AGUNG LAKSONO: "TITIK IMPAS"

 
“JANGAN termakan isu ANteve akan dipindahtangankan. Rencananya kita akan investasi sampai 200 milyar rupiah. Dan investasi sebesar itu akan mengalami ‘break even point’ (titik impas) pada tahun 1996,” ungkap Agung Laksono, salah seorang komisaris ANteve. Bahkan tahun 1994, menurut Agung, selain empat pemancar yang (sampai saat itu) sudah berdiri (Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Lampung), sembilan stasiun pemancar (waktu itu) segera berfungsi.

Uniknya, (perkiraan waktu itu) mungkin yang pertama, stasiun pemancar ANteve (waktu itu) akan menempati satu lokasi yang sama dengan pemancar TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Agung Laksono menyebutnya ‘co-location transmitter system’. Di mana ada stasiun TPI, di lokasi tersebut berdiri juga pemancar ANteve (tentunya dengan frekuensi dan saluran berbeda).

“Hingga menjelang setahun siaran ANteve (mulai siaran 28 Maret 1993), tak kurang 80 milyar rupiah telah dikeluarkan stasiun swasta ini. Biaya sebesar itu, selain untuk biaya operasi, juga untuk investasi pembangunan pemancar.”

Tentang siarannya di wilayah Jakarta yang sempat terhenti gara-gara pemancar ANteve disambar petir, Agung menjelaskan, terhitung sejak tanggal 5 Februari 1994, penonton sudah bisa mencari frekuensi ANteve (Andalas Televisi). “Kami bahkan menambah kekuatan daya pancarnya, semula hanya 10 kilowatt, nantinya akan menjadi 20 kilowatt,” jelas laki-laki anggota DPR, dan pengurus DPP Golkar ini (waktu itu).

“Dengan slogan ‘watch us in 1994’ kami harap penonton lebih tertarik lagi menikmati program tayangan ANteve. Bagi pemilik parabola silakan pantau terus siaran kami. ANteve tak melakukan pengacakan (‘scrambled’) untuk siarannya.”

Ditulis oleh: Aris Muda Irawan

Dok. Citra – No. 202/IV/7-13 Februari 1994, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer