BONUSCITRA - TELEVISI BAGUS UNTUK ORANG DEWASA, TAPI BAHAYA BAGI ANAK

 

TELEVISI memperluas pengetahuan anak-anak (era itu). Memberikan informasi secara menarik dan lucu, sehingga dengan cepat dapat menduduki tempat utama di rumah. Televisi dapat meningkatkan minat dan kemampuan membacaa di kalangan anak-anak (era itu), tapi sebaliknya, bisa merusak minat dan kemampuan itu. Hal ini tergantung seberapa banyak media elektronik ini menyodorkan program acara yang dapat mendorong dan mengembangkan minat anak (era itu) untuk membaca.

Hal tersebut terungkap beberapa waktu sebelumnya dalam sebuah seminar di kompleks TVRI Senayan, Jakarta. Seminar itu menmapilkan pembicara Takhashi Katsuo dari Jepang, DR. Ada Huag dari Norwegia, Prof. Rhonda M. Bunbury dari Australia, Drs. Ishadi S.K., M. Sc. (mantan direktur televisi, belakangan itu kepala pusat litbang Deppen), dan Drs. Suyadi (dalam film boneka si Unyil – diputar TVRI, red – mengisi suara pak Raden).

MENURUT Ada Huag, televisi sebagai media mampu memberi penerangan, memberi dorongan, dan memberi hiburan bagi penonton. Bagi anak-anak (era itu), televisi harus menjadi alat dan bukan mainan. Karenanya, acara televisi harus mampu mendorong anak (era itu) untuk mencintai dan membaca buku. Karena lewat bukulah daya kreativitas dan fantasi anak dapat berkembang.

Sementara Prof. Rhonda M. Bunbury menyatakan, televisi mampu menjadi sarana pengganti sejumlah waktu luang yang sebelumnya dilakukan oleh anak-anak (era itu). Misalnya mengerjakan tugas rumah, membaca, mendengarkan radio, menonton film di bioskop.

Ishadi, yang tampil dengan tema “Televisi dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan Keluarga Anak” menyatakan, baik-buruk dan negatif-positifnya dampak televisi terhadap anak-anak (era itu), sebagian besar tergantung dari partisipasi anggota keluarga. Karenanya, komunikasi dalma keluarga merupakan filter yang amat kuat.

Ishadi berharap agar pihak televisi (TVRI, RCTI, SCTV, TPI-red) mampu meningkatkan kualitas tayangannya. Sementara para pendidik, (saat itu) sudah waktunya melibatkan dan memberi masukan terhadap acara televisi untuk anak.

“Seandainya mereka yang merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan anak mampu memberikan naskah yang baik untuk acara televisi, seperti sandiwara anak-anak, cerita anak-anak dan semacamnya, maka pengaruhnya akan lebih besar jika dibanding hanya sekadar mengkritik,” ujar Ishadi (waktu itu).

SOAL dampak televisi, Takahashi Katsuo menyatakan, televisi adalah barang yang tidak berbahaya bagi orang dewasa (era itu), tapi amat berbahaya untuk anak-anak (masa itu). Televisi mengajarkan hal-hal baru (kala itu) yang sebelumnya belum pernah ada dan dilakukan masyarakat menurut ukuran umum. Dan bagi anak (era itu), televisi memperluas pengetahuannya. Kelebihan lainnya, masyarakat (waktu itu) tak bisa menolak daya televisi yang begitu ampuh.

Karenanya, para orangtua (waktu itu) perlu waspada, karena televisi dapat menyebabkan anak (era itu) kehilangan kebiasaan membaca. Katsuo menyarankan agar acara-acara khusus untuk anak diciptakan oleh spesialis di bidang pengasuhan dan pendidikan anak. “Stasiun televisi khusus untuk anak-anak” amat diperluakn, yang sebaiknya ditangani oleh orang-orang yang berbakti untuk kemajuan dan kepentingan anak yang bebas dari persaingan dan konflik kepentingan.

Sementara Suyadi (pak Raden-red) yang tampil dengan tema “Film Animasi dan Film Boneka dalam Kaitannya dengan Promosi Minat Baca”, menyarankan agar mata acara itu bisa menggugah dan mendorong minat anak (era itu) untuk membaca. Namun, menurutnya, (belakangan itu) film animasi dan boneka belum secara optimal mampu menumbuhkan minat baca. Perlu banyak upaya agar tidak hanya menghibur, tapi juga menumbuhkan minat baca.

Ditulis oleh: Sigit Wahyana

Dok. Citra – No. 125/III/19-25 Agustus 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer