BONUSCITRA - GATRA KENCANA 1992 MINUS PENDIDIKAN
SEBELAS tahun sudah (sampai saat itu, 1981 hingga 1992-red) TVRI mengadakan lomba Gatra Kencana. Sesuai tujuan awalnya, perlombaan ini dirancang untuk memacu kreativitas para awak SPK (stasiun produksi keliling) maupun stasiun daerah yang jumlahnya (sampai saat itu) sekitar 17 buah itu.
Hasilnya, cukup menggembirakan. Ini ungkap M. Soedjoed, kepala seksi bimbingan penelaahan produksi subdit bina produksi TVRI, yang (sampai saat itu) sudah 11 tahun dipercayai untuk menangani Gatra Kencana ini. Paling tidak, kemajuan ini bisa dilihat dari segi pengambilan gambar dan pembuatan alur cerita.
“Wah, kalau kita bandingkan dengan hasil mereka di tahun 1981, ya jauh sekali dengan yang sekarang (1992-red) ini,” papar lepasan SPK (staisun produksi keliling) Semarang ini (waktu itu). Meski (saa titu) sudah ada kemajuan, (wkatu itu) masih saja terlihat beberapa kekurangan yagn dimiliki oleh para peserta lomba Gatra Kencana.
Misalnya, munculnya ilustrasi musik barat di semua paket lomba kali ini. “Ini khan nggak lucu. Masa menyuguhkan budaya Aceh atau Padang, ilustrasi musiknya barat,” tutur Soedjoed. Untuk menanggulangi hal ini, Soedjoed punya rencana (wkatu itu) mengadakan lokakarya tentan getika pembuatan paket khas budaya Indonesia.
TIDAK seperti biasanya, lomba Gatra Kencana tahun 1992 ini, TVRI tidak mengikusertakan paket pendidikan dalam urutan materi yang diperlombakan. “Di pola acara tidak ada paket pendidikan,” jelas Soedjoed.
Apa karena (saat itu) sudah ada TPI (Televisi Pendidikan Indonesia)? “Wah, saya tidak tahu. Saya hanya merujuk pada pola acara. Kalau di pola acara tidak, ya harus bagaimana?” Ini merujuk pada ungkapan Ishadi, bahwa TVRi secara perlahan menyerahkan sepenuhnya paket pendidikan kepada TPI (Citra…)
Tanpa menghilangkan paket pendidikan, toh di paket ‘feature’ dokumenter, pengganti paket pendidikan di lomba Gatra Kencana ini, para awak SPK dan stasiun daerah TVRI (waktu itu) masih sah-sah saja membuat paket lomba yang berbuat pendidikan.
UNTUK tahun 1992 ini ada empat paket yang diperlombakan: Negeri Tercinta Nusantara (NTN), Kebudayaan, Penerangan, Filler, dan Dokumenter Feature (DF). Menurut Soedjoed, hampir semua SPK dan stasiun daerah (saat itu) telah mengirimkan hasil karyanya, kecuali stasiun Jakarta, Bandung, SPK Ambon, dan SPK Lampung yang (waktu itu) absen membuat ‘filler’.
“Kayaknya mereka sibuk,” papar Soedjoed, sambil memberi contoh kesibukan stasiun Jakarta yang (waktu itu) sedang giat mempersiapkan liputan KTT Non-Blok.
Masih menurut Soedjoed, SPK atau SD (stasiun daerah) yang mampu meraih juara umum (waktu itu) akan mendapatkan hadiah khusus dari Dirjen RTF, berbentuk peralatan kamera yang harganya lumayan mahal. Bahkan pemenang Gatra, seperti tahun-tahun sebelumnya, (waktu itu) akan diikutsertakan di festival antar broadkas se-Asia Pasifik yang tergabung di ABU (Asia Pacific Broadcasting Union).
Boleh dikatakan, setiap kali mengirimkan hasil terbaik Gatra Kencana, TVRI selalu mendapat kemenangan. Berapa kali? “Wah, banyak sekali,” jelas Soedjoed tanpa merinci paket-paket yang pernah dikirimkan. (Harapan waktu itu), mudah-mudahan, karya terbaik lomba Gatra Kencana 1992 yang rencananya (waktu itu) akan diputar di TVRI mulai tanggal 24-26 Agustus 1992 ini, juga mampu meraih juara di festival ABU tahun 1992 ini.
Ditulis oleh: Abdul Halim Hasan
Dok. Citra – No. 125/III/19-25 Agustus 1992, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar