BIMO DAN ABIMANYU: "ANTARA CINTA ADIK DAN IMPIAN JADI ATLET" (SEPEKAN SINETRON REMAJA, TVRI PROGRAMA 1 - SELASA, 25 MEI 1993 Pkl: 21.30 WIB)

SULIT. Bimo dihadapkan pada dua pilihan; menjadi atlet terkenal, atau berkorban demi sang adik 

DARAH, DOKTER. Bimo melompat melampaui net dan melancarkan smash dengan tangannya yang kukuh. Dan bola pun mendarat di wilayah lawan dengan mulus. Dengan ‘blocking’, ‘smash’, ‘serve’ yang bagus, Bimo adalah bintang di klub ‘volley’-nya. Dan dengan segenap potensi yang dimiliki, bukan tidak mungkin Bimo akan menjadi atlet yang tangguh. Tapi keperkasaannya di lapangan, mendadak menjadi goyah, ketika kondisi kesehatan adik laki-lakinya, Abimanyu, semakin parah.

Ginjal Abimanyu memang sudah lama tak berfungsi dengan baik. Dan semakin lam akian memburuk. Cuci darah yang harus dia lakukan frekuensinya semakin meningkat. Keadaan ini jelas membuat keluarga Prastowo, ayah Bimo gundah. Iba dengan kondisi Abimanyu, dokter yang merawatnya lalu menyarankan untuk melakukan cangkok ginjal.

Dan betapa Bimo dihadapkan pada posisi yang teramat sulit saat dokter mengatakan, bahwa ginjalnyalah yang paling cocok untuk dicangkokkan pada tubuh Abimanyu. Bimo pun dihadapkan pada pilihan sulit. Menolak memberikan ginjalnya, berarti dia merelakan sang adik yang sangat dicintai sekarat menunggu maut menjemput. Tapi kalau dia memberikan ginjalnya, lalu bagaimana dengan masa depannya, bagaimana dengan mimpinya menjadi atlet bola voli ternama?

Karena dalam cerita sinetron harus ada konflik, maka Ananto Widodo yang menulis skenarionya, menggelar pertentangan dan konflik batin Bimo, sebelum akhirnya sang tokoh menemukan kemantapan diri dan menentukan pilihan.

Bimo yang galau, mencoba mencari kepastian dengan bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang dianggapnya lebih mengerti. Namun, kepastian tak juga diperolehnya. Nasihat-nasihat yang diterimanya justru membuat konflik batin Bimo semakin menghebat.

Kalau pada akhirnya Bimo berucap, “Ya, kuserahkan ginjalku untuk adikku,” kekuatan ini bukan dia dapat dari hasil konsultasi dan dialog. Kekuatan dan keberanian mengambil keputusan itu didapat Bimo setelah dia melihat sepasang pengamen yang berjuang dengan nasibnya. Melihat perjuangan pengamen ini, kesadaran Bimo mencuat.

Konflik yang dibangun dari penyakit, yang lalu digabungkan dengan pengorbanan, persaudaraan, cinta dan kesetiaan, memang bukan cerita baru. Sudah terlalu banyak cerita model begitu dibuat. Tapi di sinilah kesanggupan Encep Masduki sebagai sutradara, dan kepiawaian Rivaldi Zulkarnaen, Fahmi Yahya, Arie Sanjaya dan Utty Suryadi sebagai pemain, ditantang. Bagaimana dia bisa memperbarui tema lama ini menjadi tontonan yang masih segar.

Sinetron yang digelar di hari pertama sepekan sinetron remaja ini, sengaja tak pihak Bintang komentari terlalu banyak. Pihak Bintang lebih menryeahkan penilaian baik buruknya pada pembaca. Jangan lupa, pihak Bintang menyediakan kuis isnetron terbaik pilihan pembaca.

Ditulis oleh: M. Yamin Azhari

Dok. Bintang – No. 117/Th. III/minggu ketiga Mei 1993, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer