BONUSCITRA - TARZAN MASA 1992 ADALAH POLISI LINGKUNGAN

 Menggendong si monyet Cheetah, didampingi Jane (diperankan Lydia Denier)

LEGENDA Raja Rimba dihidupkan lagi. Usaha meng-‘update’ cerita karya Richard Rice Burroughs ini memang tak pernah bosan dilakukan. Kali ini perusahaan film patungan Perancis-Meksiko-Kanada mengemasnya menjadi seri televisi 25 episode. Lokasi yang diambil untuk set adalah belantara Cuernavaca, Meksiko.

Setelah jadi, lantas dimainkan di TF1 Perancis, sebuah stasiun penyairan Kanada, dan 28 September 1991 adalah pemunculan perdana di Amerika. Kendati telah dibikin dalam banyak versi, kisah petualangan Tarzan selalu kembali kepada satu misi, yakni upaya membentuk ‘The Perfect World’, Dunia Sempurna, lepas dari gangguan dan rongrongan manusia-manusia pengganggu-perusak keseimbangan alam.

Tarzan adalah tokoh utama penyeru cinta lingkungan. Tema yang sesungguhnya usang bagi “si raja rimba” sendiri ini belakangan itu justru terasa kontekstual dengan zaman. Dan seri Tarzan yang main di RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)-SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) tiap Senin sore, 18.00 WIB (kecuali digusur tanpa permisi oleh acara-acara peringatan) memang menampilkannya sebagai “pahlawan” penjaga lingkungan. Ia jadi polisi lingkungan.

Wolf Larson, pemeran di seri ini, tercatat sebagai orang ke-19 yang memerankan Tarzan, baik dalam film layar lebar maupun seri televisi (tentu tak termasuk Benyamin S yang pernah membintangi Tarzan Kota). Sebut tokoh legendaris Johnny Weissmuller, misalnya. Atau Ron Ely, Miles O’Keeffe, maupun Gordon Scott yang tenar di Jerman karena setiap minggu muncul di jaringan SAT 1.

 Wolf Larson berdandan rapih, lumrahnya fotomodel

LEBIH dari 38 film tentang Tarzan telah dilayarlebarkan (sampai saat itu). Hampir komplit petualangan yang disajikan.

Terhitung sejak Tarzan of The Apes (1918), Tarzan, The Ape Man (1932, lantas diperbarui pada 1981, menampilkan Bo Derek sebagai Jane), bertualang di New York (1942), di India (1962), sampai yang (waktu itu) mutakhir, Greystoke: The Legend of Tarzan, Lord of The Apes (1984 – menampilkan Christopher Lambert sebagai Tarzan dan Andie MacDowell sebagai Jane, dan diisisuara oleh Glenn Close).

Juga banyak lagi kemasan khusus untuk TV. Ketenaran karya Rice Burroughs tak perlu disangsikan. Ia sampai-sampai membikin rumah produksi sendiri (Edgar Rice Burroughs Industries) yang pernah sukses. Sementara hak cipta karyanya masih didapatkan terus. Tarzan ternyata tak cuma legenda. Sebagai karya komik, film, dan sandiwara, keberhasilannya dibisniskan juga bak legenda.

Maka, betapa seriusnya Wolf Larson mempersiapkan diri seusai terpilih memerankan si Raja Rimba. Selain bergabung pada 5 sasana kebugaran, di rumah pun ia rutin latihan. Malah di lokasi syuting, ia menyisihkan waktu 90 menit untuk berlatih. Tak soal ketika itu, udara Meksiko sangat menyengat. Ketika badannya makin “jadi”, Lydie Denier, (saat itu) 27 tahun, bintang keturunan Perancis yang memerankan Jane, pasangan Tarzan, berkomentar, “Wah, Arnold Schwarzenegger juga kalah.”

Larson, yang nama aslinya Wolfgang Wyszecki, orang Jerman yang dilahirkan di Berlin, 32 tahun sebelum bacaan ini dimuat Citra (1960-red). Gunther, ayahnya, adalah dokter dalam matematika dan fisika. Ingeborg (dari nama kelaurganyalah nama Larson diambil), ibunya, seorang ahli kimia. Pasangan ini membawa serta Wolfgang – yang waktu itu masih bayi – bermigrasi ke Ottawa, Kanada.

Ketika remaja, Wolf kuliah di Queen’s University, Ontario, sampai lulus dengan predikat memuaskan. Kemudian ia pindah ke AS dan meneruskan kuliah di Universitas Nevada, Las Vegas, belajar analisa bursa dan pasar modal.

“SEBENARNYA saya pernah belajar seni peran sebelumnya,” katanya. “Itu terjadi ketika saya di sekolah menengah, namun tak pernah bersungguh-sungguh. Baru setelah pindah ke Los Angeles, saya mulai mengambil kursus dengan serius dan siap memerankan apa saja.”

Dalam seri Denver Clan, ia memerankan sekretaris Joan Collins. Di film lebar ia terlihat sekelebat lewat California Clan, Mad About U, serta Hard Ticket To Hawaii (1987). Betapapun itu membuatnya cukup gembira, karena masa depannya terkuak. Ia juga mencoba menguak karier di luar film. Beruntung, badan atletisnya (tinggi 188, berat – waktu itu – 87) membawanya pada peruntungan: jadi fotomodel, baik mengiklankan pakaian dalam maupun kalender.

Skin Deep adalah seri kalender yang menampilkan pose-posenya. Namun, di antara itu, yang agaknya membuatnya betah adalah kiprahnya sebagai ‘stuntman’ alias pemegang peran pengganti. Bukan soal bayarannya yang tak setinggi kotnrak fotonya, tapi, “Saya sudah memilihnya, meski kata orang, berbahaya.”

DUNIA Larson memang cukup komplit. Secara materi ia bahkan terbilang berhasil, meski baru merangkak di blantika film. Perolehan dari seri Tarzan, digabungnya dengan keuntungan bisnis dan pendapatan lain. Hasilnya, ia (belakangan itu) telah punya 3 rumah, salah satunya rumah 5 kamar yang terletak di Los Angeles, yang sampai saat itu (1992-red) ditinggalinya sendiri.

Ya, sendirian. Wolf Larson memang terlalu asyik dengan hidup dan hari-hari petualnagan dalam kariernya. Hampir sama dengan tokoh Tarzan yang setiap kali bergelayutan di atas pohon. Tak peduli dengan banyak dan beragamnya orang yang berdatangan dalam kehidupannya.

Baik pengelana, orang jahat maupun pelancong-pelancong selagi libur. Yang berdandan ala kalangan ningrat, ala pemburu, gaya antropolog atau arkeolog, maupun wanita berbaju minim ala fotomodel yang melakukan pemotretan di hutannya. “Saya merasa belum cukup matang untuk menikah. Saat ini (1992-red) saya masih seorang Tarzan yang sibuk,” jawabnya (saat itu) ketika orang mengusik kesendiriannya.

Dok. Citra – No. 120/III/15-21 Juli 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer