BONUS - DI TELEVISI SWASTA TV3 TAK DIPUNGUT IURAN, TAPI CUKUP HEBAT MENYAJIKAN HIBURAN

 Sebagian besar acara TV3 dari luar, yang buatan sendiri kecil jumlahnya, seperti paket Muzik-Muzik ini

SUMBER REJEKI. Kehadiran TV3 apakah bukan berarti momok bagi RTM? Kalau toh TV3 dan RTM saling bersaing dengan menumbuhkan wawasan baru (ketika itu), namun sejauh mana letak posisinya? Masalah itulah yang sengaja ditelusuri M (Monitor). Mencari jawaban yang gamblang, di tengah keberadaan industri komunikasi yang dikelola swasta di sebuah negara tetangga.

“Saya membaca dari akbar, surat kabar, kalau Indonesia mau bikin stasiun televisi macam TV3. Atau bersistem kabel teve, ya? Itu suatu langkah yang baik. Langkah yang baik mesti diikuti adanya perasingan. Persaingan adalah tantangan. Kalau tak ada tantangannya sama juga monopoli,” ujar karyawan TV3 dari bagian pengurus perdagangan.

Pendapat itu tidak jauh melenceng, bahkan Abdul Hamid Mohamed, pengurus periklanan TV3, lebih menegaskan bahwa persaingan dalam dunia komunikasi sangat diperlukan. “Ibaratnya, nggak mungkin seseorang itu cuma hidup sendirian. Pasti ingin seorang rekan lagi. Dari sudut ini akhirnya dapat bertanding, entah secara sihat atau nonsihat.”

Sejauh pengamatan M., yang beberapa orang RTM maupun TV3, memang tampak ada persaingan pada dua jaringan televisi itu. “Pertandingan sihat dalam penyajian rancangan, teknik, dan bentuk persembahan,” cetus orang RTM.

“TV3 turut menyokong dasar-dasar kerjaaan di samping mencapai satu stesen, stasiun, swasta yang disukai ramai,” ucap orang TV3. Tetapi, jika diteliti lebih mendalam, kemunculan TV3 bikin gertak sambal. Meski umrunya belum genap 4 tahun (waktu itu), toh keinginan untuk menyedot pemirsa cukup menggebu-gebu. Ketika berlangsung Olimpiade 1984 di Los Angeles, TV3 mengirim kru dan membikin liputan langsung.

Cara ini bagaimanapun juga merupakan usaha menyenangkan pemirsa. Sikap tidak harus bepruas hati mengenai apa yang dilakukan, jauh-jauh hari telah ditanamkan kepada awak TV3. Mereka menyadari sebagai stasiun televisi bercorak komersial yang pertama, tentu tidak dapat lepas menghadapi teguran.

Menurut penleitian, jumlah pemirsa televisi Malaysia (saat itu) tidak kurang 5 juta orang dewasa (era itu). Perinciannya Melayu 57%, Cina 31%, dan India 12%. Dari hasil penelitian itu kemunculan TV3 sudah diketahui arahnya – menjadi televisi komersial.

Seperti diketahui, pemasukan dana TV3 semata-mata dari iklan, dan sponsor yang membeli rancangan-rancangannya. Juga berdasarkan penelitian mereka, Lembah Kelang mempunyai potensi cukup besar. Warga Lembah Kelang mempunyai daya beli tinggi. Ini diakui karena mereka terdiri dari kelas menengah yang berduit. Merekalah konsumen yang terpikat. Dan di satu pihak para pengiklan begitu menginginkan mereka membeli barang keluaran yang diiklankan itu.

Berbeda dengan RTM yang memungut iuran 36 ringgit per tahun (dari setiap keluarga, tak perduli berapa jumlah pesawat yang dipunyai: hitam putih atau berwarna), TV3 bebas dari pungutan itu.

Badan siaran swasta ini optimis menyabet ringgit dari iklan. Mereka juga punya sasaran untuk menarik minat warga Cina di kota-kota besar (di antaranya pengusaha) yang dengan sendirinya diharapkan iklan bisa diserap. Kenyataannya, menurut ‘market study’ pada tahun 1982, RTM mengeruk keuntungan 17 milyar rupiah dari iklan. Berarti 18% dari seluruh biaya iklan yang besar di seluruh media.

Memang pada waktu itu hampir seluruh media mengalami kemunduran iklan, justru di RTM iklannya naik 12%, padahal di asna ada peraturan ketat soal periklanan. Langkah optimis itu yang membuat TV3 menggertak, walau mereka tak memperhitungkan bakal jadi sumber rejeki.

SUMBER ANGGARAN. Perkembangan terakhir TV3 (belakangan itu)? Mereka memperkirakan usahanya hanya baru mencapai “titik impas” setelah tiga tahun berjalan. 1988 ini, sudah 4 tahun, terlihat “buah” yang “dipanen”. Setidaknya, kehadiran TV3 membuat gemetar RTM. RTM pun menghadapinya dengan mengeluarkan jurus-jurus baru (era itu), yaitu mulai 1 Januari 1987 merombak struktur rancangannya.

Tidak cuma itu. Di tahun 1987, telah dianggarkan pendapatan dari siaran iklan televisi mencapai 360 juta ringgit. Tindakan ini dilakukan mengingat kemunculannya TV3 tadi – dalam soal iklan. Pendapatan dari iklan televisi pada RTM kian menurun.

Tahun 1986, hasil yang diperolehnya anjlok. Lebih-lebih pada tahun itu dalam usaha untuk menyeimbangkan pendapatan dan perbelanjaan RTM diduga kekurangan duit 130 juta ringgit. Tahun 1985, RTM mengeruk 110 juta ringgit dari iklan ditambah iuran televisi-radio.

Sementara jumlah dana yang diberikan Kemetnerian Penerangan sebanyak2 4 juta ringgit. Bagaimana jadinya RTM merebut iklan, demi kelangsungan operaisonal, itulah jurus yang dicari. Salah satu jurus ialah memperbaiki rancangannya: yakni paket bikinan sendiri diganti drama keluarga, film sejarah, komedi, atau horor.

Sedang RTM 2, masa utama diawali dengan drama seri Mandarin – waktu yang sama TV3 menayangkan seri drama Mandarin pula – diikuti drama Inggris yang serinya pendek, hiburan, dan sajian komedi. Khusus drama Mandarin terjadi persaingan ketat. RTM 2 merancang menyiarkan drama-drama seri Mandarin yang terkemuka dari Hongkong setia phari. Malah Berita Kebangsaan jam 8 malam ditarik.

Mengamati langkah yang ditempuh RTM, jelas terjadi penggeseran. Semula, RTM berusaha menarik pemirsa Melayu, belakangan itu (1988-red) mulai melirik minat pemirsa Cina – dalam RTM 2. Dan hal itu dilakukan demi iklan.

Juga demi kelancaran orang pemasang iklan, maka RTM mengubah pula struktur kadar iklannya. Dulunya (sebelum 1988-red) pemasang iklan untuk seluruh acara diwajibkan memakai bahan film. 1988, para pengiklan dibenarkan menggunakan dalam bentuk video, karena lebih murah diproduksi dibanding dengan film.

Persaingan TV3 dan RTM 1 & 2, bagaimanapun memang ada. Hal ini tak dapat dipungkiri, pun tak dapat dibendung. Selama pemirsa setia dengan layar televisi, atau kecanduan, pasti kompetisi itu (waktu itu) bakalan berlanjut. Kedua jaringan televisi di negara semenanjung itu sengaja saling berlomba mencari terobosan. Semuanya itu titik pasalnya pada pemirsa, sebab pada hakikatnya televisi adalah tamu yang tak diundang resmi.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

TV3 DIANGGAP MERUSAK KEHIDUPAN, KARENA MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS 

PEMIRSA. Seperti diketahui, Malaysia adalah negara multirasial. Ketika TV3 baru beberapa bulan menayangkan siarannya, protes datang dari sana-sini. Gerakan Pemuda Muslim melontarkan pernyataan, TV3 cuma menyiarkan acara yang berasal dari kebudayaan barat. Ini, katanya, tak tak sehat bagi orang Malaysia. Pemuda Muslim meminta agar TV3 menambah acara pendidikan dan agama.

Permintaan itu tak langsung dikabulkan. Pihak TV3 terus menggodok, dan tak membuang masukan itu ke dalam tong sampah. “Segala kritikan, baik kandungan isinya positif maupun mencela, tetap kami tamping. Lantas, kami mengolahnya. Tanpa masukan dari pemirsa, kami tak berarti. Sejauh mungkin kami melibatkan pemirsa,“ jelas staf ‘public relations executive’ TV3.

Begitu sebuah buku yang ditulis Thoifah Minal Muslimin berjudul Televisyen sebagai Salah Suatu Alat Iblis bagi Merosakkan Kehidupan Kerohanian Insan – terbitan Islamic Publishing House – menggugat kehadiran media televisi, mereka pun menelaahnya secara lapang dada.

Buku itu isinya sangat vokal: Thoifah menulis, televisi pada azasnya merupakan suatu alat hiburan dan bukan alat menyampaikan berita atau mendidik manusia dengan akhlak yang luhur. Kata lain, televisi bukan alat menumbuhkan iman, bukan alat mendorong manusia beribadah dan bermujahadah supaya Allah membukakan jalanNya untuk sampai di dekatNya.

Kritik keras tak selalu hadir dari golongan agama. Datang juga dari para pemuda (era itu) yang bergabung dalam kongres India-Malaysia. Para pemuda (era itu) itu menuntut – malah unjuk rasa di depan kantor TV3 – supaya film atau acara berbhaasa Tamil pun diudarakan. Jika protes orang-orang Tamil ini diabaikan, akan terjadi pemboikotan barang-barng yang diiklankan.

Perbaikan atau meningkatkan mutu siaran yang berdasarkan masukan dari pemirsa, setahap demi setahap dijalankan. Film-film atau paket yang berbahasa Tamil dalam sebulan beberapa kali disiarkan. Jelas tak mungkin saban hari. “Kami menampung keinginan khalayak ramai. Sudah pasti masih saj aada yang kecewa,” tutur humas itu lagi.

Mengenai kritik bahwa TV3 kebarat-baratan, sebenarnya hal itulah yagn menjadi perhatian khusus. Memang, ketika TV3 muncul, siarannya memakai kata pengantar bahsa Inggris – bahkan untuk paket beritanya. Akhirnya pada 1 Januari 1985, dimulailah detik bersejarah, yakni menyiarkan dua berita dalam dua bahasa: bahasa Malaysia dan Inggris.

Berita bahasa Inggris disiarkan jam 6.45 petang – lantas idubah menjadi 6.30 petang. Sedang berita bahasa Malaysia selama 25 menit bermula jam 9.00 malam – kemudian ditukar pada jam 8 malam. Berikutnya, paket berita bahasa Malaysia ditingkatkan. Setiap harinya menyiarkan dua kali berita, yaitu jam 6.30 petang dan 10.30 malam. Ditambah pada hari Minggu dengan 3 kali, diawali jam 2 petang.

Langkah menayangkan berita bahasa Malaysia ini mengundang pujian dari segala pihak. Tidak cuma dari kalangan awam, juga dari pakar bahasa maupun komunikasi. Ketua tertinggi Gapena – kelompok pengarang Malaysia – Prof. Datuk Ismail Hussein sewaktu ditemui M. (Monitor), mengangkat acungan jempol. “Pihak TV3 tanggap. Mereka mengambil perhatian yang sejaarnya terhadap rasa tidak puas hati yang dilahirkan oleh orang ramai,” katanya.

Pujian itu datang pula dari kalangan perfilman seperti yang disuarakan Redzuan Ahmad, juru kamera. “Kini (1988-red), rancangan berita TV3 sudah menampakkan kematangan. Ada daya usaha yang tinggi dalam mencari bahan-bahan berita. ‘Saye’ salut jadinya dengan berita Malaysia itu. Tak kalah dengan berita yang dikirim via satelit dari luar itu.”

Kritik adalah kritik. TV3 membuka lebar-lebar untuk masalah itu. “Kalau kami yang mengkritik diri sendiri, itu lucu. Justru pemirsalah yang mengetahui lebih banyak,” ucap Ahmad Merican, pejabat teras siaran TV3. Dalam menghadapi kritik, pihak TV3 mempunyai rumusan tegas. Istilah Ahmad Merican, harus memandang ke depan. Dengan arti mengaji masalah itu serta mengatasi sebaik-baiknya. Proses atau kritik selalu ada nilai baiknya. Tergantung kadarnya.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi 

Dok. Monitor – No. 69/II/24 Februari-1 Maret 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer