BONUSCITRA - JAMALUDDIN AL AFGHANI: "CINTA, POLITIK, DAN INTRIK" (TPI - SETIAP HARI, MULAI 7 FEBRUARI 1994 Pkl: 17.30 WIB)
Menjelang saatnya berbuka puasa, pemirsa televisi yang bisa
menangkap siaran TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) pada sore dan malam hari,
sungguh beruntung. Di saat itu, sambil menunggu gema adzan maghrib, pemirsa
dapat mengikuti kisah perjuangan seorang muslim bernama Jamaludin dalam
upayanya mempersatukan umat Islam di seluruh muka bumi. Namun begitu, dalam
film yang diproduksi Al Zahara of Arab Information, dikisahkan awal perjuangan
Jamal di negeri Afghanistan.
SYAHDAN, negeri Afghanistan saat itu tengah menghadapi kemelut. Selain menghadapi peperangan dengan Iran, Afghanistan pun tengah mengalami krisis kepempimpinan sehubungan dengan sakit kerasnya Dasur Muhammad Khan, yang memerintah negeri itu. Suksesi tak berjalan mulus, lantaran terjadi persaingan yang tak sehat di antara putra-putranya. Sir Ali, Muhammad Afdal, dan Muhammad Azam.
Dalam situasi seperti itulah, Jamaludin Husaini Al Afghani datang dari Mekkah dan menginap di penginapan miliik seorang wanita bernama Zahra. Arif Abu Turob, pria penuh rahasia yang juga menginap di penginapan itu, adalah lelaki pertama yang dikenal Jamal. Kedatangan Jamal ini, lantas banyak mempengaruhi persaingan perebutan pengaruh di antara putra-putra mahkota.
Jamal yang ternyata berasal dari kalangan terhormat di Mekkah dan berpengaruh banyak di kalangan rakyat, kemudian diperebutkan. Sesungguhnya dari tiga putra mahkota, hanya Muhammad Azam-lah yang tak acuh pada persoalan tahta. Ia lebih tertarik pada dunia pendidikan. Karenanya, dengan cepat ia bisa akrab dengan Jamal yang juga punya minat sama. Sementara dua lainnya yang berambisi, diam-diam saling curiga.
Karena kekarabannya, akhirnya Azam tahu bahwa Jmala adalah seorang pendiri Umul Quro, sebuah organisasi besar yang berpusat di Mekkah ,dan telah bercabang di Afghanistan. Padahal Umul Quro di Afghanistan sangat menarik perhatian Azam. Maka kloplah persahabatan antara Azam dan Jamal. Mereka pun sepakat untuk memajukan pendidikan di Afghanistan terutama bagi kemajuan umat Islam.
Sir Ali yang mendengar niatan itu, berjanji akan membantu mencarikan dana bagi keduanya. Di tengah perjuangan dan intrik ambisi mengejar pengaruh itu, Jamal juga secara tak disadari telah terseret dalam pusaran asmara. Zahra, pemilik penginapan, diam-diam jatuh hati padanya. Padahal, sebelum kedatangan Jamal, Arif telah lebih dulu kesengsem berat pada gadis pemilik penginapan ini.
CINTA segitiga ini, ternyata melebar karena Putri Jehan, daik Azam, diam-diam juga mencintai Jamal. Sementara itu, Muhammad Rafqi, seorang panglima tangan kanan sir Ali, telah lama kepincut pada sang putri. Jadilah soal cinta “segilima” ini suatu itnrik tersendiri yang pada gilirannya akan bermaura pada kecemburuan, sirik, dan dengki.
Dua wanita yang sama-sama cantik, molek, menarik, dan sama-sama naksir Jamal, akhrinya sama-sama kecewa karena sang pujaan hati sama sekali tak berpikir soal cinta. Yang terjadi kemudian adalah saling cemburu serta curiga antara Jehan dan Zahra.
Dalam satu episode, diceritakan, Jehan memperalat Rafiq untuk memenjarakan Zahra. Untung saja nasib Zahra sempat tergolong oleh Jamal yang saat itu telah diangkat sebagai panglima perang oleh Muhammad Khan.
Diangkatnya Jamal menjadi panglima perang pun, sesungguhnya atas jasa Jehan dan Azam yang menguuslkannya pada Muhammad Khan. Pengangkatan ini, tentu saja membuat kebencian Rafiq pada Jamal semakin menjadi-jadi. Rafiq yang sebelum pengangkatan itu pernah hendak memenjarakan Jamal, ini menjadi tak berkutik karena kedudukannya yang lebih rendah.
Sementara itu sir Ali yang sibuk mencari dukungan, mencoba mencari bantuan lewat Michael Dury, seorang mata-mata Inggris. Dury yang melihat keuntungan bagi Inggris dalam kemelut antara putra mahkota itu, tentu saja memanfaatkannya.
Lewat perkenalannya dengan sir Ali, ia mencoba menyelusup lebih jauh ke arena persengketaan itu. Dury berniat mengadu domba. Sayang, usahanya gagal ketika menghadapi Azam. Dan ia malah dongkol bukan kepalang ketika diusir Jamal yang semula hendak dihasutnya.
Demikianlah intrik cinta dan ambisi politik, selalu datang silih berganti dalam perjuangan Jamaluddin. Apa dan bagaimana kisah ini selanjutnya? (Waktu itu) akan lebih baik bila disaksikan di layar kaca, dengan catatan apabila pesawat Anda dapat menangkap siaran TPI pada sore dan malam hari.
Ditulis oleh: Tubagus Udhi Mashudi
Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar