ULASAN - MENEMBAK PEMBAJAK ATAU MENGAJAK: DUA-DUANYA ENAK

 

SEMINAR, SEMU. Kelompok studi perfilman Sinema Citra, mengadakan seminar sehari di gedung dewan pers, 14 April 1988 lalu. Banyak kepala, banyak mulut bicara. Bisa diduga seperti koor lagu lama: keluhan siaran TVRI selama itu.

Tapi, ada juga yang menarik. Ali Shahab, kreator film seri pertama dan terbaik, Rumah Masa Depan, menyinggung bahwa sinema elektronika adalah sinema masa depan. Dengan segala kecanggihan teknologi, bisnis, maupun kebutuhan.

Pernyataan ini kita ulas lantaran selama itu kebijaksanaan yang sama dalam film juga diterapkan dalam sinetron, sesuatu yang kemudian menjadi tidak pas di sana-sini. Karena dinamikanya juga tidak sejalan. Sehingga pengaturan produksi, persewaan, atau jual beli, berjalan semu. Realitas di luar, yang berkelebatan soal lain. Dari kaset video, toh bicaranya sekitar pembajakan. Film yang (ketika itu) baru lolos sensor, (waktu itu) sudah bisa disewa resmi di rental.

Bahkan sebuah lelucon muncul, kalau produser baru punya ide atau menemukan judul, esoknya hasilnya sudah bisa disewa. Lelucon yang lucu karena menyakitkan. Tapi, kenapa soal pembajakan bisa hancur-hancuran begini? Bukankah masalahnya sederhana? Pertanyaan pertama: apakah pembajakan kaset video dianggap serius “menghancurkan ketahanan nasional dalam bidang budaya” atau tidak.

Kalau tidak, ya sudah. Kalau iya, ya ditangani. Karena nama pembajak tidak terlalu asing, khan bisa didekati. Ditanya, apa mau ditembak, seperti pembajakan pesawat udara atau tidak. Atau apa sebenarnya tuntutannya? Kalau tidak ditembak, ya diajak ngomong enak-enak.

Ini pertanyaan kedua: kamu bajak saja deh yang luar negeri, tapi jangan yang produksi dalam negeri. Kalau film nasional, yaaa diatur tata kramanya kamunya bayar berapa? Yang tidak sederhana, mungkin pertanyaan ketiga: apakah kita siap dengan semua ini. Siap lahir dan batin. Siap dengan sikap menganggap bahwa pembajakan, merampok hak orang lain secara terang-terangan itu tidak cocok dengan Pancasila.

Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer