BONUS - PRIA PENARI LATAR, TAK LAGI SEKADAR EMBEL-EMBEL (DAN TAK SELALU BANCI)
BOLEH, BANCI. Dewasa itu, tuntutan publik terhadap penampilan dan visualisasi acara musik, semakin kritis. Di masa lalu, daya tarik penonton dapat dipikat hanya oleh penyanyi yang tampil sendirian memamerkan goyang tubuh atau kecantikan wajahnya. 1993, gaya penyajian semacam itu tak lagi mencukupi untuk dapat memikat minat dan selera pemirsa teve (TVRI, RCTI, SCTV, TPI, ANTV-red).
Entah sejak kapan persisnya, produser acara dan juragan kaset rekaman yang berkepentingan mempromosikan penyanyi dan lagu produksinya, mulai menyertakan sejumlah pria (tampan) dan gadis (cantik) – era itu – sebagai penari latar untuk mendampingi sang penyanyi.
Awalnya, kehadiran para penari latar itu terkesan sekadar embel-embel dalam arti boleh ada, boleh juga tidak. Kalaupun ada, seringkali juga sia-sia, sebab juru kamera terlanjur terbiasa meng-‘close up’ sang penyanyi.
Tapi, 1993, kondisi sekadar embel-embel itu sudah berubah. Bahkan kehadiran penari latar, (belakangan itu) mutlak diperlukan demi memenuhi tuntutan publik. Para penari latar pun, 1993 ini, sudah dapat dijadikan sebuah profesi yang bisa menghasilkan uang lumayan besar. Tapi, yang juga menarik, kebanyakan pria yang menekuni profesi sebagai penari latar, penampilannya cenderung kebanci-bancian. Berikut pengakuan blak-blakan sejumlah pria penari latar.
Ditulis oleh: Slamet Riyadi
ANDRICO Y
KECIL, KESAL. Mahasiswa UPN (era itu) ini, akrab dipanggil dengan sebutan Rico. Bakat menari yang ada pada dirinya, sudah terlihat sejak ia masih kanak-kanak. “Dan keluarga saya, terutama ayah, memberikan dukungan,” kenang Rico. Maka, sejak kecil pula Rico sudah belajar balet, tari klasik, dan juga tradisional. Kebolehannya di bidang tari-menari itu membuatnya sering mendapat tawaran untuk tampil di pelbagai acara resmi maupun tak resmi.
Kemudian, tari juga yang kemudian membuatnya muncul di layar teve. Honor yang pertama kali ia terima, sebesar 75 ribu rupiah. 1993, sekali tampil Rico memperoleh sekitar 100-150 ribu rupiah. Rico yakin bahwa ia bisa hidup dari tari.
Bahkan, ia menegaskan tekadnya untuk hadir sebagai penari profesional. Selain itu, (waktu itu) Rico juga sedang mengumpulkan uang untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan sanggar dan buka usaha garmen. Sedangkan tentang tuduhan banci yang sering dilontarkan orang kepadanya, Rico bilang, “Kesal juga, sih. Tapi mau bilang apa? Kalau ada yang meragukan kelelakian saya, silakan buktikan saja deh!,” tantangnya.
RUDI R. FARUZCHULLI
CILIK, CARI. Sebelum menjadi penari latar, Rudi terlebih
dahulu menekuni dunia nyanyi. Tapi, bakat nyanyinya ternyata tak berkembang
dengan baik. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, Rudi pernah menjadi penyanyi
cilik di Dufan, Ancol, Jakarta.
Ia tertarik pada seni tari setelah diajak Titi Qadarsih, untuk meramaikan parade tari di Ancol. Sejak itu, Rudi mulai belajar tari tradisional. 1993, ia menguasai hampir semua tarian dari penjuru daerah Nusantara – tari Saman dari Aceh, jaipongan, dan juga tarian khas Padang.
Honor menari yang pertama kali ia terima, 4 tahun yang sebelumnya (1989-red), sebesar 35 ribu rupiah. 1993, sekali tampil ia bisa menerima honor sekitar 100 sampai 150 ribu rupiah. Dalam sebulan, minimal Rudi tampil sebanyak 5-6 kali. Rudi tak pernah membayangkan bahwa menari bisa dijadikan profesi. “Apalagi awalnya saya cuma iseng dan sekadar cari kenalan saja,“ kenangnya.
Sebagaimana halnya para penari latar lainnya, Rudi juga sering risih dengan tuduhan banci yang tertuju pada dirinya. “Kayaknya kok mereka lebih tahu tentang diri saya dibanding saya sendiri? Tapi terserah orang mau ngomong apa. Emangnya gue pikirin, ha ha ha,” katanya disertai tawa.
DINO GAFUR
NEGRO, NORMAL. Penari latar yang panggilan akrabnya Dino
ini, semula ingin menjadi taruna AKABRI. Namun, garis nasib rupanya berkata
lain. Ia berpaling ke seni tari gara-gara kagum pada penampilan penari negro
yang sedang dilihatnya di video maupun di layar teve.
Dari kagum, lalu tertarik untuk meniru, setelah melewati latihan yang tekun, ternyata bisa. Lalu, Dino mendirikan grup tari. Tahun 1991, ia ikut festival tari, dan berhasil masuk dalam 10 besar. Saat itu, Dino sama sekali belum memikirkan honor.
Maka, ketika usai tampil di televisi, “Saya kaget saat disodori uang 75 ribu rupiah. Uang apa itu? Ternyata honor. Padahal, tanpa honor pun saya sudah cukup puas dan bangga bisa tampil di teve,” kenangnya. 1993, setelah 3 tahun menekuni tari (1990 hingga 1993-red), sekali tampil di teve Dino menerima honor 100 sampai 125 ribu rupiah. Dalam satu bulan, sedikitnya Dino mendapat ‘job’ 5 kali.
Dino mengakui memang ada yang berubah pada dirinya setelah menerjuni seni tari. “Saya menjadi lebih penyabar dan ingin selalu tampil menarik,” katanya. Perubahan itulah yang barangkali menimbulkan tuduhan bahwa ia banci. Padahal, “100% saya ini laki-laki normal!,” tegasnya.
ACAN RACHMAN
LAYAR, LAYAK. Penyanyi, penari, koreografer dan pimpinan
Sanggar Acan Studio (SAS) ini, mengaku menggeluti seni tari modern sejak tahun
1985. Namanya cukup dikenal di kaklangan produser kaset rekaman, meskipun
(belakangan itu) ia lebih banyak berada di belakang layar. Ia mengaku mencintai
seni tari. Bahkan demi tari pula, ia gagal meraih gelar sarjana.
“Padahal, tinggal menyelesaikan skripsi. Tapi karen akeasyikan menekuni tari, jadinya ya kacau. Meskipun menyesal karena gagal menjadi sarjana, saya tetap pada pilihan saya untuk menekuni dunia tari,” kata ayah 2 anak yang memang senang menari sejak usianya masih kanak-kanak. Acan menguasai berbagai jenis tari, dari klasik, kontemporer, sampai tradisional. Dengan tari pula, ia mampu menghidupi keluarga secara layak. Rumah dan mobil (waktu itu) ia punya.
Tapi sejak kenal tari, Acan mengakui mengalami “perubahan” psikologis. Jiwanya menjadi lembut, geraknya pun menjadi lentur. Tapi, “Bukan berarti saya lantas jadi banci, lho,” katanya. Menurutnya, ihwal kebanyakan pria penari latar yang cenderung tampil kebanci-bancian, “Tergantung kepribadiannya masing-masing. Mungkin hanya mengikuti trend atau terpengaruh pergaulan,” katanya enteng.
R. BAMBANG SATYAWAN
GERAK, GAUL. Remaja (era itu) asli Bandung ini menekuni seni
tari sejak tamat SMA. Setelah malang melintang di kota kembang bersama grup
tari yang dibentuknya, Bambang hijrah ke Jakarta dan bergabung di SAS. Di
tempat Acan ini, Bambang tak hanya berkesempatan mengembangkan bakat, tapi juga
memperoleh ‘job’ yang menghasilkan uang. “Berkat tari, saya sekarang (1993-red)
sudah bisa hidup mandiri, tak lagi tergantung pada orangtua,” kata Bambang
(waktu itu).
Mulanya, Bambang menerjuni tari hanya sekadar untuk berhura-hura saja. Tapi, (belakangan itu) ia memutuskan untuk menjadikan sebagai profesi. Saat pertama kali muncul di TVRI Stasiun Bandung, 1989, ia mendapat honor 25 ribu rupiah. 1993, sekali tampil ia mendapat tak kurang dari 100 ribu rupiah. Ia mengaku belum puas (kala itu) dengan apa yang telah diraihnya.
Selain itu, ia juga sering risih pada tuduhan yang sering dilontarkan orang bahwa dirinya banci. “Mungkin saja gerak-gerik saya terlalu halus bagi laki-laki. Tapi, yang jelas saya bukan banci! Ada juga sih penari yang memang banci! Tapi, jika saya bergaul dengan mereka, bukan berarti harus ikutan jadi banci, khan?,” tegasnya (waktu itu).
Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan







Komentar
Posting Komentar