ULASAN - MC LUHAN, 25 TAHUN KEMUDIAN
BUKU, KUBU. Seperempat abad yang sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1964-red), sebuah buku berjudul ‘Understanding Media: The Extensions of Man’, yang ditulis oleh Marshall Mc Luhan, ahli komunikasi kelahiran Kanada. Pengaruhb uku tersebut, selalu dibicarakan kembali pada bulan-bulan ketika bacaan ini dimuat Monitor.
Buku itu dianggap pertama-tama membicarakan masalah pertelevisian, dan beberapa dalil yang (masih selalu dikutip, dikaji ulang, dipertanyakan hingga saat itu.
Beberapa di antaranya adalah “ayat-ayat” yang mengatkan bahwa “perantara itu pesan”, ‘the medium is the message’., “media panas dan media dingin”, ‘hot and cool meida’, serta pengertian-pengertian “kampung menyeluruh”, ‘global village’. Mc Luhan menyebutkan televisi adalah media yang “dingin”, sementara radio, surat kabar, film, adalah media yang “panas”.
Pengertiannya, kita bisa lebih santai menikmati televisi, lebih mengnadalkan imajinasi. Lebih mudah menikmati sajian media televisi. Manusia pun mempunyai temperamen yang “dingin” dan “panas”. Kalau temperamennya panas, ia banyak dirugikan. Contoh kongkretnya, Nixon kalah debat lawan Kennedy di tahun 1960, karena pribadi Nixon termasuk “panas”.
Sedangkan mengenai “kampung menyeluruh” yang melandasi teorinya adalah bahwa: “Sekarang (1989-red) dunia tersuruk ke suatu tempat, di mana informasi menyebar dari segala penjuru dunia secara serentak… Kita berada dalam kampung kecil yang namanya dunia.”
25 tahun yang sebelumnya (1964-red), ramalannya (belakangan itu, 1989-red) sebagian terbukti. Sistem siaran dengan satelit, video, penggunaan sinar laser, sistem penyiaran siaran televisi dengan ‘high-definition’, juga sudah dilihat sebelumnya.
Yang (waktu itu masih menggeletarkan, teorinya mengenai “Perantara Itu Pesan”. Dalam hal ini, penulis buku yang poleh pmeujanya dianggap “nabi komunikasi” tapi oleh kubu pengritiknya dikecam sebagai “filsuf pop yang tak punya disiplin”, menuliskan, “Pengelolaan televisi tak ada hubungannya dengan program. Semuanya berhubungan hanya dengan televisinya itu sendiri.”
Dengan kata lain, memiliki media dalam hal ini memiliki pesawat televisi, sudah menunjukkan “gengsi”. Baik atau buruk suatu acara, program yang disusun, akan mengubah manusia. Sebab, “perantara” yang bernama pesawat televisi itulah sebenarnya “pesan”!
Dalam contoh kongkret kehidupan sehari-hari, kadang (waktu itu) masih kita jumpai, seseorang membeli lemari es untuk gengsi, karena di rumahnya (waktu itu) belum ada listrik. Akhirnya, bisa saja lemari es itu untuk menyimpan pakaian atau kebutuhan lain, yang berbeda fungsinya dengan alat itu.
Ada yang menggetarkan dari buku ‘Understanding Media’. Meskipun penulis itu meninggalkan enam anak dan istri ketika meninggal tahun 1980, dan sejumlah karya yang lain, tapi memang hanya satu buku itu yang setiap tahun masih dikaji. Bahkan dulu (jauh sebelum 1966-red), Presiden Sukarno membicarakan juga.
Mengikuti arus perkembangan pengkajian buku itu, mugnkin kita bertanya-tanya, apakah benar “Perantara Itu Pesan”, masih juga berlaku? Apakah lebih berarti membangun gedung daripada mengisi dengan kegiatan? Apakah dianggap sudah cukup mendirikan stasiun siaran televisi – swasta atau bukan – tanpa memperdulikan program yang ada? Apakah pabrik yang dibangun, jalan, kemegahan semua itu terhenti sebagai “pesan”?
Kita ditarik kembali ke 25 tahun yang sebelum bacaan ini dimuat Monitor (1964-red). Yang sebagian “ramalan” McLuhan telah dibuktikan kebenarannya oleh zaman. Kita bisa mengubahnya. Sebab kita bebas untuk membuktikan masa depan kita sendiri. Meskipun kalau sebagian saja benar, apa yang ditulis. McLuhan memang mengerikan.
Ditulis oleh: Arswendo Atmowiloto
Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan


Komentar
Posting Komentar