CATATAN KEHIDUPAN - INDRO WARKOP (BAGIAN 2): "HOBI NGOCEH JADI MODAL MERAUP RECEH"

 Bersama Elvie Sukaesih dalam film Mana Tahan.

Ringkasan Minggu Ketiga Februari 1997:

Setelah lolos dari cengkeraman tumor otak yang nyaris merenggut nyawanya, Kasino semakin menyadari bahwa trio Warkop DKI – plus Rudy Badil, mantan anggota Warkop – adalah satu. Selama Kasino sakit, semua teman-teman ikut mengurusinya. Dalam keadaan sakit, dia memohon pada Tuhan agar jangan mencabut nyawanya sebelum anak-anaknya menikah. Rasa cinta pada dua putrinya itulah salah satu faktor yang membuat Kasino (sampai saat itu) bertahan hidup.

TAHUN 1973 tiap Jumat malam, sebagian pendengar radio swasta di Jakarta menajamkan telinga di gelombang Radio Prambors, untuk mendengar program Warung Kopi Prambors. Acara itu berisi obrolan ngalor-ngidul bernaunsa humor cerdas, yang kendati dibawakan dengan gaya orang kampung, namun jelas mencerminkan intelektualitas para penyiarnya.

Mereka adalah Kasino, Dono, Nanu, Rudy Badil, dan – belakangan – Indro, yang biarpun (waktu itu) masih SMP tapi bisa mengimbangi banyolan rekan-rekannya yang (waktu itu) sudah kuliah di UI. Popularitas yang didapat dari mengoceh di corong radio, membuat mereka mulai kerap diundang manggung. Namun, merasa tak mampu menguasai demam panggung, Rudy Badil mengundurkan diri.

Kepopuleran kian menjulang, setelah mereka muncul di layar TVRI dalam acara Terminal Musikal yang digarap mendiang Mus Mualim. Sejak itu, peluang berkarier di dunia lawak terbuka lebar. Berikut ini, dengan gaya guyonannya yang khas – agak kurang ajar tapi tidak bikin orang marah – Kasino menuturkan bakat melawaknya, yang kian terasah bersama kelompok Warkop.

 


“SAYA lahir di Gombong, Jawa Tengah. Tapi karena ayah saya bekerja di PJKA – jadi sering berpindah-pindah – masa kecil dan remaja saya dihabiskan di tiga kota: Bandung, Jakarta, dan Cirebon. Ketika masih kecil, saya ya bandel. Tapi bandelnya anak-anaklah. Nggak sampai nyusahin orang, begitu. Belum pernah, misalnya, nyolek tai terus dibelepetin ke orang, hehehe. Tapi saya pernah ditendang orang sampai nyusruk.

Ceritanya begini. Suatu hari saya melihat seorang anak yang jalannya pincang. Teman saya bilang, “Bernai nggak lu niru jalannya dia?” Ditantang begitu, saya bilang, “Berani!” Saya nggak tahu, pas lagi meniru, tahu-tahu bapak anak itu sudah ada di belakang saya. Dia marah! Saya ditendang sampai nyusruk! Hehehe.

Masih ada lagi contoh kejahilan saya. Dulu (jauh sebelum 90an-red), ada tukang ramal yang memakai burung gelatik. Biasanya mereka buka praktek di depan bioskop. Caranya, dengan memakai umpan padi, burung-burung itu akan mencabut kartu-kartu ceki buat meramal. Tiba-tiba saya punya ide iseng. Saya bilang ke teman saya, bagaimana kalau kita mencari kucing, buat dilemparin ke tukang ramal itu.

Dengan menggunakan sarung, saya menangkap kucing. Lalu saya bawa buntelan sarung berisi kucing itu ke praktek tukang ramal. Jadi, begitu tukang ramal akan meramal, kucing itu saya lempar. Hup! Burungnya pada terbang, dan saya ngibrit! Hihihi. Saya bilang ke teman saya, tukang ramal itu pasti memaki, “Sialan! Ibarat makan, nasi gue ditumpahin!”

Sejak saya sekolah di SMP 51 Cipinang, saya sudah lucu. Kalau sekolah saya mengadakan tur, ke Bogor, misalnya, saya suka bermain musik dengan beberapa teman sambil guyonan. Kalau manggung, kami nggak punya bahan lawakan.

Biasanya cuma meniru gaya pelawak terkenal. Momon, Us Us, atau Bing Slamet, misalnya, yang sering diundang kalau sekolah kami mengadakan acara perpisahan. Maklumlah, anak kecil khan suka membentuk kelompok. Ada yang pura-pura jadi Momon, jadi Us Us, dan jadi Bing Slamet, begitu.

Setelah lulus SMP, saya sekolah di SMAN 2 Cirebon. Di SMA, saya serius ngeband, nggak pernah melawak sama sekali. Saya nyanyi sambil main gitar, bawain lagu-lagu The Beatles. Selain itu, saya juga sering ngemsi (jadi MC, maksudnya-red) dan siaran di radio sekolah. Biasanya saya siaran sepulang sekolah, sampai jam sepuluh malam, radiusnya sih nggak seberapa.

Dulu (jauh sebelum 90an-red) ada pemeo, lulusan SMA daerah nggak akan bisa masuk UI. Padahal, saya ingin sekali kuliah di UI. Karena itu ketika naik kelas 3 saya pindah ke SMA 22 Jatinegara. Setelah lulus SMA, saya ikut tes ujian masuk UI. Saya diterima di jurusan yang saya inginkan, FHIPK (fakultas hukum jurusan ilmu pengetahuan kemasyarakatan, belakangan itu FISIP-red).

Meski dalam belajar saya terhitung serius (Kasino menyelesaikan gelar sarjana dalam 7 tahun – 5 tahun kuliah dan 2 tahun skripsi – kurun waktu yang lumayan cepat untuk ukuran masa itu, red, saya pun demen main. Sejak tahun kedua kuliah, tahun 1971, saya mulai aktif di kampus. Pada 1973, beberapa saat sebelum meletus Malari, ketua dewan mahasiswa UI, Hariman Siregar, mengadakan perkampungan mahasiswa UI di Cibubur.

Pada acara itu, setiap fakultas mengadakan acara. Nah, fakultas saya punya tukang ngoceh: saya, Nanu, Dono, dan Badil. Seitap malam, kami ngoceh. Kalau kami sudah begitu, orang-orang yang mendengarkan jdai nggak bisa tidur sampai pagi, topik ocehannya seenak kami saja.

Saya kenal Dono dan Nanu nggak sengaja. Kami jdai saling kenal karena sama-sama suka ngocol, gitu aja. Yang namanya tukang nogceh khan kelihatan. Rupanya ocehan kami selama kemping yang berlangsung 4 hari itu jadi bahan pembicaraan di kampus.

Kami punya teman di fakultas ekonomi, Temmy Lesanpura, yang kebetulan kepala ‘programming’ Radio Prambors. Dia punya ide untuk memasukkan kami dalam mata acara Pecinta Alam. Soalnya kami khan anggota Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI.

Rupanya permintaan Temmy disetujui dewan mahasiswa. Ya sudah, kami mulai siaran di Radio Prambors. Nah, karena adanya surat-surat yang masuk, yang meminta kami mengisi satu mata acara khusus, maka dibikinlah acara Obrolan Santai di Warung Kopi Prambors, disingkat Warkop Prambors.

Setelah beberapa lama siaran, kami mulai membentuk karakter sendiri-sendiri. Rudy Badil, jadi bang Cholil dan mister James, orang bule. Indro jadi Mastowi yang beraksen Tegal. Ubai dan Ansori. Nanu yang asli Madiun, jadi orang Batak, si Tulo. Dono jadi mas Slamet. Sedangkan saya kebagian peran paling banyak. Jadi Den Bei, A Cing, A Cong – keduanya orang Cina – dan Buyung, orang Padang. Jadi, seolah-olah yang siaran banyak. Padahal, orangnya cuma itu-itu saja.

 

Gara-gara jahil pernah ditendang sampai nyusruk. 

Warkop Prambors jadi ajang pertemuan. Siapa yang mau siaran, silakan saja. Pernah, George Kamarullah (sutadara-red) ikut siaran, jadi orang Ambon. Sekali siaran, kami dibayar dua ribu lima ratus perak per orang. Untuk ukuran masa itu, lumayan lho. Yang digemari adalah kisah berlatar belakang horor. Biasanya Badil yang mencari bahan yang diperolehnya dari arsip cerita rakyat di fakultas sastra.

Warkop Prambors pertama kali “ditanggap” oleh sekolahnya Indro, SMP 9, dalam acara perpisahan. Waktu itu, tahun 1974. Indro yang masih SMP, nonton kami, yang terdiri dari saya, Nanu, dan Dono. Sebetulnya, waktu itu kami diundang bukan untuk melawak, tapi “siaran di panggung”. Saat itu grup lawak yang sedang top-topnya adalah Johny Gudel cs. Bayangin, kami baru sekali itu manggung, dan langsung main bareng Johny Gudel! Saya sempat deg-degan juga.

Tapi begitu MC bilang, “Inilah Warkop Prambors…”, semua penonton pada sruuuk, mendekat ke panggung! Sebetulnya, mereka bukan ingin mendengar lawakan kami, tapi ingin melihat tampang kami. Mereka penasaran, kayak apa sih, penyiar yang saban Jumat malam siaran di Radio Prambors? Siapa sih, misalnya, yang jadi Den Bei?

Setelah itu, kami mulai sering ditanggap. Tapi, anggota kami masih belum tetap, si Dono, misalnya, kadang ikut kadang nggak. Pernah kami dapat ‘job’, tapi Dono nggak bisa hadir. Nah, karena si Indro sudah mulai ikut siaran, saya tawarin ke dia, “Eh, Ndro, lu mau ikutan ngelucu nggak? Ada bayarannya nih, 15 ribu!” Dia mau.

Ya sudah, saya ajarin dia, “Lu nanya begini, ntar gue jawab begini.” Jadi, ngobrol kilat, gitu. Setelah kami dibayar, dia (Indro) saya kasih lima ribu. “Ini buat saya semua, mas?,” tanya Indro, kayak nggak percaya. Hahaha. Zaman itu, lima ribu perak itu banyak banget! Sebagai perbandingan, sepatu paling keren di Pasar Baru harganya dua ribu perak. Ongkos naik bus, cuma tiga puluh perak. Bayangin, anak sekolah kayak si Indro dapet duit segitu banyak? Bingung khan!

Bahan lawakan kami kebanyakan ‘jokes’, belum menganut pola lempar umpan seperti sekarang (90an-red). Jadi, sementara si Dono, misalnya sedang nge-‘jokes’, saya mikir, mau keluarin cerita apa, ya? Kalau nggak ‘jokes’ politik – yang ini Dono jagonya – biasanya ‘jokes’ yang agak porno. Misalnya, cerita tentang cinta sepasang kambing yang terpisahkan oleh pagar. Kambing jantan namanya Hanibal, yang betina namanya Hani.

Si Hanibal bilang, “Haniiii, gue kangen niiiih.” Kata Hani, “Lompat Hanibaaal, lu khan laki-laki? Ambil ancang-ancang dooong.” Saking kangennya, si Hanibal nekat lompat, teeeeng! Eh, nggak sampai. “Ayo, sekali lagi,” begitu kata si Hani, memberi spirit pacarnya. Akhirnya, ngueeeeeeng, berhasil! Dengan senang, Hani menyongsong Hanibal. Tapi, eh, si Hanibal kok dieeeeem, aja.  “Hanibal, ke sini dong? Kenapa diam saja?”

Kata Hanibal, “Aduh, Hani, jangan panggil gue Hanibal lagi, deh.” “Lho, memangnya kenapa?,” tanya Hani. Jawab Hanibal, “Ya, “BAL” gue nyangkut di ‘pager’.” Yah, ‘jokes’ semacam itulah, hehehe.

Saat kami menamatkan kuliah, honor Warkop sudah Rp 150 ribu. Kendati ada yang bilang profesi ini tidak akan langgeng, kami bersepakat, jika dalam dua tiga tahun tidak bisa diharapkan, barulah kami ‘back to basic’. Setidaknya, ijazah kami masih “laku” buat mencari pekerjaan. Nggak tahunya, rekaman kami meledak. Begitu pula dengan Mana Tahan. Ya sudah, rencana semula kami lupakan. Terusin aja deh, hehehe…”

(Bersambung)

Dok. Bintang – Edisi 311/Th. VI/minggu keempat Februari 1997, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer