BONUS BINTANG - A MAN FOR ALL SEASON: "FILM PERAIH ENAM OSCAR YANG SALAH JAM SIAR" (FILM KELUARGA, RCTI/SCTV - KAMIS, 28 MEI 1992 Pk: 09.00 WIB)
‘EPIC, OFFICE’. Seperti juga film-film yang menokohkan sepak
terjang para pahlawan yang dibuat sineas Hollywood pada tahun 60-an, A Man For
All Season juga kisah nayta yang diangkat ke film dengan sangat mempesona.
Columbia, studio yang memproduksi film ini, yang sukses membuat Lawrence of
Arabia menjadi ‘top box-office’ dunia pada 1962, berharap epik ini juga meraih
sukses yang sama.
A Man For All Season menjadi salah satu film ‘box-office’ dunia pada 1966, bersama dengan Hawaii, The Bible, Who’s Afraid of Virginia Woolf, dan LT. Robin Crusoe, USN.
Total film ini menghaislkan uang 12.750.000 dolar Amerika. Tahun 1966, jumlah penonton menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. Kalau dijumlahkan seluruh hasil pendapatan dari lima film ‘box-office’ tahun 1992 ini sekitar 68.000.000 dolar Amerika, masih kalah jauh dibanding pendapatan The Sound of Music, ‘top box office’ 1965 yang menghasilkan 79.748.000 dolar Amerika.
Hawaii yang masuk dalam deretan nomor satu film yang menghasilkan uang terbanyak, 15.553.018, masuk dalam daftar film yang memasukkan uang paling sedikit sejak 1958. Tapi semua itu memang sama sekali tidak mengurangi kebesaran A Man For All Season dalam sejarah industri film Hollywood. Bagaimanapun, epik karya sutradara Fred Zinnemann ini, tetap merupakan karya besar pada masa itu.
Tak hanya penonton, para kritikus pun memuji film ini sebagai karya yang punya bobot nilai. ‘The New York Times’ memujinya sebagai film yang inspiratif bagi penonton yang berharap memiliki keberanian dan keteguhan hati. Sementara ‘Hollywood Reporter’ menyebut A Man For All Season sebagai ‘rare film for all times’.
Dalam perebutan Oscar, film yang dibintangi Paul Scofield, Wendy Hiller, Leo McKern, Robert Shaw, dan Orson Welles ini, mengumpulkan delapan nominasi Oscar. Dan akhirnya memboyong enam Oscar, masing-masing film terbaik, aktor terbaik (Paul Scofield), sutradara terbaik (Fred Zinnemann), skenario terbaik, ‘cinematography’, dan kiostum. Sedangkan Robert Shaw dan Wendy Hiller harus puas hanya masuk dalam daftar nominasi.
PRESTASI, POPULER. Adalah Sir Thomas More, tokoh sentral di kisah ini, adalah seorang politikus, penulis, pengacara, juga seorang humanis sejati, yang berambisi menjadi orang paling penting di Inggris pada masa itu. Ketika itu, pada abad 16, negeri itu mashi dipenuhi dengan ketidakadilan, kesewenangan, juga penyimpangan.
Prestasi gemilang yang diraih berkat buah pikirnya, akhirnya membuatnya digelari Henry VIII’s Lord Chancellor dari raja Henry VII. Tapi meski sudah masuk dalam lingkungan istana, Sir Thomas More tetap menolak meninggalkan keyakinan agamanya. Dia tetap penganut Katolik yang taat. Padahal pada masa itu Raja Henry VIII pemeluk Protestan.
Sebagai pemeluk Protestan, Raja Henry memang diizinkan untuk bercerai, yang konon sesuatu yang sangat disukainya. Sedangkan Katolik sama sekali tidak menerima perceraian.
Para aktor dan aktris Inggris yang mendukung film ini, pada masa itu memang hanya populer di negerinya dan Amerika. Seperti Robert Shaw, yang sebelumnya pernah main dalam From Russia With Love. Saat itu, Susannah York dan Vanessa Redgrave, yang masing-masing berperan sebagai Margaret More dan Anne Boleyn, juga baru memulai kariernya di layar perak. Orseon Welles mungkin satu-satunya aktor yang sudah sangat populer ketika main di film ini.
Paul Scolfield malah sama sekali asing bagi penonton Amerika. Tapi leawt film ini, dia menempatkan dirinya sebagai salah satu dari enam aktor Inggris yang sudah meraih Oscar selama kurun waktu 40 tahun terakhir (belakangan itu, 1952 hingga 1992-red) ini. Anthony Hopkins, yang meraih Oscar lewat The Silence of The Lamb bulan Maret 1992 lalu, menjadi aktor Inggris keenam yang meraih Oscar.
Yang agak disayangkan, RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia) memilih memutar film bagus ini pukul 09.00. Sebagai perbandingan saja, ketika diputar di Hongkong dan Singapura beberapa waktu sebelum bacaan ini dimuat Bintang, A Man For All Season diputar jam 21.00.
Ditulis oleh: Yanto Bhokek
Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar