BONUS - JENDELA RUMAH TANGGA, DJ NAWI-GREETJE T. SAMBONO: "MULANYA TAKUT, LAMA-LAMA SUKA"
DJ Nawi yang dikenal Greetje sudah bekerja sebagai pegawai TVRI pada bagian musik itu, memang selalu terlihat serius. “Saya memang orangnya acuh tak acuh terhadap wanita,” aku DJ Nawi, yang namanya berkibar setelah menggawangi acara musik Selekta Pop. Padahal, rasa acuh Nawi pada Greetje, juga lantaran ia merasa tidak percaya diri.
“Terus terang, saya menyadari bahwa diri saya jelek,” lanjut Nawi. Tapi justru gaya cuek Nawi itu yang akhirnya membuat Greetje penasaran. Dikiranya Nawi jual mahal. Maka, tanpa kata-kata cinta, mereka pun pacaran. “Sebetulnya sih, pengen juga saya dengar kata-kata cinta itu, tapi sebagai perempuan enggaklah. Saya khan gengsi. Kalau dia nggak ngomong, ya sudah. Kita perempuan mesti jaga mutu dong,” celetuk Greetje sembari tertawa.
Tak sampai setahun pacaran, keduanya memutuskan untuk menikah, meski dengan keuangan yang seadanya. “Makanya, mulanya saya tinggal di rumah mertua. Lalu, baru bisa mengontrak rumah sendiri,” cetus Nawi mengingat pengalamannya dulu.
Keberanian dan tekad yang bulat itu, memang tertanam pada keduanya, meski dengan perbedaan umur yang tajam, 12 tahun. Saat menikah usia Greetje masih terbilang muda, 21 tahun. Sedang Nawi mengaku (waktu itu) sudah terlambat, lantaran terlalu serius bekerja. Perbedaan umur yang jauh itu, diakui Greetje tidak menimbulkan persoalan apa-apa.
Sejak awal, Nawi sudah percaya sepenuhnya soal keuangan. Dan selama itu pun Greetje selalu bisa mengelola keuangan dengan baik. “Tadinya bingung juga gimana caranya supaya uang cukup dalam sebulan. Pernah saya coba dengan cara menyelipkan dalam amplop untuk tiap kebutuhan, dan saya umpetin. Tapi nyatanya, malah kelupaan, sampai-sampai uang 10 ribuan yang saya simpan dalam amplop itu sudah nggak laku lagi,” cerita Greetje sambil ketawa-tawa.
“Makanya sekarang (1995-red) saya atur saja apa adanya. Kalau kurang pun saya nggak pernah bilang. Biasanya saya cuma cemberut saja dikit-dikit. Saya rasa dia sih tahu juga, tapi nggak berani tegur saya, habis memang duitnya nggak ada,” sambung Greetje dengan santainya. Pasangan ini memang mengaku saling cuek. Misalnya, bila ada sesuatu yang tak disukai dari pasangannya, salah satunya memilih diam.
“Jadinya selama berumah tangga, kita nggak pernah berantem, apalagi sampai ribut-ribut,” kata DJ Nawi yang belakangan mengepalai bidang drama di TVRI. Dalam tahun-tahun pertama perkawinan, mula-mula memang kerap membuat Greetje cemburu. Pasalnya, saat itu DJ Nawi masih menggarap Selekta Pop, satu acara musik andalan TVRI. Tahu sendiri, penyanyi yang muncul di acara itu juga terkenal dan cantik-cantik.
Ini menyulut kecemburuan Greetje, yang menurut Nawi memang punya pembawaan cemburu. Greetje pun ikut menemani Nawi syuting acara itu. Kalau ada penyanyi cantik yang di-‘close up’ terus, Greetje marah. “Mentang-mentang cantik, bolak-balik di-‘close up’!,” begitu katanya. Tapi, lama-lama Greetje bosan sendiri. “Saya jadi tahu betul Dijee kerja betulan sampai malam untuk mendapatkan uang, dan saya bosan ikut dia syuting,” aku Greetje terus terang.
Sejak itu, Greetje percaya penuh, kalau Nawi mesti pulang malam, Greetje pun membekali kunci rumah. “Supaya nggak ganggu saya kalau lagi nyenyak tidur,” kilahnya. Malah belakangan itu, Greetje juga pandai mengritik pekerjaan sang suami. Kalau ada penyanyi cantik yang jarang di-‘close up’, Greetje malah protes. Greetje juga mengaku sudah terbiasa melihat ulah penyanyi yang kadang menggelendoti suaminya.
“Saya maklum, mereka khan penyanyi yang butuh publikasi untuk lagu barunya. Mereka juga butuh Dijee untuk menggarap supaya gambarnya jadi bagus,” ujar Greetje, yang (sampai saat itu) sudah dikaruniai tiga putra-putri. Malah, kalau melihat pemandangan begitu, Greetje sempat-sempatnya menginjak kaki Nawi, memberi kdoe agar jangan dikenalkan sebagai istrinya. “Saya takut penyanyi itu jadi malu, begitu tahu istrinya ada di sampingnya,” kilah Greetje lucu.
1995, perkawinan mereka telah berjalan 22 tahun (sampai saat itu) lamanya. Dengan terus terang, Greetje mengaku, kadang juga merasa tak bahagia. “Apalagi kalau sedang kesel dengan dia! Biasanya, mentok-mentoknya juga karena sedang nggak ada duit!” Lagi-lagi Greetje tertawa sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Tapi itu khan soal biasa, dan kalau sudah begitu, saya percaya sekali sebentar kemudian dia bakal dapat rejeki. Dan biasanya ‘feeling’ saya betul, kok,” sambungnya kali ini dengan tawa bahagia.
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
SUSAH SENANG DITANGGUNG BERDUA
UNGKAPAN cinta bisa muncul dari perut, mungkin ada betulnya
juga. Buktinya, DJ Nawi mengaku mengalami hal itu. Nawi yang suka makan enak,
seperti mendapat durianruntuh saat tahu Greetje punya kepandaian memasak. “Setelah
nikah, dia jadi sering masak buat saya. Saya paling suka masakan Manado,
kebetulan dia juga berasal dari daerah sana,” tutur Nawi sambil tersenyum
bahagia.
Untuk itu, Nawi mengaku kerap membanding-bandingkan amsakan yang sedang dimakannya dengan masakan istrinya di rumah. “Saya paling tahu lho, makanan yang saya makan itu masakan istri atau pembantu. Soalnya lain tangan, lain rasanya,” ujarnya memuji kepandaian istrinya memasak.
Meski begitu, Nawi tak pernah menuntut istrinya harus memasak setiap hari. Yang dituntut Nawi, justru setiap hari harus ada tempe goreng sebagai lauk. “Kalau yang itu sih saya turutin saja. Apa susahnay? Tempe khan juga murah,” sela Greetje.
Bukan cuma kepandaian memasaknya saja yang dipuji Nawi. Tapi sifat-sifat Greetje pun diacungi jempol. “Greetje itu punya saudara kandung banyak. Lain dengan saya yang anak tunggal, tapi dia sama sekali nggak pernah cerita masalah rumah tangga pada siapapun. Itu saya suka sekali, susah dan senang kita tanggung berdua,” ujar Nawi memuji.
Yang dipuji langsung menyahut, “Habis, gimana ya? Dari gadis saya diajarkan begitu. Saya nggak pernah cerita kejelekan dan kebagusan suami. Gimana-gimana, itu suami kita sendiri. Tapi sebaliknya, saya juga tak pernah cerita kejelekan saudara-saudara saya. Kalau dia tahu sendiri, ya sudah, yang penting bukan dari mulut saya, justru saya kerap juga menutupi. Khan bohong untuk kebaikan nggak apa. Soalnya istilah bekas suami sih ada.
Tapi kalau saudara kandung khan nggak ada istilah bekas. Makanya, lebih baik saya berdiri di tengah-tengah saja. Ke sana enak, ke sini enak,” ujar Greetje, yang mengaku sikapnya itu sering menimbulkan rasa penasaran ibunya. “Ibu saya jadi sering mancing-mancing, maksudnya supaya saya cerita soal rumah tangga. Soalnya, kali dia heran juga melihat kita berdua kok nggak pernah berantem,” sambung Greetje lagi.
Meski banyak yang dipuji dari diri sang istri, Nawi juga melihat ada sifat jelek sang istri. “saya paling nggak suka lihat dia ngerokok di ruang mana saja, atau kalau lagi malasnya kumat, dia juga sembarang taruh barang,” kata Nawi yang punya nama asli Daniel Jacob Nawi.
Saat itu, Martin, Dmonggus, dan Febrina memang yang jadi pusat perhatian Nawi dan Greetje. “Anak-anak sudah besar, saya jadi sering kesepian. Yang pertama malah kerap mengajak pacarnya ke rumah. Anak-anak memang biasa bicara terbuka pada saya, juga soal pacar-pacarnya,” ujar Greetje dengan bahagia.
Barangkali sebahagia saat mereka berdua mengenang tempat kencan pertama kali di ‘Jakarta Fair’. Waktu itu keduanya sempat mengikuti permainan yang ada di arena itu. Barangkali juga, sambil malu-malu dan tersipu. Tapi dalam hati, ada seribu gejolak yang membahagiakan. Seperti saat itu, saaat melihat ketiga anaknya tumbuh dewasa.
Ditulis oleh: Turlukitaningdyah
“Dalam perkawinan harus saling menghargai satu sama lain.” (Nawi-Greetje)
Dok. Bintang – No. 214/Th. V/minggu kelima Maret 1995, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar