BONUS: TVRI PROGRAMA 2 TAK BUTUH PENYIAR YANG SERBA TAHU

Drs. Ishadi SK, M. Sc. 


IKLAN, IURAN. Baru dua minggu TVRI Programa 2 ditayangkan (waktu itu), untuk warga metropolitan, reaksi yang muncul beraneka ragam. Yang gembira memberi alasan karena ada perpanjangan waktu 90 menit.

Kritik tentu ada, juga gosip. Resmi atau tidak. Konon TVRI Programa 2 dimaksudkan untuk menyaingi RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Buktinya keterlambatan Direktur Televisi, Drs. Ishadi SK, M. Sc., memberikan ceramah di John Robert Powers, sekolah pengembangan pribadi, beberapa saat sebelumnya, karena dipanggil Alex Leo, Dirjen RTF, sesaat dihubungkan dengan isu itu. “Itu tidak betul, saya dan Alex rapat rutin.”

Ishadi yang selalu tampil ‘dandy’ dan semakin populer ini bilang, “Programa 2 sebetulnya sudah sejak tahun 1975, hanya wadahnya masih tercampur baur. Bayangkan, apa sih kepentingan masyarakat Irian Jaya menonton pembukaan acara lukisan oleh gubernur DKI? Nilai beritanya kecil sekali bagi Irian Jaya. Itulah sebabnya disediakan satu media yang bisa dimanfaatkan masyarakat Jakarta dan pemda untuk memberikan informasi yang khusus untuk kehidupan Jakarta.”

Selain itu, katanya, Jakarta (kala itu) sudah waktunya mempunyai stasiun sendiri seperti halnya daerah-daerah yang lain, di samping adanya tuntutan dari pemda Jakarta sendiri.

Konsekuensinya, pemda memberi dana sebesar 40%. “Mudah-mudahan, dalam waktu setahun kita bisa jalan lancar. Apalagi kalau ditunjang pembayaran iuran TV.” Tampilnya TVRI Programa 2 memang tak semudah membalik tangan. Apalagi karena harus menyiapkan 22 mata acara per minggu yang khas untuk penonton Jakarta.

Masalah dana kembali disinggung-singgung sebagai kendala. “Seandainya pemilik televisi rajin membayar iuran saja, pasti kuranglah kesulitan kita.” Di Jakarta, yang mempunyai pesawat televisi diperkirakan (waktu itu) mencapai 1,5-2 juta. Yang bayar iuran, masih menurut Ishadi, (waktu itu) baru 30%-nya. Kesulitan yang lain, menurut lulusan Ohio University, AS ini, adalah membaut suatu menu acara yang betul-betul disukai penonton Jakarta.

“The Bold and The Beautiful disenangi penonton Jakarta, tapi di daerah tidak. Itu contohnya. Karena apa? Ya, karena perbedaan nilai itu. Membuat suatu menu yang betul-betul disukai penonton Jakarta tidak mudah.” Dengan sendirinya, kesulitan tenaga dan penyiar pun menjadi satu keruwetan tersendiri. “Dari 600-700 pelamar yang dites, hanya 17 orang yang memenuhi kriteria. Itu pun masih diseleksi lagi.”

Bicara tentang menu acara TVRI Programa 2, acara Resensi Buku misalnya, dinilainya penyiar tak menguasai materi. “Menu acara itu sebetulnya sudah diekmbangkan di stasiun Yogya dan lebih bagus.” Asal tahu saja, sebelumnya Ishadi adalah kepsta TVRI Yogya. “Ya, saya tak ingin penyiar yang serba tahu, tapi penyiar yang pandai membawakan acara.”

TVRI Programa 2, di satu sisi bisa juga sebagai ajang promosi. Pembacan Agenda Ibukota misalnya, kendati tampak TVRI lebih cenderung menunggu jadwal acara ketimbang memburunya. Kembali ke soal dana, apa tak mungkin TVRI Programa 2 menampung iklan? Bukankah dulu (sebelum April 1989-red) ada selentingan yang bilang agar iklan yang dihapus itu dioper saja ke TVRI Programa 2, mengingat konsumennya lebih terbatas – jika alasan menghindari konsumerisme diterapkan?

“Selama RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) masih dapat menampung iklan, rasanya TVRI belum mutlak diperlukan. Iuran TV mencapai 80% saja sudah cukup.” Maka bunyi iklannya: bayarlah iuran. “Murah lho, sebulan 3.000 perak. Berarti sehari 100 perak sudah dapat Aneka Ria Safari, Selekta Pop, dan Hunter serta acara lainnya.”

Ditulis oleh: Etty Koesworini

Dok. Monitor – No. 129/III/minggu ke-3 April 1989/19-25 April 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer