BUAT KAKAK YO DAN ADIK LIONG, SELAMAT.... BAHAGIA, SELAMANYA....
Kemenangan cinta tulus, kesetiaan yang mulus, kemesraan yang halus, yang banyak didambakan. Justru di saat begitu mudahnya, kita mendengar soal kawin lagi, cerai lagi, patah hati lagi, kumpul kebo, ganti pasangan semudah ganti sepatu, berantem dan salah paham.
Mereka berdua seakan mewakili Impian. Lalu, apa komentar Andy Lau tentang sukses Return? Kenapa dia (belakangan itu) mengaku sangat lelah? Juga ada pesan khusus dari manajernya untuk para penggemar Andy Lau di mana saja berada. Semua ada di halaman 8-9 (Bintang No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995), dan catatan kesuksesannya di halaman B yak.
Andy Lau = Saya Lelah…
FISIK, FOTO. Kalau saya bilang saya lelah, orang pasti
mengira saya lelah karena main film. Padahal, bukan. Saya telah batin. Saat
syuting, fisiklah yang menunjang hingga bisa terus. Bagi saya lelah fisik tak
jadi soal. Kebugaran, terus saya jaga. Sebelum tidur biasanya saya berolahraga
lompat tali. Minimal 15 menit. Sehabis itu mandi, lalu tidur. Soal gosip yang
tak henti-hentinya, itulah terutama yang membuat saya lelah batin.
Saya ingat, 1992, waktu syuting di Kanada, tiba-tiba tersiar kabar saya menikah di sana dengan Carol Chu Lie Chien, gadis Malaysia. (Tentang gosip ini, sumber BI asal Malaysia yang bekerja di TVB Hongkong membenarkan. “Kebetulan saya bertetangga dengan gadis yang disebut pacar Andy itu,” ujarnya dari seberang sana). Tentu saja saya kalangkabut karena tidak merasa melakukan. Saya lelah harus menjelaskan pada banyak orang. Sangat mengganggu.
Akhirnya begitu tiba kembali di Hongkong, saya bersumpah. Barulah mereka percaya. Tapi ada juga yang menyalahkan. Mereka menganggap saya berlebihan. Bukankah seorang artis tak lepas dari gosip? Jadi, anggap semua gosip angin lalu. Gosip lainnya soal penggemar. Katanya, fans saya dan Leon Lai sering berantem. Mengada-ada saja. Saya orang yang paling cinta damai. Tak perlu ribut hanya masalah sepele, seperti waktu saya datang ke Jakarta.
Banyak penggemar berebut foto. Ada beberapa yang terkena hardikan petugas. Saya marah. Asalkan tahu diri, biarkan saja mereka. Toh, dukungan mereka menunjang diri saya. Belakangan ini ada lagi gosip soal saya dan Rosamund Kwan. Katanya, Kwan akan segera mengangguk setuju bila saya lamar. Kwan nggak pernah bilang begitu, kok. Itu bisa-bisanya para kuli tinta Hongkong aja.
Kalaupun benar, Kwan pasti akan saya lamar, tapi nanti. (Orang dekat Andy di Hongkong membantah, bukan Andy yang naksir dan mengejar Kwan, tapi sebaliknya. “Andy lebih suka mengejar cewek. Makanya dari dulu (jauh sebelum 1995-red) hubungannya dengan Kwan begitu melulu, sebatas teman,” katanya.
“Setahu saya, Andy ogah punya cewek yang melebihi dirinya. Lagipula ia datang bukan dari keluarga berada. Paham bagaimana sulitnya hidup serba kekurangan. Sedang Kwan karena ayahnya dulu (jauh sebelum 90an-red) atis top sejak kecil, terbiasa hidup mewah. Mantan suaminya juga pengusaha kaya. Rata-rata teman prianya dari kalangan berkocek tebal. Kalau mau dihitung harta, Kwan lebih tinggi setingkat,” tambahnya (waktu itu).
Soal privasi, juga kadang melelahkan. Saya butuh waktu untuk pribadi, di mana tidak adaa wartawan dan juru foto dengan hujanan ‘blitz’. Semua gerak-gerik saya diabadikan. Kadang saya keberatan. Kalian juga nggak bakal mau khan kalau misalnya difoto pada saat menguap.
Minimal kalau mau motret, tanya dululah. Kalau urusan kerja, misalnya di tempat syuting, di panggung konser, atau di acara jumpa pers, saya nggak akan nolak difoto. Di Jakarta saya senang, tak mengira penggemar akan begitu banyak. Bahkan berdatangan dari luar daerah. (Tapi, selama di Jakarta, terhitung beberapa kali Andy menampakkan wajah dingin saat diminta foto bersama penggemar.
Pasalnya, waktu itu dia tengah bersantai, berenang dan fitnes di hotel, tempatnya menginap). Orang-orang sering heran melihat saya begitu giat kerja. Tapi ya beginilah. Kerja sudah jadi kegiatan rutin dalam hidup saya. Kerja segalanya. Karena kerja, saya bisa dekat dengan keluarga, teman, penggemar. Itu memberikan perasaan nyaman. Saya jadi tahu, pengorbanan saya tak sia-sia.
Apalagi melihat antusiasme penggemar. Itu hiburan di saat saya lelah. Saya yakin mereka selalu mendukung. Saya paling terharu mendengar mereka bilang, “Andy, kami mendukungmu sepenuhnya!” Wah, itu luar biasa! Saya yakin mereka jujur. Itu yang saya suka. Kehadiran mereka membuat hidup saya meriah. Tapi ngomong-ngomong, semua melihat saya hanya pada sisi gemilang. Mana mereka tahu bagaimana pengorbanan saya untuk meraih semua itu?”
Film Bisa Diatur, Tapi Hidup Tidak
ANTAR, AKTING. “Waktu kecil, mendengar orang berkata
kehidupan bagaikan sandiwara, saya menganggap pastilah orang itu pandai, bijak,
sudah banyak makan asam garam. Tapi kemudian pendapat itu berubah tatkala kami
sekeluarga pindah dari daerah Tai Po ke Chan Sek Shan.
Saat itu papa membuka kedai makan, di dekat studio syuting film. Setiap pulang sekolah, saya selalu bantu mama cuci piring, mengantar pesanan makanan. Banyak sekali bintang film terkenal, pesan makanan di tempat kami, dan sayalah yang mengantarnya. Sambil bekerja saya sering keliling studio, melihat-lihat. Saya paling kagum dengan Bobo Feng Pao Pao. Dalam sehari ia bisa main beberapa serial. Baru pakai baju silat kuno, sebentar sudah ganti dengan kostum modern.
Wah, saya salut dan sempat membayangkan bagaimana kalau jadi seperti dia. Rasanya enak. Kini (1995-red) setelah mencicipi sendiri, semua tak enak tak bebas. Tapi ada hikmahnya, saya jadi merasakan betapa berharganya hidup ini. Kehidupan tak ada skenario, semua yang terjadi tak bisa dihentikan.
Suka tak suka, tetap harus dijalani. Film masih bisa diatur, diperbaiki. Sedang kehidupan, kalau sudah terjadi, tidak bisa diapa-apakan lagi. Makanya kita harus pandai-pandai memutuskan sesuatu dalam hidup.
Pertama kali membuat keputusan besar dalam hidup, saat saya duduk di sekolah menengah tahun kelima. Saat itu di tangan saya sudah terpegang formulir pendaftaran kursus akting. Saya bingung, meneruskan sekolah yang tinggal 2 tahun, atau ikut krusus? Jika tetap sekolah, apakah sesuai dengan kata hati saya? Saya bertanya dalam hati, saya suka kehidupan yang bagaimana?
Ketika saya putuskan ambil kursus akting, papa hanya bilang, “Apakah kamu sudah yakin?” Saya mengangguk, papa pun menangguk. Dalam hati saya bersorak, cihuiiii, saya sudah dewasa. Sudah bisa ambil keputusan. Kursus akting di TVB ternyata sangat ketat. Bila dalam ujian yang diadakan 3 bulan sekali nilainya jelek, kita tak diperkenankan ikut lagi. Jadi artis memang susah-susah gampang.
Banyak yang bilang honor saya kini (1995-red) selangit. Rasanya tidak juga. Atau karena mereka mendengar gosip, untuk main iklan arloji Titus kemarin (sebelum Juli 1995-red) saya dibayar dengan angka mencapai 7 digit. Melebihi bintang iklan sebelumnya, Dave Wang Cie dan Aman Chou Yun Fa. Kalau itu betul, saya rasa pantas. Begitu banyak adegan berbahaya dan saya tidak menggunakan pemeran pengganti.
Kesan saya terhadap Susan (Susan Bachtiar, model Indonesia yang mendampingi di iklan itu)? Dia orang yang cerdas dan berani. Kami sempat deg-degan waktu pengambilan adegan berdiri di atas kereta api (di Sukabumi) dan akan melewati terowongan selama 3 menit.
Oh ya, dalam iklan ini kami menggunakan latar musik salah satu lagu Indonesia. Sebetulnya, saya ingin memasukkan salah satu lagu dari Memories Andy Lau menjadi lagu tema iklan. Tapi ‘setting’ tahun dalam iklan itu tak cocok dengan lagu saya.”
Ingin Meringankan Beban Sesama
GEMAR, PAMER. “Awal Juni lalu (1995-red) di bawah kantor
Andy World Club telah dibuka ruang pamer. Isinya segala sesuatu yang berkaitan
dengan diri saya selama berkecimpung di dunia film. Jadi apapun yang pernah
kamu lihat menyangkut diri saya, pasti terpajang di sana. Juga foto-foto mulai
dari pertama kali saya terjun hingga sekarang (1995-red). Kalau dilihat lagi,
lucu deh. Saya tak punya tujuan apapun untuk itu. Sekadar ingin lebih
mendekatkan diri pada penggemar.
Buat yang ingin mengkoleksi, tak perlu lagi kesulitan mencari, bisa langsung datang. Tapi tak semua dijual. Kadang ada yang kita sendiri sulit peroleh. Perlu saya jelaskan juga kenapa sekadar masuk ke ruang itu harus bayar 30 dolar Hongkong.
Soalnya, uang yang terkumpul itu akan saya salurkan ke yang memerlukannya melalui yayasan sosial milik saya. Untuk hasil penjualan, saya belum memutuskan. Saya melakukan ini hanya untuk meringankan beban sesama. Hati ini gampang trenyuh lihat bocah-bocah kecil yang harus banting tulang pada usia dini.
Tanggal 23 Juni lalu (1995-red) di Singapura, saya memperoleh penghargaan untuk imej pemuda paling sehat tahun ini (1995-red). Di sana pula saya ikut berkampanye anti rokok yang dicanangkan pemerintah. Senang rasanya berhasil mengajak masyarakat memperhatikan kesehatan.
Sebelumnya, saya juga perokok berat, lho. Sejak beberapa tahun lalu saya memutuskan berhenti. Saya sadar kesehatan paling berarti. Kini (1995-red) saya lagi diet, makan pagi dan malam dikurangi. Biasanya makan siang saya suka nongkrong di restoran Jepang.”
PESAN BUAT PARA PENGGEMAR, DARI MANAJER ANDY LAU
1995, setelah jadi manajer Andy, ia tetap jadi perhatian. Satu pesan yang ingin disampaikannya. “Siapapun kamu. Sebaiknya tak perlu menunggu Andy hingga larut malam. Utamakan sekolah.” Selain Chan, (waktu itu) masih ada dua lelaki yang setia menemani Andy. Yang satu Alex, manajer, yang mirip tokoh kartun Bert. Satu lagi supir, Simon. Sebetulnya itu bukan nama aslinya. Andy menamainya.
SOAL RETURN…: “BAGUSLAH, SEMOGA ADA MANFAAT YANG BISA DIPETIK”
BALAP. Dalam film terbarunya (kala itu), Andy Lau berperan
sebagai seorang pembalap motor.
Semua pada nongkrong di depan teve menunggu tayangan serial Return. Saya sempat terperanjat ketika tahu para penggemar mulai menyukai saya sejak nonton serial itu 10 tahun silam (1985-red). Geer juga yah.
Di sini (Hongkong), serial itu juga mendapat sambutan baik. Begitu juga setiap diputar ulang. Masyarakat seperti tak bosan-bosannya menonton. Padahal itu khan sudah sepuluh tahun lewat (1985-red). Saya benar-benar terharu. Suatu penghargaan besar bagi pribadi dan karier saya. Wah, rupanya bukan cuma di Hongkong yang berharap saya jadi dengan pemeran bibi Liong alias Idy Chan.
Di Indonesia juga banyak yang berkeinginan begitu? Tapi, yah, nggaklah. Itu khan cuma di film. Tapi kalau ditanya berharapkah saya punya istri seperti bibi Liong? Tentu, cantik, baik, dan pintar. Dan satu lagi, saya berharap punya istri yang tinggi badannya tak beda jauh. Biar memandangnya enak, hehehe…
Sekalian saya mohon maaf. Karena kesibukan saya – harus syuting ke Filipina, Taiwan, dan Singapura, tak bisa berkunjung lagi Juni lalu (1995-red). Tapi yakinlah, saya pasti akan memasukkan ke agenda jadwal kunjungan ke Indonesia. Kapan itu, saya masih belum bisa utarakan. Bisa untuk berlibur atau urusan kerja. Sungguh saya ingin berbagi gembira bersama kalian…. Akhir Juli (1995-red) saya akan mengeluarkan album berbahasa Mandarin dan akan melakukan promosi di Taiwan.”
Ditulis oleh: Funnywati Sucipto/Mayawati Halim
Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juni 1995, dengan sedikit perubahan








Komentar
Posting Komentar