BERITA NASIONAL (TVRI): "PENYAJIAN BERITA DENGAN BIAYA MAHAL"

 


MOTIVAI, EFISIENSI. Semenjak April 1992, TVRI mulai memanjakan pemirsanya dnegna tayangan-tayangan langsung. Begitu pula dnegan sajian berita, seperti yang sudah diperlihatkan dalam Berita Nasional pukul 19.00 WIB. Dengan sistem ‘terrestrial’ dari Telkom, pemirsa bis amenyaksikan beberapa materi berita yang disiarkan langsung dari TVRI stasiun-stasiun daerah. Banyak yang menyebut siaran seperti itu adalah ‘teleconference’. Padahal, istilah itu kuranglah tepat.

Seharusnya, seperti yang diungkapkan JB Wahyudi, kasie ‘monitoring’ TVRI, yang lebih tepat adlah ‘down the line’. Soalnya, visualisasi dan repotase berita di lapangan itu tidak siaran langsung pada saat itu juga. Hanya teknis penyiarannya saja yang disiarkan secara langsung.

(Perlu dijelaskan, bahwa kalau siaran langsung, seluruh materi yang ada benar-benar terjadi saat itu juga. Sedangkan disiarkan langsung, materinya merupakan rekaman, sementara teknis penyiarannya langsung dilakukan dari daerah yang bersangkutan).

Salah satu contoh bentuk ‘teleconference’ adalah ketika TVRI menyiarkan secara langsung peluncuran satelit Palapa B4 di Florida, Amerika Serikat, Kamis, 14 Mei 1992 lalu. Jadi, gampangnya, ‘teleconference’ itu merupakan siaran langsung wawancara/berita jarak jauh. Sedangkan ‘down the line’, materi beritanya merupakan rekaman atau tidak diliput pada saat itu juga. Direktur Televisi Ishadi SK pun mengakui bahwa istilah itu memang kurang tepat.

“Akan tetapi ‘teleconference’ sebetulnya bisa kita lakukan! Misalnya, dengan adanya dialog langsung antara yang di Jakarta dengan narasumber di daerah mengenai suatu peristiwa! Ya, pelan-pelan dululah! Nanti arahnya juga akan ke sana!,” tegasnya (waktu itu). Dan yang telah ditegaskan Direktur Televisi Ishadi itu pun pernah dibuktikan TVRI, ketika memberitakan pertandingan tinju di Surabaya beberapa waktu sebelumnya.

Untuk menyajikan berita ‘down the line’, ternyata dibutuhkan dana sekitar 500 juta rupiah per bulannya. “Tapi kita masih mau negosiasi lagi dengan Telkom. Kita sedang berusaha agar dana bisa ditekan sekitar 100-150 juta rupiah per bulannya,” ungkap Ishadi. Memang, persoalan dana ini terasa kian membengkak bila tidak diberlakukan efisiensi dalam pengelolaannya.

Sebab, mengucurnya dana itu tak hanya dihitung pada waktu siarannya saja, tapi sudah dimulai dari saat berita itu diproses sampai mengkonfirmasi berita yang siap siar. Nah, melalui jalur ‘four wire’ ini, biaya sudah mulai dihitung. “Kemungkinan nantinya, kita tidak harus menggunakan ‘four wire’ dalam mengirim berita, cukup melalui teleks! Ini untuk menghemat biaya!,” tandas Ishadi.

Di samping itu, pemunculan penyiar-penyiar daerah terasa sebagai suatu pemborosan biaya dan ‘overlapping’. Sebab, sebetulnya pengantar berita itu sudah bisa diwakili/dibawakan penyiar Jakarta. Jadi, ketika dihubungkan dengan stasiun daerah, berita bisa langsung dilaporkan reporter yang bertugas, dan tak perlu lagi dulangi pengantarnya oleh penyiar di daerah.

“Tapi, untuk sementara ini, kita memang perlu melakukan itu. Sebab, kita ingin TVRI terlihat sebagai alat pemersatu, yang sekaligus bisa mengangkat imej Berita Nasional,” kata Ishadi. Sedangkan menurut Gunawan Subagio, kasubdit pemberitaan TVRI, “Penyiar itu dimunculkan untuk memotivasi stasiun-stasiun daerah.” Boleh jadi juga, “Munculnya penyiar daerah itu untuk menyegarkan penonton,” kata Zulkifli Bahar, kasie pemberitaan TVRI Jakarta.

Selain dari itu, bobot materi-materi berita yang dikirimkan, agaknya, tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Sebab, masih terlihat adanya berita-berita yang sifatnya ‘human interest’ yang tidak terikat waktu (‘timeliness’). Sehingga, sebetulnya, materi berita seperti ini bisa dikirimkan lewat jalur darat, tak perlu menggunakan sistem ‘terrestrial’. Jadi, bisa lebih menghemat biaya.

“Sebagai orang jurnalis, kita memang harus mengejar aktualitas. Tapi, karena ini suatu yang baru bagi stasiun daerah, tentu banyak kendala-kendalanya. Bahkan kalau ada yang bilang beritanya tidak aktual, untuk sementara ini tidak apa-apalah. Yang penting semua dilibatkan dulu. Pokoknya, asal berita itu tidak berbau undangan, perlahan-lahan semuanya nanti kita benahi,” janji Gunawan Subagio.

Sedangkan menurut Zulkifli, soal kriteria berita ini, “Yang mendapatkan prioritas utama, berita yang aktual atau berita yang ada ‘issue’ nasionalnya. Tidak menutup kemungkinan masuknya berita-berita yang bersifat ‘human interest’, tapi tidak ‘timeliness’. Dalam soal memilih berita, kita perlu ‘super’ hati-hati’, sudah hati-hati, pakai ‘super’ lagi,” katanya.

Namun, paling tidak kendati aktualitasnya (waktu itu) masih kurang, itu sedkitnya sudah bisa menghilangkan berita-berita yang sifatnya seremonial. “Barangkali tinggal 20% yang sifatnya seremonial di Berita Nasional,” tambahnya.

KOMPETISI, EVALUASI. Menurut Gunawan Subagio, penyajian berita dengan cara ini bisa dijadikan ajang kompetisi secara sehat bagi stasiun daerah untuk memacu kreativitas dalam mengejar berita. “Kalau ada staisun daerah yang tidak ikut, bisa dibilang melempem, terutam aoleh masyarakat,” ujarnya.

Hawa kompetisi ini juga dirasakan oleh Kelly Saputro, koordinator ‘down the line’ Berita Nasional. “Kalau kita sedang melakukan hubungan dengan ‘four wire’, seru sekali mendengarnya. Sebab, di antara masing-masing stasiun daerah suka saling mengejek, dalam arti positif. Mereka akan meledek stasiun lain kalau materi yang dikirimkannya ternyata kurang berbobot,” ungkap Kelly.

Ia pun terkadang merasa kecolongan dengan sekilas gambaran berita yang dikirimkan stasiun daerah lewat ‘four wire’. “Ternyata setelah muncul di layar, judul yang mereka katakan bombastis itu tidak sebanding dengan isinya. Makanya, setelah itu kita suka melakukan evaluasi. Atau kalau belum saatnya mengudara dan ternyata beritanya masih kurang berbobot, ya kemudian kita arahkan dari sini,” tambah Kelly lagi.

Untuk menerima berita-berita dari daerah, dibentuk sebuah tim yang terdiri dari 6 orang dengan koordinator Kelly Saputro. Sedangkan untuk menyeleksi berita yang akan disiarkan, dirapatkan dahulu di dalam sidang redaksi. Dari sini terkadang tiga atau empat materi berita yang dikirim dari salah satu daerah, hanya dua atau mungkin satu materi yang lolos.

“Bahkan ada yang satu berita pun kita tidak disiarkan,” ungkap Zulkifli. Namun, ada juga yang bisa lolos semuanya. “Kalau kita mengirim tiga berita dan semuanya disiarkan, kita merasa bnagga. Karena itu, kita selalu mencari berita yang benar-benar ada ‘news value’-nya. Dan setiap hari Kamis, kita selalu melakukan evaluasi,” ungkap Halim Nasir, kepala TVRI Stasiun Bandung.

Yang dilakukan TVRI lewat Berita Nasional memang suatu kemajuan yang patut didukung. Sebab, selama itu penyajian berita-berita di TVRI sering mendapatkan kritik dari masyarakat, lantaran banyak berita undangan. Seperti pula yang dikatakan Direktur Televisi Ishadi bahwa perubahan Berita Nasional awalnya untuk merubah imej berita di TVRI. Dan untuk mendobrak hal yang sudah membudaya, tak bisa langsung diperlakukan, harus perlahan-lahan.

Tapi kalau meihat besar biaya yang dikeluarkan, apalagi mengingat TVRI kekurangan dana, sudah waktunya (kala itu) selektivitas berita lebih diperketat. 1992, sudah saatnya dilakukan evaluasi terhadap pola penayangan dan kriteria bobot beritanya, sehingga tidak ada kesan permobosan biaya. Toh, cara penyajian berita semacam ini (sampai Mei 1992-red) sudah berjalan hampir dua bulan. Waktu yang cukup untuk pembenahan.

Ditulis oleh: Wawan Tunggul Alam

Dok. Bintang – No. 65/Th. II/minggu keempat Mei 1992, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer