CATATAN KEHIDUPAN - CONNIE SUTEDJA (BAGIAN 1), DUNIA FILM PELARIAN ATAS KEGAGALAN BERUMAH TANGGA
Pengantar: Rasanya tak ada pemirsa TV yang tak pernah mendengar ujaran “hebring”. Ujaran yang merupakan jelmaan kata “hebat” dan “heboh”, yang diucapkan dengan logat Sunda yang kental itu, diucapkan Connie Sutedja secara spontan, saat dia memerankan tokoh ibu Entim dalam serial sinetron Pondokan (TVRI). Saking seringnya ujaran itu diucapkan, Connie dijuluki ibu Hebring. Sehingga boleh dibilang ujaran “hebring” menjadi ‘trademark’ Connie Sutedja.
Artis senior kelahiran Tasikmalaya, pada 10 November 1944 ini, anak kedua (dari 9 bersaudara) pasangan Sutedja dengan H. Hadijah S. Nama lengkapnya, Connie Sukarnie Sutedja.
Wanita dengan tinggi 170 cm dan berat (waktu itu) 66 kg ini, di usia yang (sampai saat itu) sudah lebih dari setengah abad, masih mampu mengendarai mobil dengan kecepatan 140 km/jam di jalan tol. Bahkan (waktu itu) masih mampu menempuh jarak Jakarta-Tasikmalaya seorang diri. Perkawinannya dengan Karsana membuahkan seorang putra. Kepada Teguh Yuswanto, ibu Hebring menceritakan perjalanan hidupnya.
“SEJAK kecil saya tidak pnya cita-cita, palagi menjadi pemain film. Tapi saya suka main drama di kali, sambil mandi. Dalam permainan itu, saya suka memerankan Tarzan, seperti di film yang saya tonton. Terkadang, jadi istrinya Tarzan.
Saya masih ingat, pacarnya Tarzan namanya Amelia. Kalau berlari-lari di kali, berbasah-basah, sambil memanggil, ‘Amalia….” Terus, saya jawab, “Ogh….” Tapi saya nggak pernah berpikir bahwa kemudian akan jadi pemain film. Waktu itu saya masih duduk di sekolah dasar (SD).
Di kampung saya, di Tasikmalaya, boleh dikatakan satu daerah itu bersaudara semua. Jadi, famili, ya teman main saya. Salah satu teman main saya, akhirnya menjadi suami saya, yang bisa dikatakan “mengantar” saya ke pintu perfilman.
Sebab, kegagalan dalam berumahtangga, membuat saya terjun ke film. Saya tidak meneruskan sekolah karena menikah. Tapi ternyata pernikahan saya gagal. Jadi, boleh dibilang saya terjun ke dunia film untuk mengisi kekosongan. Saya tidak minat sama sekali sebelumnya. Tapi lama kelamaan dunia film menarik, karena ada tantangan di asna. Alhamdulillah, pelarian saya tidak sia-sia.
Sejak kecil, saya sudah di-‘setting’, kalau sudah besar berumah tangga. Mungkin, kalau tidak gagal dalam berumahtangga, saya tidak pernah ada di film. Kalau dari awal saya berniat main film, tentu tidak akan diizinkan. Kampung saya di Tasikmalaya sangat ketat dengan pendidikan agama.
Dunia film waktu itu masih dianggap tabu. Apalagi keluarga saya termasuk keluarga yang sangat fanatik. Yang nomor satu dalam keluarga saya, jika menginjak dewasa, jadi ibu rumah tangga. Titik. Tidak usah jauh-jauh sekali. Bisa dikatakan, saya mendobrak tradisi yang pada waktu itu.
Sama Usmar Ismail, saya disuruh membaca naskah. Setelah itu disuruh berakting seandainya saya punya pacar, tiba-tiba pacar saya itu pergi berjuang, dan tidak kembali lagi. Jadi semacam dites juga. Alhamdulillah langsung diterima. Cuma, pak Usmar berpersan beberapa hal. Gigi saya khan seperti ada taringnya. Jadi pak Usmar meminta agar gigi saya diperbaiki. Kata orang sih, gigi itu sebagai pemanis. Akhirnya gigi taring saya diasah, dipangur.
Pesan kedua, logat bicara saya harus bahasa Indonesia. Terus, antara suku kata harus jelas. Karena lingkungan saya orang Sunda, susah menerapkan pesan pak Usmar itu. Rasanya lucu kalau di mana-mana saya harus bicara pakai bahasa Indonesia. Akhirnya sampai sekarang (1997-red) logat Sunda saya tetap kental, tidak dapat dihilangkan.
Saya tidak latihan secara khusus. Minggu berikutnya langsung dikasih naskah. Waktu syuting film Anak-Anak Revolusi, astrada (asisten sutradara)-nya sangat kreatif. Film itu bercerita tentang masa revolusi. Jepang sudah kalah perang, tapi belum menyerah.
Seorang bocah berusia sekitar 14 tahun memaksa masuk tentara, ia ingin menebus perbuatan ayahnya yang dibuang ke Nusa Kambangan karena membunuh. Maka perbuatannya jadi berlebihan dalam segala hal. Melihat ini, komandan pasukan mengangkatnya jadi kepala seksi. Anak buahnya orang-orang dewasa.
Ia minta tugas-tugas yang nekad. Dan kalau perlu mengabaikan tugas, bila menurut pikirannya benar. Akibat tindakannya ini, salah seorang anak buahnya meninggal. Ia pun terluka. Pacar anak buahnya tadi lalu minta ikut ke garis depan. Gadis itu jgua meninggal, karena kenekadan yagn ditunjukkan si bocah. Semetnara sang gadis terangsang untuk berbuat yang sama.
Waktu itu saya berumahtangga semata-mata demi mengabdi pada orangtua. Jadi, langkah-langkah yang saya lakukan sebagian besar untuk menyenangkan orangtua. Setelah saya berusaha sekuat tenaga menyenangkan orangtua, dnegan mengikuti apa yang jadi kehendak mereka, seperti perkawinan saya dengan suami saya (Karsan-red) atas perjodohan dari pihak keluarga, dan ternyata gagal, kini (1997-red) saya berusaha untuk menyenangkan diri saya sendiri.
Saya ingin melakukan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan hati nurani. Tentang sebab-sebab kegagalan perkawinan, saya tidak mau cerita, karena itu terlalu pribadi. Dan lagi, saya masih ada hubungan saudara dengan suami saya.
Untuk menjawab keinginan saya, untuk mengisi kekosongan dan kejenuhan, akhirnya saya ikut kontes Ratu Scooter, yang diadakan dalam rangka hari ulang tahun divisi perang, bikin film perang terus. Saya menjadi terkenal. Terus diajak main film lagi dengan jenis film yang sama, oleh bapak Turino Junaedi. Judulnya Maju Tak Gentar. Sesudah itu berturut-turut ada yang mengajak lagi. Di antaranya Nya Abbas Acup. Judulnya Langkah-Langkah Di Persimpangan.
Saya memimpikan main film seperti yang pernah saya mainkan ketika bermain di kali. Tapi saya selalu dapat peran yang keras saja. Ketika memerankan film-film yang termasuk kategori laga, saya berharap dapat memerankan film drama Siliwangi Jawa Barat, tahun 1964. Saya berhasil merebut juara pertama. Inilah pembuka jalan saya main film. Pertama kali saya main di film Anak-Anak Revolusi.
Berkat jasa wartawan, saya dimuat di majalah-majalah dan koran-koran. Wartawan bertanya, “Kalau ada yang mengajak main film, mau apa nggak?”
Terus waktu itu saya jawab, “Ya coba-coba, boleh saja.” Kebetulan, bang Usmar Ismail (sutradara terkenal saat itu), sedang mencari pemain baru yang punya postur tubuh tinggi dan langsing, untuk memerankan Laskar Wanita. Waktu pak Usmar baca koran yang memuat tulisan tentang saya, dia langsung menyuruh anak buahnya mencari alamat saya. Mereka mencari ke Tasikmalaya. Setelah ketemu, langsung di-‘interview’.
Film yang akan dibuat, syutingnya di Bandung Selatan, daerah Soreang. Aktor-aktor yang terlibat dalam film pertama saya, di antaranya Wahab Adi, Sukarno M. Noer, dan Rachmat Hidayat. Saya melihat mereka main kok sangat menjiwai sekali? Saya sangat senang melihat mereka main. Sementara yang baru terjun seperti saya dan Arman Effendy dari Garut. Kebanyakan pemain dari Bandung.
Saya diwawancarai langsung oleh yang ada sedih, tangis, bagiamana aktingnya, dsb. Di sinetron Pondokan, itu termasuk drama komedi, bukan drama yang serius. Saya kepingin main dalam film drama yang menguras air mata, seperti dalam film si Pincang. Saya sangat sedih, sampai nangis. Nah, film seperti itu yang ingin saya perani.
Akhirnya, berangkat dari film perang, saya malah ditawari film silat. Waktu itu sangat sulit menjadi pemeran utama. Yang jadi pemeran utama selalu laki-laki, sementara wanita dijadikan pemeran pendamping. Nah, kali ini yang jadi tokoh sentral benar-benar wanita. Judul filmnya, Singa Betina Dari Marunda. Saya memerankan tokoh si Mirah. Ceritanya tentang janda kembang dari Mraunda yang jago silat. Sutradaranya Sofia W.D. (almarhumah).
Setelah main di beberapa film silat, saya lantas main di film jenis “hantu-hantuan”, seperti Guna-Guna Istri Muda, Nenek Grondong, Nenek Lampir. Setelah itu lari lagi ke film jenis komedi seperti Benyamin Biang Kerok, Benyamin Tukang Ngibul, dan masih banyak lagi. Tiba-tiba film sepi, tapi Taufik Ismail bikin gebrakan dengan membuat film komedi. Bintangnya Benyamin S, mak Wok (Wolly Sutinah), dan Hamid Arief.
Dalam setahun, saya membintangi 4 buah film. Sedang kontrak saya dalam 1 film sekitar 3 bulan. Belum sempat satu kontrak selesai, sudah dapat peran baru lagi. Hasilnya juga lumayan. Dari film Benyamin, saya bisa beli mobil. Kalau film besar khan honornya tidak seperti sinetron. Lumayan, bisa buat beli sesuatu, bisa untuk beli rumah, bisa buat modal dagang, dan lain-lain. Ketika berperan dalam film serial Benyamin, di situlah saya merasakan ada hasilnya.”
Dok. Bintang – Edisi 305/Th. VI/minggu kedua Januari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar