ALI SHAHAB
‘BOOM’, BOIM. Ali Shahab, ketua umum Asosiasi Rumah Produksi
Indonesia (ARPI), mengungkapkan bahwa tahun 1992-1993 ini merupakan tahun
‘boom’ bagi sinetron Indonesia.
“Waktu saya bikin rumah produksi di tahun 1982, sinetron yang ada baru satu dua. Kemudian pada 1984 jumlahnya ada 12 buah. Nah, yang mengejutkan, pada saat film Indonesia merosot di tahun 1992, yang hanya memproduksi 17 judul, jumlah produksi sinetron membengkak menjadi 622 buah. Ini menjadi suatu fenomena yang cukup membanggakan,” kata Ali Shahab.
1993 ini, tercatat ada 200 lebih rumah produksi di Indonesia. Untuk mengantisipasi datangnya film-film asing melalui 5 televisi swasta (RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar-red), Asosiasi Rumah Produksi berusaha membantu rumah produksi yang ada dalam meningkatkan produksi, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. “Jadi, sinetron yang dibikin tidak sembarangan, tapi bisa dijual di staisun-stasiun teve swasta itu,“ ujarnya. Sinetron yang bisa dijual?
“Iya, sinetron yang bisa dijual berarti rumah produksi bisa diuntungkan! Sebaliknya, teve swasta merasa mendapat berkah dengan banyaknya rumah produksi! Kalau nanti di layar teve itu disajikan film asing melulu, bagaimana nasib anak-anak kita?
Saya yakin mereka akan melupakan budaya bangsanya sendiri, jika tidak ada keseimbangan sajian acara televisi asing dan lokal!,” tegas Ali Shahab yang sampai saat itu (1993-red) masih gemes sama Boim gara-gara mempelesetkan kebudayaan Betawi.
Kita semua berharap (waktu itu) sinetron bisa menjadi alternatif sebagai media berekspresi. Tapi, mulai 1993, mesti dipikirkan megnenai organisasi yang bernama Asosiasi Rumah Produksi ini. Jangan sampai nantinya terjadi kericuhan kalau sudah membicarakan suksesi kepemimpinan organisasi, kayak PARFI.
Ditulis oleh: Asep Sambodja
Dok. Bintang – No. 127/Th. III/minggu keempat Juli 1993, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar