BONUS: AWALNYA, TV3 DIANGGAP SEBAGAI SIARAN ISENG. BISA JADI CONTOH TVRI DAN SISA-TV
LANGKAH BARU. Sejak 1 Juni 1984, Malaysia punya siaran
televisi swasta. Terdapat beberapa faktor penyebabnya TV3 mesti hadir. Sebelum
TV3 nongol, di tanah semenanjung hanya ada jaringan televisi RTM 1 dan 2. Kedua
saluran ini milik pemerintah. Sudah barang tentu, jika yang mengleola
pemerintah hal-hal yang ditayagnkan lebih bernilai penerangan, humas.
Untuk itu, dibutuhkan langkah baru (waktu itu) dalam mewujudkan sikap komunikasi yang luwes. Apalagi Malaysia merupakan negeri yang terdiri dari berbagai suku. Karena itulah, kemunculan TV3 tak langsung “menggelegar”. Melainkan dicuatkan secara terbatas untuk wilayah Lembah, Kelang, Kuala Lumpur, dan sekitarnya.
Kendati hanya dalam wilayah terbatas, toh uji cobanya membuat deg-degan. Masalahnya ini menyangkut tenaga profesional yang dipunyai, juga (waktu itu) belum siapnya rangkaian acara yang pasti. Namanya saja percobaan. Dan percobaannya, dimulai 20 April 1984 dengan membuka saluran 12, jam siarannya dari 3.00 hingga 6.45 petang. Siaran uji coba pun sangat sederhana. Hanya menayangkan gambar-gambar kaku, film-film ‘slide’ yang diberi ilustrasi musik ala kadarnya.
Pemirsa Kuala Lumpur sempat terperanjat, menyangkanya sebagai tayangan iseng. Baru kemudian dilakukan uji coba lagi pada 23-24 April 1984 dari jam 7 hingga malam serta di hari-hari berikutnya. Uji coba babak akhir ini tayangannya lebih rapi, diudarakan berita-berita aktual baik dari dalam maupun luar negeri, pertandingan Piala Thomas dan Uber 1984 yang kebetulan berlangsung di ibukota negara Malaysia (Kuala Lumpur-red), plus film bikinan Filem Negara Malaysia.
SEMPIT. Kru TV3 dalam OB Van. Mereka bekerja dengan semangat
tinggi, meski dalam bilik yang sempit
Tiba saatnya hari yang disepakati, di hari Jumat, 1 Juni
1984, beberapa hari menjelang umat Islam menunaikan ibadat puasa, TV3 resmi
mengudara. Menggunakan alat pemancar setinggi 91 meter dari permukaan laut,
terletak di Bukit Besi Cheras, TV3 mulai hadir di tengah pemirsa pada jam 5
petang hingga larut malam.
Siaran pertama itu boleh dikata masih mencari format. Selain berita, menyajikan film Malaysia, Hapuslah Air Matamu, lakonan Sharifah Aini dan Broery Marantika. Sedang pada siaran hari selanjutnya, film Indonesia pertama yang ditayangkan TV3 ialah Perkawinan 83 sutradara Wim Umboh, lakonan Meriam Bellina dan Sandro Tobing.
Untuk film seri barat yang menjadi daya tarik adalah The A Team, Knight Rider, Magnum PI, The Love Boat, Fame, Kennedy, juga Dynasty, ditambah serial musik Solid Gold.
LANGKAH OBYEKTIF. Ternyata gebrakan TV3 ini tak mengecewakan pemirsa. Para pengamat televisi – ahli-ahli komunikasi – berpendapat, kehadiran TV3 dirasa tepat sekali, karena pemrisa mulai jenuh dengan sajian dari jaringan televisi RTM 1 dan 2, sebaliknya TV3 mengetengahkan rancangan hiburan dan pengetahuan yang menarik. Sesuai dengan mottonya, “Saluran Hiburan Anda.”
Di luar itu, bagaimanapun ada persaingan positif terhadap RTM 1 & 2. Di awal pertumbuhannya, khalayak menyangka kalau TV3 dan RTM di bawah satu atap, yaitu Kementerian Penerangan. Mereka yang tidak dapat menangkap siaran TV3 merasa kesal, karena sudah membayar iuran televisi.
Mereka menganggap penyiaran yang terbatas di Lembah Kelang, Kuala Lumpur, sebagai tidak adil. Akhirnya, tak heran jika warga dari Port Dickson, Seremban, Raub, dan Temerloh – puluhan kilometer jaraknya dari Kuala Lumpur – berusaha meninggikan antenanya atau menambah alat lain supaya dapat menonton TV3. Organisasi TV3 dan RTM berbeda.
Yang mengendalikan TV3 adalah STMB, Sistem Televisiyen Malaysia Berhad, Syarikat swasta. Jadi, tak ada sangkut pautnya dengan organisasi kerajaan sebagaimana RTM yang sebagian dananya (waktu itu) datang dari hasil iuran. Pemasukan TV3 praktis bersandar lewat pemasukan pemasangan iklan.
Hubungan TV3 dan RTM adalah sebagai kawan bersaing – ‘friendly rivals’, karena kedua organisasi itu berada dalam satu masyarakat. Bila diperhatikan cermat, program TV3 dan RTM ada semacam konflik. Sesuai kadar objektivitas masing-masing. Dalam bidan ghiburan plus pengetahuan, harus diakui TV3 (waktu itu) menempati peringkat utama.
Namun, 1988 ini, RTM mencoba untuk menggeser. Di sinilah persaingan positif itu timbul. Sebaliknya banyak yang mencibir, sajian hiburan TV3 bisa bagus lantaran bukan buatan sendiri, cuma membeli dari luar. Juga perbandingan acara yang diketengahkan lebih berat produksi asing ketimbang siarna tempatan alias produksi sendiri.
Masalah ini ada hubungannya dengan dana. Jika lebih banyak menghidangkan siaran tempatan, maka duit belanja yang dikeluarkan begitu besar. Hal tersebut jadi bahan pertimbangan.
Perbandingan 80% paket dari luar dan sisanya produksi sendiri, selangkah demi selangkah (waktu itu) akan dikurangi. Baru setelah setahun TV3 berjalan, rancangan tempatan makin ditingkatkan secara berperingkat. Langkah ini diawali dengan menyiarkan berita. Pertama, TV3 menayangkan Berita Perdana pada 31 Agustus 1984 terbitan RTM, selanjutnya TV3 sendiri yang membuat liputannya.
HADIAH. Acara kuis, salah satu acara TV3 yang menarik.
Hadiahnya pun nggak tanggung-tanggung. Pemenang pertama: mobil Proton Saga,
buatan Malaysia
Kemudian dalam menyodorkan rancangan tempatan, TV3 tidak berdiam diri. Usaha terus dibuat, mulai dari drama, paket olahraga, kuis, dan acara anak-anak. Selain itu, lahri paket yang bagus, misalnya Penghibur, Majalah TV3, Kuali, dan Sekapur Sirih. Sedang untuk paket drama pertama buatan TV3 berjudul Maria arahan Suhaimi Baba. Diikuti lakon Syyy garpaan Othman Hafsyam.
Hafsyam, dalam Festival Film Malaysia 1987, dinobatkan sebagai sutradara terbaik berikut filmnya yang berjudul Rahsia. Tahun 1988, yang beberapa bulan lagi (dari kala bacaan ini diturunkan Monitor-red), usia TV3 menginjak 4 tahun, semakin gencar berbenah diri. Dari hari ke hari stasiun televisi swasta itu berupaya mencetak terobosan. 1988, telah membuat rencana paket khusus, termasuk film dokumenter. Begitu juga ditingkatkan paket tempatan yang berunsur kebudayaan.
Inilah persaingan. TV3 dan RTM adalah dua organisasi yang berbeda. Mereka adalah kawan bersaing. Kawan yang saling menyajikan dunia baru (kala itu) dalam informasi yang padat ini. Persaingan dapat tumbuh sehat, asal masing-masing tidak mengesampingkan kepentingan negara. Kiranya (harapan waktu itu) demikian hendaknya TVRI dengan SST (saluran siaran terbatas/RCTI-red) yang sebentar lagi (dari kala bacaan ini dimuat Monitor-red) bakalan mengudara.
Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi
Dok. Monitor – No. 69/II/24 Februari-1 Maret 1988, dengan sedikit perubahan





Komentar
Posting Komentar