BONUS - KONFLIK, KARAKTER, CINTA KASIH, KEPAHLAWANAN...













BARANGKALI SAJA, itulah jawaban sederhana suksesnya Return of The Condor Heroes (di Indonesia tayang di Indosiar-red). Sedemikian suksesnya, sehingga seorang penarik becak di daerah Ciledug, Jakarta, ogah menarik penumpang dan memilih berkumpul di bengkel reparasi TV bersama rekan-rekannya.

Seorang ibu yang tak pernah tidur sebelum pukul 21.00, rela mengubah jam tidurnya, gara-gara “kakak Yo dan bibi Liong” disiarkan lambat karena acara Siaran Khusus (maksudnya relay Laporan Khusus dari TVRI-red).

Konflik sebagai ramuan cerita, berangkat dan berakhir dari pasangan Yoko-Siauw Liong Lie. Semua orang tiba-tiba membencinya, karena mereka sebenarnya guru-murid yang tabu menjadi suami istri. (Satu-satunya tokoh yang menyetujui hanya Oey Yok Su, tapi dia termasuk tokoh “aneh”).

Konflik dengan orang persilatan makin memuncak ketika Yoko juga akrab dengan orang Mongolia, padahal seluruh dataran Cina lagi bertempur melawan “penjajah”. Konflik cinta berbelit terutama Yoko dengan lusinan wanita, juga mempertajam dan membuat kesengsem.

Ini semua membuat karakter Yoko-Liong Lie makin utuh. Di antara karya-karya Chin Yung – yang bisa dibedakan dengan Liang Ie Cen di Hongkong sana “Sepasang Rajawali Sakti” memang linear. Memang banyak tokoh yang lain, tapi pusatnya tetap mereka berdua. Pada cerita silat lain yang diserikan, tokohnya terlalu banyak, susah diingat penonton hubungan satu dengan yang lainnya.

Cerita yang sukses biasanya mengandung unsur kepahlawanan. Yoko akhirnya menjadi pahlawna karena mampu membunuh pangeran Mongol hanya dengan sentilan batu.

Kwee Ceng – paman Kwee, adalah pejuang sejati yang memilih mempertahankan kota Siang (nama kota itu diabadikan pada anak perempuannya, Kwee Siang, atau A Siang), daripada mendahulukan kepentingan pribadi. Kepahlawanan dalam artian membela si miskin dan menderita, kepahlawanan dalam artian menegakkan kebenaran, mewarnai tokoh-tokoh utamanya. Pengorbnaan yang membuat penonton menjadi lega karenanya.

Kasih dan cinta, apalagi Yoko kecil yang disia-siakan, secara tidak sengaja dipungut oleh bibi Liong. Jadilah mereka sepasang insan yang memiliki cinta murni.

 

















































































Tapi demikian banyak halangan. “Gadis Naga Kecil”, bahkan diperkosa orang lain yang disangka Yoko. Lalu kena racun berturut-turut, berpisah dan berpisah, dan berpisah lagi hingga 16 tahun. Sebelum akhirnya benar-benar bisa bertemu, bergandengan dengan “satu tangan.” Siapa yang tak akan tergetar dengan cinta kasih seperti ini?

“Ah, itu cuma cerita. Kalau bener ada lelaki yang seperti Yoko, wanita mana yang tidak merasa bahagia dicintai?” Begitu komentar spontan di BI (Bintang Indonesia), ketika membicarakan. Ini mungkin jawaban nyata. Justru karena ini cerita yang mampu menampung semua keinginan, semua impian, semua keindahan cinta asmara, ketulusan (Yoko tak pernah benar-benar terganggu karena adik Liong sudah ternoda).

Liong sendiri sejak awal hanya meencintai Yoko. Kalau ia mau menikahi tokoh lain misalnya, semata-mata juga demi Yoko. Liong Lie merajut sayap kumbang saat rindu. Yoko menciptakan jurus-jurus sakti karena rindu tak tertahan. Ah!). Begitu indahkah cinta asmara? Jawabannya bisa iya, dalam tokoh pasangan legendaris ini.

Menjadi pertanyaan, apakah cerita yang mempunyai ramuan seperti ini selalu akan sukses? Mungkin iya, lebih mungkin lagi tidak. Condor yang satu ini memang perkecualian. “Lanjutannya” yang berjudul To Liong To, Golok Pembunuh naga barangkali tak sesukses ini benar.

Mungkin karena ikatan cinta asmara tak semenggetarkan Yoko-Liong Lie. “Lanjutannya” lagi Thian Liong Pat Pou atau Demi Gods and Semi Devils atau Pendekar-Pendekar Negeri Tayli (kemudian diputar di Indonesia oleh Indosiar juga-red), waktu itu – akan lebih banyak menahan mereka yang benar-benar berminat pada kisah silat.

Dan begitulah, satu lagi idiom asmara kita bertambah dengan pasangan Yoko-Liong Lie… yang sebagaimana Bangsacara-Ragapadmi atau kisah Pronocitra-Roro Mendut….

Ataukah sudah saatnya (waktu itu) kita meenmukan DJOKO-LANI? Ataukah memang kita tak memiliki lagi tokoh rekaan yang mempunyai karakter kuat, konflik memikat, sekaligus juga memancarkan kepahlawanan dan memiliki cinta kasih sayang? Rasanya dalma soal ini, kita pun memiliki modal tradisi. Rajawali bukan hanya ada di Cina atau Hongkong, tapi juga bisa terbang dari Tegal atau Kedungumbo…

 

KWEE HOE, atau A Hoe, karakter yang membuat mencibir…. Huuuuu, padanya. Si cantik, manja, centil jahat ini bukan hanya memotong tangan Yoko, tapi juga meracuni Yoko-Liong Lie, menuduh mencuri adik, sirik. A Hoe yang dimanja dan dipuja banyak lelaki karena nama besar kedua orangtuanya, sebenarnya cinta pada Yoko. Tapi karena biasa disanjung, biasa diturut, biasa diberi fasilitas total, malah jadi generasi yang salah. Perlu dikasihani juga karakter begini ini.

 

OEY YONG, digambarkan sebagai wanita yang kelewat cerdas, banyak akal, dan mungkin rada licik. Keluarga perlu dipertahankan, bahkan kalau perlu agak mengorbankan yang lain. Dalam lakon sebelumnya, Siauw Tiauw Eng Hiong (di Indonesia diputar RCTI/SCTV dengan judul Legend of The Condor Heroes-red) bersama Kwee Ceng, mereka dikenal sebagai pasangan cinta asmara.

Tapi dibandingkan dengan bukti cinta kasih antara Yoko-Liong Lie, Oey Yong pun mengakui, bahwa: “Mereka berdualah yang paling mengetahui apa artinya cinta sejati.” Pengakuan yang mengkuatkan asmara legenda.

 

CIU PEK THONG, alias bocah tua nakal, Loo Boan Tong, dalam buku aslinya tidak sekonyol dalam kaset video yang ditayangkan. Ia sebenarnya bijak, ‘witty’, sampai mengadu tangan kiri dengan tangan kanannya. Kenakalan dengan permaisuri, yang menyebabkan punya anak dan meninggal, menyebabkan ia main sableng-sablengan dan tak menentu. Karakter unik yang menghidupkan dan segar untuk bumbu cerita.

 

YOKO KECIL, mungkin terlupakan dalam ingatan. Karena dominasi peran Andy Lau yang sudah dewasa. Di sini Yoko kecil bersama Auw Yang Hong, salah seorang “bapaknya.” Tokoh “kodok” ini diperdaya oleh Oey Yong dengan diberi buku pelajaran silat dari halaman belakang. Akibatnya, aliran darahnya terbalik dibandingkan orang normal. Karakter begini cuma ada di cerita silat.

 

BIBI LIONG atau Siauw Liong Lie, atau gadis naga kecil, atau kemudian dipanggil mesra oleh Yoko sebagai “adik Liong”. Gadis jujur, lugu yang dipersiapkan untuk menjadi pewaris aliran Kuburan Kuno (versi video Kuburan Mayat Hidup) yang harus tetap perawan ini, tak bisa menolak cinta yang muncul.

Cinta memang seperti jerawat, datangnya tak bisa ditahan. Tak bisa dipaksa, tak bisa direncanakan. Tak soal yang dicintai – dan mencintai – adalah anak yang pernah diasuh, muridnya sendiri. Tak peduli bahwa ia jadi pewaris perguruan Kuburan Kuno. Dan ketulusannya membuahkan hasil, cinta abadi. Syukurlah.

 

YOKO-LIONG LIE, bagai legenda hidup. Cinta asmara yang tulus, yang lebih mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri (hanya dengan begitu ilmu silat mereka bisa muncul dan hebat, kalau tidak, ya biasa-biasa), membuat tokoh lain jadi kecil soal asmara. Bahkan Lie Mo Cioe, yang bernyanyi, “Cinta itu sebenarnya benda apa/Yang membuat pemuda-pemudi mati pun rela/Padahal yang satu ke selatan yang satu ke utara, menemukan jawaban pada Yoko dengan adik seperguruannya.”

Bahkan filsafat umum yang mengatakan bahwa saudara itu seperti tangan dengan kaki, sedangkan suami istri itu seperti pakaian yang bisa dilepaskan, tak berlaku. Yoko-Liong Lie menjungkirbalikkan pengertian umum. Justru sebagai suami-istri mereka tak terpisahkan. Ah, biarkan mereka bahagia….. bahagia selalu seperti dalam cerita.

 

KWEE SIANG, atau A Siang, putri terkecil Kwee Ceng ini sejak bayi diselamatkan dan ikut Yoko-Liong Lie, dibawa ke gua Kuburan Kuno. Apa yang terjadi setelah jadi gadis dewasa? Siopng Jie/Siang Erl pun… jatuh cinta pada Yoko! Sedemikian besar dan tulus dan suci cintanya, sehingga dalam doanya ia mengharapkan Yoko-Liong bisa hidup bahagia selama-lamanya…. A Siang sendiri memilih hidup menyendiri dan mendirikan biara untuk para gadis, dan tidak menikah. Cinta kok begitu indah, ya?

Dok. Bintang – No. 229/Th. V/minggu kedua Juli 1995, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer