BONUSCITRA - TEGUH KARYA MENCEPLOOKAN TELUR PENCURI DI RUMAHNYA

Teguh Karya: “Hiduplah sebagai manusia yang peduli pada sesama” 

MESKI lahir dengan nama Liem Tjoan Hok, Teguh Karya lebih merasa sebagai orang Banten. Di tanah kelahirannya, Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937, ia memiliki seorang nenek pribumi, Saodah, kelahiran Bekasi, dan seorang sahabat, mang Dulapa, sais delman yang membawanya pulang-pergi ketika duduk di bangku SD. Teguh hijrah ke Jakarta ketika masuk SMP. Ia numpang di rumah pamannya, Engku Dek, pedagang kelontong.

Anak pertama dari lima bersaudara ini mulai menjadi buah bibir setelah sukses meraih Piala Citra lewat Wajah Seorang Laki-Laki, 1977. Keberhasilan ini seakan membuka jalan bagi teguh untuk merebut Piala Citra di setiap ajang festival film. Tidak salah jika di kalangan insan-insan film, Teguh dijuluki sebagai “pencetak” Piala Citra.

Di almarinya terdapat (waktu itu) 62 Piala Citra berbagai kategori dan tahun. “Sebenarnya saya tidak pernah peduli, dan saya pun tidak tahu berapa Citra yang pernah saya dapat,” tutur lelaki yang sampai saat itu masih membujang ini. Jumlah itu baru diketahuinya, setelah ditaya seorang wartawan asing. “Bner lho, kalau wartawan itu tidak tanya, saya tidak tahu jumlahnya.”

Meski pendidikan seni diperolehnya dari Akademi Seni Drama & Film (ASDRAFI) Yogyakarta, Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), dan mendalami ‘art directing’ pada East West Centre di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, tapi Teguh mengaku tidak pernah mendapat pendidikan sinematografi ini secara utuh. Ia memang tidak begitu peduli dengan gebyar sandangan pendidikan formal yang pernah dialaminya. “Apalah artinya pendidikan itu, kalau ilmunya tidak dihayati dan diamalkan?”

Ini hanya sekadar contoh Teguh melihat realita kehidupan. Kehidupan, baginya sekadar sarana untuk menguji kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar. “Saya ingin merangkul mereka, saya tidak bisa hidup tanpa lingkungan sekitar, dan saya tidak bisa bicara soal kemiskinan sambil minum bir atau kopi di ‘coffee-shop’,” jelasnya.

 

















































































SINETRON Arak-Arakan yang (waktu itu) akan ditayangkan di TVRI, 28 Agustus 1992, sebagai misal. Sinetron yang naskahnya ditulis Teguh, diangkat dari realita kehidupan penggali pasir dengan seabrek ‘uborpmpe’ yang dihadapi. “Di sinetron ini saya hanya ingin ngomong bahwa pasir itu penting, seperti juga sawah. Tapi kalau ada tanah yang ‘digrowongi’, lalu bagaimana nasib sawah?,” tutur Teguh.

Meski tak pernah koar-koar di media massa, tapi sebenarnya banyak sudah yang (sampai saat itu) dilakukan Teguh. Misalnya, gaya menyapa kepada pencuri yang sempat menyusup ke rumahnya dan dipergokinya. Pencuri itu diperlakukan sebagai sahabat, bukan penjahat. “Ya dong, dia khan manusia seperti kita juga.”

Teguh mengajak pencuri itu untuk berdialog dan makan bersama. “Saya ajak menceplok telur segala.” Belum lagi, uluran tangan Teguh ke permukiman kumuh, yang konon tidak bisa dihitung jari. Cukup unik menyimak kehidupan teaterawan dan sekaligus pakar sinematografi ini. Sikap peduli terhadap sesama dan lingkungan ini ia ciptakan di alam kehidupannya.

Di padepokan yang cukup luas, di kawasan padat Jakarta Barat, tak satu pun ditemui barang-barang mewah bernilai jutaan rupiah.  Insan-insan film yang jumlahnya cukup banyak juga menghuni padepokan itu. “Mereka sudah menjadi anak-anak saya, mereka menjadi tanggung jawab saya. Di sini Anda tidak usaha tanya ia makan dari mana. Apa sih artinya kekayaan tanpa peduli dengan alam sekitar?”

Baginya, kekayaan hanya membuahkan kecongkakan jika seseorang tidak bisa menghayati makna kekayaan itu. “Buat saya, mobil hanya sekadar alat untuk mendekatkan jarak, sepatu hanya untuk memperpanjang proses perjalanan.”

Ditulis oleh: Abdul Halim Hasan

Dok. Citra – No. 125/III/19-25 Agustus 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer