ANANG-KRISDAYANTI GAGAL DAPAT MOMONGAN
PASANGAN muda (kala itu), Anang Hermansyah dan Krisdayanti (KD), agaknya (perkiraan waktu itu) harus menunda keinginan memiliki anak. Pasalnya, kandungan Yanti, panggilan Krisdayanti, yang (waktu itu) baru berusia satu setengah bulan, tidak kuat bertahan. Padahal, (kala itu) belum lama, pasangan ini dengan bangga mengumumkan kehamilan.
“Kata dokter, Yanti terlalu capai, jadi janin yang belum berbentuk di kandungannya tidak sehat,” kata Anang. Krisdayanti membenarkan perkataan suaminya. Selama hamil, ia memang tidak mengurangi kegaitan. Bahkan, kesibukannya sering memaksanya pulang sampai jam 4 pagi. Ditambah lagi, ia juga (waktu itu) masih rajin menjalankan ibadah puasa.
Namun, menurut Krisdayanti bukan faktor kelelahan saja yang membuta janinnya tidak bertahan lama. “Pengaruh alat kontrasepsi juga sangat kuat. Sebelumnya khan aku pakai pil KB. Kandunganku masih kering. Jadi janinnya tidak berkembang,” jelas Krisdayanti.
Peristiwanya sendiri terjadi ketika Krisdayanti pulang dari syuting untuk acara TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) sekitar delapan hari sebelum Lebaran 1997. Krisdayanti merasakan sesuatu yang tidak enak pada dirinya. Benar saja, ia yang sudah satu setengah bulan (hingga saat itu) tidak mendapat menstruasi, mengalami pendarhaan meski tidak parah.
“Aku sedih sekali, apalagi mas Anang. Pertama kali mendengar berita itu, dia sangat sedih. Dia sudah pengen banget punya momongan. Tapi mas Anang itu orangnya dewas, dia tidak membiarkan aku berlarut-larut dalam kesedihan. Dia bilang mungkin belum rejeki kita,” ungkap Yanti.
Padahal, ketika mendengar istrinya telat 2 minggu, Anang sangat gembira. Begitu gembiranya, hingga ia langsung membuat lagu untuk anaknya. Tidak tanggung-tanggung, selama sebulan Anang bisa menghasilkan empat buah lagu. “Pokoknya setiap ada ide, baik itu di perjalanan atau di mana saja, aku langsung ambil gitar dan menciptakan lagu. Rencananya lagu-lagu itu akan dikeluarkan begitu anakku lahir. Tapi dengan kejadian ini, terpaksa aku tunda,” kata Anang.
Sebelum mengalami keguguran, Krisdayanti sudah merasakan tanda-tanda orang hamil meski usia kandungannya kurang dari dua bulan. “Sudah terasa. Pinggang dan badan pegel-pegel, terus perut rasanya mual,” tuturnya. Krisdayanti mengaku, sebenarnya ia memendam rasa takut untuk mengandung. Bahkan bila ada temannya yang hamil, ia yang lebih dulu panik. “Aku takut sakitnya itu lho. Kalau ada teman yang hamil, aku selalu tanya sakit nggak, sih?,” katanya.
Meski demikian, Yanti justru ingin segera mendapat pengganti calon anaknya yang hilang. “Saya sudah dapat pelajaran dari pengalaman ini. Kalau Tuhan memberi saya kesempatan lagi untuk mengandung, tentunya saya akan mengurangi kegiatan. Insya Allah, selepas Abad 21 (sinetron di Indosiar yang dibintangi KD-red), bulan April mendatang (1997-red), kami bisa mendapatkannya lagi. Habis Anang sudah pengen banget,” ujar Krisdayanti (waktu itu).
Belajar dari pengalaman, Anang dan Yanti (waktu itu) mulai mengadakan persiapan. Mereka rajin berkonsultasi ke dokter. “Aku ingin punya anak banyak. Kalau bisa sih enam. Aku nggak takut akan kerepotan. Masing-masing anak khan bawa rejeki. Kebanyakan? Nggak ah. Khan biar Lebaran rame,” kata Yanti.
“Aku juga inginnya begitu. Tapi kalau melihat jumlah keluarga kita masing-masing Yanti tiga, aku juga tiga. Kayaknya sih sekitar tiga atau empat paling banyak. Pokoknya gimana dikasihNya saja deh,” kata Anang. Anang sebenarnya telah menginginkan kehamilan Krisdayanti segera setelah pernikahan. Tapi karena Yanti masih terikat kontrak dengan beberapa pihak (waktu itu), niat untuk itu terus ditunda.
Sayang memang, ketika punya kesempatan untuk itu, mereka belum diberi keberuntungan. Namun demikian, kemesraan pasangan yang menikah tanggal 21 Agustus 1996 lalu ini tidak terganggu oleh kesedihan itu, seperti pada ‘Valentine Night’ yang diselenggarakan Fashion Café, 14 Februari 1997 lalu, pasangan ini asyik melantunkan lagu-lagu cinta dengan gaya mereka, tentunya.
Ditulis oleh: Ida M. Palaloi
Dok. Bintang – Edisi 310/Th. VI/minggu ketiga Februari 1997, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar