BIOLA BANGSAKU: "KESAKSIAN SEJARAH ISTRI WR SUPRATMAN" (SINETRON MINISERI, ANTEVE - SENIN/SELASA & KAMIS-SENIN, 10-14 AGUSTUS 1995 Pkl: 20.00 WIB)
SEJARAH, VISUAL. Hari ini punya arti karena sejarah. Orang
bijak menyadari, seribu langkah ke depan tak akan pernah terjadi tanpa langkah
pertama. Sejarah bukan lompatan-lompatan peristiwa, tapi rangkaian peristiwa
yang padat dan bermakna. Penolakan terhadap sejarah, sama artinya dengan pengkhianatan.
Rangkaian sejarah secara runtut dipaparkan Judi Subroto leawt sinetron miniseri garapannya, Biola Bangsakoe. Judi mungkin ingin menggugah. Bahwa pesta 50 tahun emas yang saat itu (1995-red) tengah dirayakan, punya masa lalu (jauh sebelum 90an-red). Masa lalu yang sarat dengan pahit dan getir. Judi mencatatnya dalam catatan yang panjang, dan lantas menginterpretasikannya dalam bentuk visual.
Judi tampaknya tidak setengah-setengah. Termasuk ketika memilih sjeumlah pemeran seperti Putu Wijaya (Gajahmada), Agus Kuncoro (WR Supratman), Yatie Surachman (Salamah), dan Clara Shinta (Kartini). Selain itu, kehadiran Bagong Kussudiardja sebagai salah seorang pemeran mungkin menjadikan nilai plus untuk sinetron miniseri ini.
Biola Bangsakoe memadukan beberapa generasi. ‘Setting’-nya terpisah-pisah. Namun, justru dalam pilahan-pilahan itu terdapat kesatuan. Judi memulainya dari momentum yang sangat awal. Sumpah Palapa Gajahmada. Cikal bakal sebuah negeri yang nyaris terhempas karena kekejaman penjajah. Kemudian menggulirkan sejarah dalam kehidupan Pangeran Diponegoro hingga pergerakan Dr. Sutomo, dan berhenti dalam seluk beluk kehidupan WR Supratman.
Nafas Judi sebenarnya (waktu itu )masih panjang, tapi agaknya Judi merasa puas, menampilkan seperksekian bagian dari perjalanan sejarah yang terus melaju sampai 1995.
Entah kesengajaan atau apa, Judi bersembunyi dalam kehidupan Salamah, istri WR Supratman yang menciptakan lagu Indonesia Raya. Siapa pernah tahu kalau Salamah, yang (waktu itu) telah ditinggal mati WR Supratman, ternyata mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan lewat radio majikannya? Dan Salamah yang tengah mengepel lantai, cuma bisa menangis. Mengenang pria terbaik yang pernah dikenal dalam hidupnya.
Ditulis oleh: Lukmanoelhakim
Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar