SENYUM NONA ANNA, SENYUM MENYINDIR DARI PIALA BERGILIR (FILM CERITA AKHIR PEKAN, SENYUM NONA ANNA/TVRI - SABTU, 23 APRIL 1988 Pkl: 22.30 WIB)

Agust Melasz

BAGAIMANAPUN, akhirnya TVRI menanggung beban. Kendati dalam pola acara baru (era itu) yang dimulai April 1988 ini, yang memberikan peluang penyiaran terhadap “film cerita lepas”, toh kenyataannya pemutaran film nasional menempati porsi kecil. Sebulan 2 kali. Itu pun ditempatkan pada paket akhir pekan, yakni minggu pertama dan ketiga.

Memang bisa dimengerti, bahwa kesulitan mencari bahan, terutama film-film terbaru (era itu), menjadi momok. Tetapi, bukan alasan jika TV3 atau RTM 1 Malaysia kerap menayangkan film-film Indonesia justru (waktu itu) masih gres. Maklum, kedua stasiun negeri tetangga itu mampu membeli dengan harga mahal.

TVRI selalu menyiarkan film-film nasional yang (waktu itu) sudah basi. Seperti film berjudul Senyum Nona Anna ini. Disutradarai Sugiman Djayaprawira. Senyum adalah film yang diproduksi 10 tahun sebelumnya (1978-red). Dan sutradaranya – juga telah melahhirkan film si Comel – 1988 namanya telah memudar.

Kisah Senyum terasa ringan, malah tidak masuk di akal. Pemirsa bisa komentar macam-macam bila menyaksikan tingkah polah pak Raden (S Bagio), seorang kaya raya, yang tidak menaruh perhatian pada anak-anaknya gara-gara kecanduan membaca komik. Di lain pihak, ibu Raden lebih banyak berdandan dan sering pergi arisan.

Mungkin, S Bagio yang main, sang sutradara mengemasnya menjadi tontonan humor. Ada adegan yang tak logis. Pagi hari, pak Raden gerah, kendati rumahnya mewah, punya mobil dua. Tidak punya kipas angin? Bisa jadi adegan semacam itu adalah humor, tapi ya sang sutradara terlalu memaksakan.

Jadinya, Senyum ini serba tanggung. Bahwa sang sutradara mau mengetengahkan film humor (selain Bagio yang main, masih ditambah lagi pelawak Sol Saleh, Daro Helm, dan Diran), kok jadinya kian melenceng? Smapai-sampai menyangkut dalam urusan akting. Ibu Raden yang kerjanya cuma merawat kecnatikan plus les mode, akhirnya mirip gambar pajangan.

Lalu, tentang nona Anna-nya? Dia cantik sekali. Usianya 21 tahun dan dijuluki: piala bergilir. Julukan tersebut tepat. Soalnya anak pak-bu Raden ini kerap ganti-ganti pacar. Pertama, pacaran dengan Bob, tak lama kemudian putus karena merasa terhina. Disambung dengan mas Trisno, mahasiswa fakultas teknik, calon insinyur yang tingkah lakunya seperti orang linglung. Mas Trisno ini sering menjadi bahan ejekan Nina, adik kandung Anna.

Lepas dari mas Trisno, Anna pacaran sama seorang pelukis Anwar. Pacaran mereka tidaklah lenggang. Lantas, Anna melirik Herman, bekas teman di SMA. Anna dan Herman ini dulu pernah cekcok. Dan pertemuan mereka ini sebetulnya tidak sengaja. Suatu saat Anna dan Anwar berada di pusat perbelanjaan. Tak diduga barang berharga milik Anna dicopet.

 

Dina Mariana 

Di sinilah, muncul Herman yang menangkap pencopet itu. Dan di tempat itu pula, begitu Anna bertemu Herman, senyum manis itu menebar. Singkatnya, Herman pun berpacaran sama Anna. Tapi sebelum itu Herman sudah berteman akrab dengan Nina. Bahkan mereka berdua sering pesiar. Tentu Nina cemburu bila Herman pacaran dengan kakaknya.

Nina marah-marah, sampai Nina minggat dari rumah. Bagaimana film ini berakhir? Penyelesaiannya mudah. Sebuah mobil menabrak Nina. Akibatnya dia harus dirawat di rumah sakit. Kejadian berikutnya pak-ibu Raden, Anna dan Herman menjenguk Nina. Mereka saling bermaaf-maafan. Memang, Senyum ini sengaja dibuat dengan gaya menyindir. Gambaran suatu keluarga yang sibuk dengan segala tetek-bengek urusannya, sehingga tidak sempat mengurusi anak-anak.

Ditulis oleh: Syamsuddin Noer Moenadi

SUSUNAN PEMERAN:

S. Bagio – pak Raden

Nani Wijaya – ibu Raden

Eva Devi – Anna

Dina Mariana – Nina

Darto Helm – Anwar

Bulbul Salim – Bob

Sol Saleh – R.M. Sutrisno

Agust Melasz – Herman

KRU:

Sutradara: Sugiman Djajaprawira

Penata musik: Gatot Sudharto

Juru kamera: H.M. Thaba

‘Supervisor’: Wim Umboh

Dok. Monitor – No. 77/II/minggu ke-3 April 1988/20-26 April 1988, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer