BONUSCITRA - TVRI STASIUN YOGYA DIANCAM, MAU DIBAKAR!
SAAT menayangkan paket ketoprak dengan lakon Ketlikung (Senin, 25 Mei 1992, 18.30 WIB), tiba-tiba TVRI Stasiun Yogyakarta menerima telepon dari seseorang. Yang intinya minta agar siaran ketoprak tersebut dihentikan saja. Kalau tidak, si penelepon mengancam akan membakar TVRI stasiun kota gudeg.
Konon, alasan si penelepon yang tidak mau mengaku identitasnya, ia berkeberatan dengan penokohan ‘resi’ yang ditampilkan dalam lakon tersebut. Soerang ‘resi’ kok mau memperkosa muridnya? Padahal, seharusnya khan tidak begitu. Apalagi dengan dipakainya kostum jubah dan surban putih yang identik dengan figur kyai. Jadi, kurang etis. Kurang relevan dengan sosok resi sesungguhnya.
Adanya ancaman tersebut dibenarkan oleh Sujadi mewakili kepala stasiun yang kebetulan tidak ada di tempat. “Kalau itu masalah moral ya memang kita perlu kaji lagi. Apakah ada penyimpangan dari naskah asli atau tidak. Kalau ternyata ada penyimpangan dari naskahnya, mungkin memang ada tambahan dari pengarah acara ataupun dari sutradara yang menanganinya. Tapi biasanya kalau ada penambahan naskah saya pasti tahu sebelumnya,” kata kasie siaran TVRI Yogyakarta ini.
Kemunculan ‘resi’ yang berwatak demikian ternyata oleh penulis naskahnya, Samsuri TB memang diakui sebagai gambaran dari realita yang ada.
“Sekarang (1992-red) khan banyak dukun-dukun cabul yang janjinya mau menolong tapi akhirnya justru mengkurangajari si pasien. Dan memang peristiwa semacam itulah yang mendasari penokohan ‘resi’ tersebut. Dan lagi, sebetulnya ‘resi’ itu khan hanya nama sesebutan saja. ‘Resi’ diambil dari kata ‘resik’ (Jw) yang artinya bersih lahir batinnya. Tapi tingkah laku seseorang itu khan beda-beda.
Seperti halnya di dunia pewayangan. Ada ‘resi’ Bisma yang berwatak jujur, digdaya layaknya seorang pahlawan. Tapi ada juga ‘resi’ Durna dalam gaya pewayangan Yogyakarta yang sukanya mengganggu ketenteraman. Jadi, meski sebutannya sama yaitu ‘resi’, tapi belum tentu perwatakannya juga sama. Artinya ada ‘resi’ yang berperilaku baik dan ada pula ‘resi’ yang berperilaku jahat. Seperti halnya gambaran ‘resi’ Cakrawangsa,” kata Samsuri di rumahnya.
Di salah satu adegan yang naskah aslinya berjudul Tenung Wuyung, oleh Samsuri memang sengaja dimunculkan tokoh ‘resi’ Cakrawangsa yang jatuh hati dengan gadis desa, Asih. Begitu mau dikurangajari, asih menghindar, lari. “Jadi, bukan diperkosa. Jadi hanya dikurangajari saja.
Menurut saya, yang namanya ‘resi’, ‘begawan’, dan ‘pendita’ itu khan sebetulnya manusia juga. Padahal yang namanya manusia itu khan tidak lepas dari angkara murka, kekhilafan dan lain sebagainya. Jadi, saya rasa penggambaran tokoh ‘resi’ Cakrwangsa itu ya sah-sah saja tah,” tambah Samsuri T.B.
Lalu, soal kostum ‘resi’-nya, Samsuri menyatakan, “Menurut pengamatan saya, kostum ‘resi’ di ketoprak manapun ya begitu itu. Maka saya menganggap kostum ‘resi’ yang demikian itu lumrah saja. Jadi saya tidak punya motivasi yang menjurus ke arah negatif.” Hal yang sama juga diperkuat oleh Sujadi dan Heruwati, pengarah acaranya. “Dari pak Singgih (S.H. Mintardja-red), selaku pakar ketoprak di Yogya, saya pernah diinofmrasikan bahwa kostum ‘resi’ ya demikian itu.
Jadi, menurut saya, kostum yang dipakai ‘resi’ Cakrawangsa itu tidak mengada-ada,” jelas Sujadi di ruang kerjanya. Lebih lanjut Sujadi juga menyayangkan, kenapa penelepon gelap itu tidak mau membuka dialog dengan pihak TVRI Yogya. “Padahal khan kami ini mau saja dikritik. Kami terbuka untuk itu. Jadi akan lebih bertanggung jawab jika si penelepon gelap mau mengidentifikasikan dirinya. Khan lebih ‘fair’ ta.”
Ditulis oleh: Atok Sugiarto
Dok. Citra – No. 114/III/3-9 Juni 1992, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar