BONUS BINTANG - AGAR TAK DITINGGALKAN PEMIRSANYA, KABAYAN ORANG BEKEN PERLU PEMBENAHAN (KOMEDI, TPI - SELASA, 26 MEI 1992 Pkl: 10.00 WIB)
KENDALA, KELAKUAN. Kegagalan apelnya yang pertama, membuat pak sekdes blingsatan. Ia tidak hanya menulis puisi untuk Imas, tapi juga membacakannya di atas pohon. Kelakuannya ini mengundang perhatian banyak orang. Termasuk mang Odot yang diberitahu hansip. Asyik. Atas usaha mang Odot pula akhirnya pak sekdes mau turun.
Adegan ini jadi terasa aneh. Ditambah lagi garapannya kurang cermat, dengan hanya mengumpulkan sekelompok orang pada satu sisi, hngga waktu kamea mengambil adegan pak sekdes di atas pohon dari sisi lain, tidak tampak ada orang di bawahnya. Kecermatan sutradara dan juru kamera, di sini kelihatan lemah sekali. Adegan yang tadinya, mungkin, diharapkan akan menimbulkan kelucuan, jadi membingungkan.
Perombakan skenario di lapangan yang dilakukan sutradara Abdi Wiyono, kayaknya bukan atas dasar ide, tapi atas dasar kesulitan pemain dan ketatnya waktu yang dimiliki. Seandainya kendala yang dihadapi ini benar, juga tidak membuat kehilangan kerja kreatifnya. Untuk melahirkan sesuatu yang bagus, tentu tidak bisa dilakukan asal jadi. Setiap adegan yang akan digarap, sebetulnya bisa diperhitungkan sebelum pengambilan gambar dimulai.
Kendala apapun yang dihadapi, seorang seniman akan mempertaruhkan karyanya. Apalagi perhitungan SRI (Survey Research Indonesia) sudah menunjukkan, Kabayan mendapat perhatian pemirsa paling banyak untuk wilayah Jakarta. Tapi kalau penggarapan seperti yang terjadi pada episode ke-17 ini, bukan tidak mungkin Kabayan akan ditinggalkan pemirsanya. Tak ada sesuatu yang dapat dipetik dari episode ini.
Semuanya berlangsung sangat singkat dan tak jelas. Hanya omelan Ambu, Abah, dan kesibukan hansip Asyik, serta mang Odot yang mengambil alih porsi Kabayan. Seandainya perombakan skenario yang dilakukan sutradara untuk menambah kelucuan serial ini, dan memadatkan persoalan yang ada, barangkali akan lebih menarik. Skenario yang ditulis Dani Karli, memang kelewat bertele-tele. Tak ada adegan yang menarik untuk divisualkan.
Kejelian seorang Abdi Wiyono, di sini sangat dibutuhkan sekali. Apalagi ini komedi yang mau tidak mau, harus menampilkan adegan yang setiap detiknya dapat membetot urat tawa pemirsa. Memang tidak mudah. Tapi, tak ada salahnya dicoba. Para pendukung lakon kayaknya dituntut pula untuk bermain wajar, supaya enak dilihat dan tidak kaku seperti selama itu. Terutama hansip Asyik dan hansip Pasti, dua tokoh yang selalu muncul pada setiap episodenya.
Kedua tokoh ini, akan lebih bagus seandainya kata Asyik dan Pasti yang diucapkan itu, disesuaikan dengan keadaan. Jadi, tidak setiap mau dialog harus didahulukan dengan kata asyik dan pasti. Hanya pada saat-saat tertentu saja yang memang perlu dikomentari dengan kata-kata itu.
Sebab, kata asyik dan pasti yang dilontarkan pada setiap dialog mereka, itu terasa janggal waktu diucapkan pada situasi dan kondisi yang tidak tepat. Barangkali memang pembenahan serial Kabayan ini (waktu itu) perlu cepat ditangani, kalau tidak mau ditinggalkan pemirsanya.
Ditulis oleh: M. Yamin Azhari
Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar