BINTANG DANGDUT MASIH SEPI, KAKU, DAN KURANG SERU (TPI - SETIAP SENIN Pkl: 09.00 WIB)
IDE, EPISODE. Menangkap ide, menuangkan gagasan lalu mewujudkannya, susah-susah gampang. Gampang, bila sejak awal ide itu dirembuk bersama-sama, lantas menilainya – sambil tertawa atau kecewa – kembali secara bersama-sama pula. Tapi bisa pula menjadi sulit, bila proses transformasi ide tidak berjalan seperti yang diharapkan. Seperti yang terjadi pada 4 episode awal Bintang Dangdut.
Berawal dari ide membuat “Cipta Pesona Bintang versi dangdut”, akhirnya Bintang Dangdut mesti dinilai – maaf – sebagai acara yang tidak punya pesona. Penilaian ini bukan datang dari para kritikus, namun dari para awam (penggemar dangdut) yang terlanjur berharap banyak.
“Kok sepi? Kok panggungnya nggak meriah? Kok nggak ada penontonnya? Kok gerak kameranya nggak seru? Kok musiknya rekaman? Kok nggak ada MC-nya? Kok tampang penyanyinya kaku? Kok bintang tamunya nggak terkenal?,” itu sederet pertanyaan yang sampai ke redaksi BI (Bintang Indonesia).
Pertanyaan itu boleh saja dijawab dengan, “Maaf, persiapannya buru-buru.” Tapi, konsekuensi dari jawaban semacam ini, adalah pertanyaan yang lebih berharap dari sebelumnya. Misalnya, kalau begitu, mestinya “Minggu depan lebih bagus, ya?” atau “Bener nih?” Jadi, dalam konteks ‘entertainment’ – jangan sampai minta maaf lebih dari satu kali. Harpaan pemirsa bisa terpupus, bahkan kandas.
Kali ini, lagu Mutiara Hidupku dari Rhoma Irama membawa hoki bagi seorang peserta. Jurinya Ikram Mahu, Neneng Anjarwati, dan Mus Maestro. Bintang tamunya Minawati Dewi, yang (waktu itu) akan menyanyikan Mabuk Lagi ciptaan Aad Arsyad. Sekadar informasi, bila (waktu itu) berminat menjadi peserta, BI (Bintang Indonesia) – waktu itu – masih menerima kaset-kaset rekaman suara Anda. (Waktu itu) lengkapi dengan biodata singkat.
Ditulis oleh: Heri Sugiyanto
Dok. Bintang – No. 214/Th. V/minggu kelima Maret 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar