu tepat janji dalam soal pembayaran honor. Permintaan pembayaran honor, syahdan, sering terulur-ulur. Bahkan sebagian mengaku (waktu itu) baru dibayar sebagian dari nilai kontrak yang disepakati.
Hernawan SSA, alumnus ASTI yang (belakangan itu) jadi ‘production manager’ di PH Mega Cinema Production M-Pro, pernah bergabung dengan Esa. Hernawan inilah yang mengasisteni Tatang Sukria dan Maman Firmansyah untuk Sukreni Gadis Bali. Ia juga mengaku terlibat dalam produksi beberapa judul lainnya, yaitu Balada Seniman, Bunga Kampus, Fatamorgana, dan Mawar Di Taman Bunga.
Memang, kata Hernawan, ada kontrak tertulis. Tetapi, pihak Esa tidak membayar honor sesuai perjanjian. “Jika dihitung, kru saya masih punya Rp 3 juta. Diutang sampai sekarang (1995-red) dan kalau ditagih sulit,” kata Hernawan (waktu itu).
Menurut Hernawan, tak cuma dia dan rekan-rekannya yang pernah dikecewakan. Ada beberapa pihak lain, yang menurutnya, honornya (sampai saat itu) baru dibayar sebagian. Hal serupa juga dinyatakan oleh Joko Kurnain, yang ditemui secara terpisah.Joko, yang juga pemain teater lulusan ASTI ini bertindak sebagai penata musik di Sukreni Gadis Bali. Honor untuk kerja itu sampai Januari 1995 tak pernah diterimanya.
Dikonfirmasi tentang itu, Erwin mengakui dalam produksinya pernah terjadi kemacetan dalam soal pembayaran honor bagi para krunya.
“Dulu (sebelum 1995-red) memang pernah macet. Mungkin karena kerja kru tidak bener, kaset saya pernah dikembalikan (pihak RCTI) untuk direvisi. Paling cuma macet pembayaran saya, atau pembayarannya terlambat. Tapi nggak benar kalau nggak dibayar. Itulah yang tadi saya bilang, banyak cobaan dan rintangan yang harus dihadapi,” kata Erwin (waktu itu).
Erwin mengatakan, pembayaran honor memang tak bisa dilakukan dengan serentak. Untuk prdouksi serial misalnya, ia cuma mampu membayar krunya, misalnya sebanyak empat episode dulu. “Tak bisa langsung sebanyak 26 atau 52 episode. Kalau begitu jumlahnya khan besar sekali,” tambahnya.
Ditulis oleh: Giyarno M.H.
Dok. Citra – No. 252/V/23-29 Januari 1995, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar