CERITA DARI LOKASI - INKA CHRISTIE DAN KLIP BARUNYA (1995), BERDANDAN DI DEPAN MARIA MERCEDES (SCTV), MENGALAH PADA "'BOOM' NIKE ARDILLA"

 

Berdandan di depan Maria Mercedes 


Akhirnya, syuting klip video nyanyian baru Inka Christie (waktu itu), Yang Kunanti (ciptaan Ithinx), jadi juga dilaksanakan, 15 Maret 1995 lalu, setelah ngaret berjam-jam dari jadwal yang direncanakan.

Sesuai rencana, sebagian dari mereka yang ambil bagian dalam pembuatan klip itu, termasuk Inka dan Sim yang alias Kondut yang mewakili pihak perusahaan rekaman album baru Inka (era itu), sudah berkumpul di kantor perusahaan rekaman yang bersangkutan (Musica Studio’s-red), di bilangan Perdatam, Jakarta Selatan, sejak seputar pukul 14.00.

Pada waktu itulah, rencananya (waktu itu), mereka sudah harus melaju ke lokasi syuting, setelah Chris Sinyal mengabarkan lewat telepon di mana lokasi syutingnya, yang di Jakarta atau pinggiran Jakarta. Semnetara itu, Chris, sutradara sekaligus kamerawan dari Chris Production yang menggarap klip tersebut, memang sedang mencari lokasi syutingnya – di Jakarta atau pinggiran Jakarta.

NAMUN, tunggu punya tunggu, baru sekitar pukul 16.00, Chris memberitahukan bahwa lokasi syutingnya di Bumi Perkemahan Wiladikta (Buperta), Cibubur.

 

Untung ada lampu mobil 


“’Sorry’, terlambat. Soalnya, saya harus pergi ke tempat lain dulu, untuk urusan pribadi yang penting banget,” tutur Chris, yang menungu di Buperta bersama krunya. Setelah itu, masih ada yang (waktu itu) harus ditunggu: Rudy, sang penata rambut Inka, dan seorang kru Chris yang menjemput kamera video milik perusahaan rekaman tadi yang (waktu itu) bakal dipakai untuk syuting klip tersebut.

Tim kerja klip Inka tergabung di Buperta seputar pukul 16.30. Tapi itu tidak berarti syuting bisa segera berlangsung. Inka harus berdandan dulu (padahal, khan bisa dilakukan sebelum berangkat ke lokasi syuting, ya, kalau memang direncankaan dan dijalankan seusai rencana?).

Inka merias wajahnya sendiri, sementara tata rambutnya yang (waktu itu) baru dipotong pendek demi penampilan baru setelah 1,5 tahun tak merilis album, dikerjakan Rudy. Mereka numpang di ruang tamu kantor pengelola Buperta, di tengah suasana asyiknya beberapa pekerja kantor tersebut menyantap tayangan Maria Mercedes (SCTV).

Tuntas Inka berdandan, termasuk mengekana kostum celana jins, ‘T-shirt’, jaket kulit, ‘boots’, dan topi kulit, syuting pun dimulai di antara pohon-pohon. “Di sini ada pohon-pohon yang saya perlukan, yang daun-daunnya hijau, yang sedikit kering, dan yang kering, sebagai simbol epnantian, sesuai lirik lagunya,” terang Chris.

Biarpun lagi sariawan, berakting tetap oke 


LANTARAN ngaret yang berjam-jam tadi, dan Chris cs tak membawa lampu-lampu (karena memang tidak direncanakan syuting pada petang atau malam hari), syuting cuma bisa dilangsungkan kira-kira sejam, sebelum matahari terbenam. Ketika cahaya matahari meredup, syuting terpaksa dilakukan dengan bantuan sorotan lampu dua mobil.

‘Crane’ (“belalai” untuk mengerakkan kamera secara dinamis, sehingga bisa mendapatkan ‘angle-angle’ yang dinamis pula), yang sudah disewa Chris cs dan dibawa, juga tak bisa dipakai, karena gerimis turun dan, kata Chris, “Saya ngeri kabel-kabelnya korslet kena air.”

Kalau sesuai peraturan dari pihak pengelola Buperta, tarif pemakaian Buperta untuk sekali syuting dalam sehari: 400 ribu perak. “Tapi, kami khan cuma pakai sekitar sejam. Jadi, kami minta keringanan dari pihak pengelola. Masak sih kami harus bayar 400 ribu perak juga? Tadinya sih nggak bisa, tapi akhirnya bisa juga,” cerita Kondut.

Maghrib, rombongan bergerak ke sebuah studio syuting di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Syuting ‘indoor’ tersebut baru dimulai pukul 21.00-an, setelah Inka berdandan lagi. Untuk syuting ‘indoor’ itu, rias wajahnya “ditebalkan” dan tata rambutnya diganti. “Aneh nggak sih?,” tanya Inka yang tak yakin cocok dengan tata rambut tersebut.

“Kayak bu Acin (nama panggilan Indrawati, produser rekamannya, ya?,” lanjutnya, disambut tawa Chris dan Rudy. Ia pun mengenakan kostum lain pilihan Chris: celana jins, kemeja lengan panjang, rompi kulit, dan ‘boots’. Kemeja lengan panjang itu, yang berwarna putih, tidak dibawa Inka ke lokasi syuting dan harus diambil dulu dari Perdatam, karena sebelumnya Chris memang tak merencanakan Inka syuting dengan kemeja tersebut (banyak improvisasinya, ya?).

Syuting ‘indoor’ itu berjalan hingga lewat tengah malam, dan untungnya, boleh dibilang mulus, Inka pun tampak oke dalam berakting. Termausk menggerak-gerakkan mulutnya seusai lirik lagunya yang meluncur dari kaset. Padahal, seperti ucap Inka sembari ber-“sh…sh…” menahan rasa perih, “Saya lagi sariawan nih, gara-gara bibir syaa kegigit.”

Esok harinya, syuting di Buperta dilanjutkan. Namun, gara-gara sebuah alat syuting yang rusak tetap dipaksakan dipakai, banyak gambar hasil syutingnya berwarna kebiru-biruan. Akibatnya, syuting ditambah lagi di Gedung Kesenian Jakarta, 21 Maret 1995, mulai tengah malam.

Klip Yang Kunanti Inka, (belakangan itu) sudah selesai digarap. Tapi sayangnya, pecinta Inka (saat itu) harus bersabar untuk bisa memirsa klip itu. Menurut pihak produser rekamannya, jadwal rilis album barunya (ketika itu), berikut promosinya, termasuk lewat tayangan klip, yang direncanakan mulai April 1995 ini, diundur, gara-garanya: “’boom’ Nike Ardilla”, yang antara lain berupa meledak-dak-dak-dak-nya penjualan album-album sang almarhumah (Nike Ardilla-red).

Ditulis oleh: Ati Kamil

Dok. Citra – No. 263/VI/10-16 April 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer