BULAN MADU KOK BEGITU, BULAN MADU PAK SARMUN TERANCAM (SARANA ANGKUTAN RAKYAT, SAR, RCTI - SETIAP JUMAT Pk: 20.00 WIB)

 RAHASIA. Pak Sarmun merahasiakan perihal skorsing yang dialaminya, saat istrinya terkejut melihat suaminya pulang lebih awal.

PROMOSI, PAWAI. Minggu, 2 Juli 1995 lalu, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) mempromosikan serial Sarana Angkutan Rakyat (SAR) dengan mengajak seluruh pendukung serial SAR seperti Mandra, Basuki, Triman, Barkah, Aminah Cendrakasih, mengadakan pawai keliling ke seluruh pelosok Jakarta, diiringi ratusan tukang ojek. Sebuah model promosi yang unik.

“Saya jamin SAR lebih bagus dan akan meledak,” ujar penulisnya, Harry Tjahjono. Alasan Harry, penggarapan SAR dilakukan secara serius. “Saking seriusnya, sampai-sampai Basuki dilarang membanyol, sesuai dengan tuntutan skenario. Sekaligus membedakan karakter mas Karyo (peran Basuki dalam Si Doel Anak Sekolahan yang juga diputar RCTI-red) dan pak Sarmun,” ujar Harry.

Di episode kedua ini, pak Sarmun (Basuki) tidak diperkenan mengajar karena mempunyai kerja sambilan sebagai tukang ojek. Bagi pak Ruby (Jaya), kepala sekolah, yang dilakukan pak Sarmun bisa merendahkan martabat guru. Skorsing itu tentu saja menggelisahkan pak Sarmun. Agar istrinya, Sri (Nunung) tidak gelisah, pak Sarmun tak menceritakan skorsing yang dia terima.

Pagi-pagi, pak Sarmun seperti biasa bersiap berangkat kerja. Tapi kali ini, dia berpura-pura. Perginya dia ke sekolahan tidak lain untuk menemui pak Ruby untuk minta penjelasan. Tapi sayang, pak Ruby tidak berada di tempat. Dengan perasan kecewa pak Sarmun kembali ke rumah. Sri tentu saja terkejut melihat suaminya pulang lebih awal. Tapi pak Sarmun tetap saja merahasiakan.

Problem pak Sarmun makin bertambah ketika pak Sastro (Triman), mertuanya, mengatakan ingin menetap di Jakarta, karena dia dan Didik (Didik Nini Thowok) akan diajak Barkah (Subarkah) melamar menjadi badut.

Selain itu, pak Sastro juga ingin bertemu dengan kawannya yang telah sukses hidup di Jakarta. Kehadiran mertua dan adik iparnya, ditambah dengan Barkah, Jejen (Mandra), pak Khidup (Nazar Amir) yang suka nonton televisi di rumahnya, membuat pak Sarmun terganggu. Bulan madu yang dirancang dari awal, gagal total. Bulan madu kok ribut melulu, ya pak Sarmun?

Ditulis oleh: Adi Pamungkas

Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer