BONUS - VARIETY SHOW (3-9 APRIL 1995)

PERSPEKTIF: "TAK DINYANA MENGINJAK USIA TAHUNAN" (SCTV – SETIAP SABTU Pkl: 18.00 WIB)

Gus Dur, rencananya (waktu itu) juga akan berbicara, tapi batal tanpa alasan yang jelas 

TAK terasa – sekaligus tak dinyana – (waktu itu) Perspektif (SCTV) menapak ke tahun kedua penayangannya, dengan ditandai oleh paket khusus 1 tahunnya yang ditayangkan Sabtu, 25 Maret 1995 lalu. Di paket khusus itu, Wimar Witoelar tidak menjadi tuan rumah yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan serba kritis sebagaimana biasanya. Tapi sebaliknya, menjadi tamu yang menjawab semua pertanyaan. 

Kendati untuk sementara waktu ia menyerahkan “singgasanya” dan muncul dengan penampilan yang lebih wah dari biasanya, yakni mengenakan jas. Wimar tetap saja kritis menjawab pertanyaan yang dilontarkan wartawan Citra, yang saat itu diberi kesempatan menjadi tuan rumah.

Sebagaimana galibnya, bila sebuah tayangan minus iklan tak jarang langsung dengan mudahnya “dicabut” hak “hidup”-nya oleh stasiun (swasta) penayang atau “mati” meranggas sendiri. Karenanya, sungguh tak dinyana paket ini bisa bertahan tak sekadar berusia bulanan (sampai saat itu).

Mungkin karena ada kontribusi lain dari Perspektif yang didapatkan dari SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia). Seperti yang tersirat dalam ungkapan Yuli Ismartono, kepala divisi hubungan masyarakat SCTV, “Ini membuktikan SCTV tak hanya menyajikan hiburan saja, tetapi juga memiliki paket diskusi dan informasi yang andal seperti Perspektif.”

Mungkin karena itu pula, SCTV bersedia menyelenggarakan diskusi panel untuk memperingati satu tahun penayangan Perspektif di sebuah hotel berbintang lima, yakni di Golden Ballroom Jakarta Hilton International. Acara yang diberi tema 50 Tahun Merdeka Perspektif Masa Depan ini digelar Kamis, 30 Maret 1995 lalu. Dan jauh sebelum hari “H”-nya, sudah termat banyak undangan yang dipesan oleh pencinta/pemirsa Perspektif terseleksi.

Acara berbagi perspektif itu dibagi ke dalam 4 sesi. Yakni sesi Kemantapan Ekonomi Masa Depan yang diawali dengan penayangan video klip panelis Christianto Wibisono, Prabowo, dan Hartojo Wignyowinoto. Lalu, Makna Pertumbuhan Profesionalisme dengan video klip panelis Jusman S.D., Hetifah Syaifudin, Khrisna Nur Pribadi.

Sesi berikut adalah Perubahan Budaya, yang menampiklan klip panelis Julia Suryakusuma, Gede Raka, Riga Adiwoso, dan Seno Gumira Ajidarma, dan kemudian ditutup dengan sesi Prospek Pembangunan Politik dengan pembuka klip panelis Eros Djarot, Frans Seda, Bambang Harymurti. Semua nama di atas adalah sosok-sosok yang pernah menjadi tamu Perspektif.

Pembuka berupa penayangan video klip panelis tersebut dilanjutkan dengan penyampaian perspektif utama oleh para panelis, serta diskusi bebas berbagi perspektif.

Ditulis oleh: Maman Suherman


BERPACU DALAM MELODI: “PESERTANYA PERLU LEBIH DIPACU LAGI” (TVRI PROGRAMA 1 – JUMAT, 7 APRIL 1995 Pkl: 21.30 WIB)

Koes Hendratmo 


BERPACU Dalam Melodi boleh dibilang salah satu acara andalan TVRI. Sayangnya, belakangan (ketika itu) ini, acara tersebut terasa kurang menggigit. Meski sudah beberapa kali mengadakan perubahan, baik dari segi dekor maupun materi acara, sepertinya (kala itu) masih tetap kehilangan gairah.

Itu nampak dari peserta yang lebih banyak terlihat pasif dan terkesan hanya tampil apa adanya, peserta tak jauh beda dengan orang yang sedang mengikuti tes. Kurang ekspresif. Itu nampak terlihat pada peserta bulan Maret 1995 lalu yang terdiri dari Endang Dahlan ,Helwin Maningasng, Poppy Puspitawati, dan Andi Nurni Gani. Berhasil atau gagal menjawab, hanya bereaksi dengan tersenyum atau sekali-kali bernyanyi.

Sepertinya seleksi peserta (waktu itu) harus diperketat lgai, jangan asal cabut, hanya karena berasal dari kalangan eksekutif. Bulan April 1995 ini, hadir sebagai peserta Reza Kamarullah, Eva Eliza, Bambang Atmanto, dan Robert Kawal Ginting. Semuanya pengusaha dan punya hobi menyanyi.

Persaingan antar peserta lumayan seru. Dan itu berlangsung hampir di semua babak. Tapi yang paling membahagiakan bagi Khawal yang berhasil unggul di babak pertama, Rangkaian Nada, karena lagu favoritnya muncul sebagai tebakan di babak Bursa Nada.

Khawal yang berasal dari tanah Karo dan punya usaha di bidang ‘real estate’ ini, langsung menyanggupi saat Koes Hendratmo – pembawa acara meminta kesediaannya menyanyi. Dan rupanya, Khawal pun memiliki suara yang bagus. Pokoknya, pemirsa dijamin (waktu itu) tidak akan rugi mendengarkan suaranya. Sebagai selingan hadir Anjani, mantan peserta BDM yang juga memiliki suara merdu. Selain itu juga hadir Masnait Vokal Grup dan Henny Purwonegoro.

Ditulis oleh: Utami Sri Rahayu

 

BENYAMIN SHOW: “JANJI RAHASIA NURBUAT PADA SANG ISTRI” (TPI – SELASA, 4 APRIL 1995 Pkl: 20.00 WIB)

Benyamin S


KELOMPOK pelawak kembali memeriahkan Benyamin Show (TPI). Kali ini tampil pasangan suami-istri Nurbuat-Rohana dan Nur Tompel-Imas. Kedua pasangan ini boleh dibilang kurang sebanding karena usia perkawinannya berbeda. Nurbuat (sampai saat itu) baru 8 tahun, sedang Nur Tompel (sampai saat itu) sudah 14 tahun.

Namun, lamanya usia perkawinan tidak dapat dijadikan sebagai ukuran dapat lebih jauh mengenal pasangannya. Ini terbukti dengan tiga pertanyaan sederhana yang diajukan Benyamin S.

Benyamin yang menanyakan kebiasaan belanja masing-masing pasangan, ternyata kurang berhasil mengumpulkan jawaban yang klop. Nur Tompel yang mungkin tidak hobi berbelanja, menjawab pergi ke Pasar Rumput, sementara istrinya mengaku ke Proyek Senen. Yang beruntung adalah pasangan Nurbuat karena mampu menjaab dengan kompak pasar yang (kala itu) terakhir kali didatangi.

Dan yang lebih seru adalah pertanyaan terakhir dari babak ini, yakni perihal janji yang pernah diutarakan suami, namun belum terpenuhi hingga saat itu. Istri Nur Tompel dengan tegas mengakui jika suaminya tidak pernah menjanjikan apa-apa. Rohana – istri Nrubuat juga mengakui jika suaminya tidak pernah janji apa-apa. Karena menurut Rohana, suaminya itu tak suka menjanjikan, bila ada uang baru membeli sesuatu yang diinginkan.

Namun, tanpa sepengetahuan sang istri, Nurbuat merasa pernah menjanjikan sesuatu pada sang istri. Apakah yang dijanjikan Nurbuat pada istrinya, sehingga dipegang teguh sampai saat itu (1995-red)? Silahkan (waktu itu) cari tahu di acara ini.

Kalau kemudian dewan juri yang terdiri dari Nani Wijaya, Naek L. Tobing, dan Tika Bisono memilih pasangan Nur Tompel sebagai pemenangnya bukan berarti karena usia perkawinannya lebih lama. Pastinya karena pasangan ini lebih komak dibanding lawannya.

Ditulis oleh: Utami Sri Rahayu

Dok. Citra – No. 262/V/3-9 April 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer