BONUS - GELAS RETAK DAN AKHIR PENYELEWENGAN DENGAN SEMANGAT JEPANG SEBAGAI PUNCAK (SEPEKAN SINETRON, GELAS RETAK/TVRI - SENIN, 29 AGUSTUS 1988 Pkl: 22.35 WIB)
BISA disebut sinetron sinetron Gelas Retak (TVRI) termasuk
di antara paket jempolan yang dikemas Teater Koma, Jakarta. Dengan pengarah
acara Dedi Setiadi, Gelas ini pertama ditayangkan sebagai sajian akhir pekan
(30 Oktober 1982). Siaran ulang, 1988, ternyata, tetap pantas untuk disimak.
Tema keluarga yang disodorkan (waktu itu) masih aktual. Masalah penyelewengan merupakan bencana yang datangnya bisa tiba-tiba. Dalam format lain, penulis bacaan ini (Syamsuddin Noer Moenadi) sengaja membandingkan Gelas ini dengan film Fatal Attraction garapan Adrian Lyne.
Semua tahu Fatal sudah menjadi buah bibir, lantaran film ini dianggap menyudutkan kaum wanita. Namun, demikianlah gambaran kompleks masyarakat sono, Amerika, mereka berpacu dengan peradaban modern dan rutintias yang kian mengikat.
Terasa nilai kesetiaan diuji. Barangkali itu bandingan yang terlalu jauh? Tidak. Kedua lakon itu sama-sama membicarakan suami yang melakukan serong. Hanya sudut pandang yang dijamah berbeda. ‘Fatal’ terasa Amerika-nya. Sedangkan konflik Gelas begitu membumi. Sangat bernuansa Indonesia.
Adakah cinta abadi itu? Soal ini yang dipertanyakan. Soal ini makin luas jika melihat gejala yang meletup di tengah masyarakat. Fatal lahir bukan karena situasi yang mengada-ada. Tetapi terlihat mulai mengalirnya penggeseran tatanan moral yang diyakini.
Suatu perubahan barangkali bakalan terjadi. AIDS yang melanda dunia, kebebasan seks yang kian kencang, adalah percikan bukti yang (belakangan itu) hadir. Dan Fatal sengaja menjawab semuanya itu dengan gaya bahasanya sendiri. Lewat film itu, Adrian mengingatkan kalau masyarakat (kala itu) sedang bingung dalam lingkungannya. Juga leawt sinetron Gelas, Dedi maupun N. Riantiarno, penulis skenario, mengemukakan hal serupa.
Hal yang teramat dekat dengan kita. Hal yang sepertinya persoalan sepele, namun justru menukik ke relung hati. Betapa dahaganya seorang ayah yang menginginkan kasih sayang. Betapa suasana rumah tangga sduah berubah jadi padang gersang. Betapa cinta sudah berubah jadi api, membakar nafsu. Betapa keintiman keluarga sudah menjadi luka yang terus bernanah.
Ayah yang telah dinobatkan sebagi panutan tak diduga teprerosok dalam ruang panas membara. Ia terlibat penyelewengan dengan sekretarisnya, tatkala si istri dilanda sakit parah. Pukulan ini jelas susah dihapuskan, sampai seluruh keluarga menanggung aib.
Anak-anaknya, juga menantu, tidak memaafkan perbuatna sang ayah. Bagaimanapun, penyelewengan adalah dosa besar. Dan sang ibu tidak kuat memikul duka. Sakitnya sudah mencapai titik kritis. Pada akhirnya: meninggal dunia.
Di sinilah Gelas kian kentara bingkainya. Peranan ayah dalam kehidupan keluarga tidak hanya sebagai kepala rumah tangga, tapi segala-galanya. Dia bukan cuma pemimpin yang sekadar memberikan perintah tugas. Sebaliknya, dia adalah sosok yang harus mampu mengemong.
Maka sewaktu anak-anaknya plus para menantu memberikan vonis, dengan pendapat yang berlainan tentunya, justru sang ayah tidak merasa terpojok. Dia menerima umpatan itu secara Ikhlas. Serta mencoba mengoreksi dirinya bahwa langkah yang dijalnakan salah.
Toh juga salah kaprah bila keruwetan ayah dilakukan lewat cara putus asa. Dia sepertinya ingin mempertanggungjawabkan segala kperbuatan yang dialami. Aayh, pada puncaknya, menelan pil tidur kelewat dosis. Smapai dia meninggal dunia, asmpai dia menyusul istrinya yang mendahului.
Dari sisi ini terlihat perbedaan mencolok antara Gelas dan Fatal. Dalam Gelas, penyelewengan tidak diungkapkan dalam bentuk fisik. Juga penyelesaiannya tidak menggebu-gebu. Tidak ada gambaran brutal di sana. Yang ada malah semacam ratapan yang meski bernada pesimistis.
Bunuh diri yang dilakukan ayah, boleh dikata penyelesaian yang tepat. Perasaan malu yang disandang ayah kelamaan memang berat jadinya. Alternatif yang dipilih pun, dengan menenggak sejumlah pil tidur – seperti semangat timur, terutama Jepang.
Kematian ayah lantas jadi indah. Lantas anak-anaknya (tidak lupa para menantu) mendadak merasa bersalah. Bahwa penyebab kematian sang ayah tidak lain karena rongrongan mereka. Mereka menyudutkan ayah sehingga memilih jalan tragis. Rangkaian dramatik yang menyentuh pada Gelas itu sungguh kental. Kita tiba-tiba tergugah, tiba-tiba diingatkan bahwa hati-hatilah jika menyeleweng.
Kita pun tiba-tiba terpana terhadap sajian Teater Koma ini. Betapa menghanyutkan. Tentu kerjasama Dedi dan N. Riantiarno (terakhir – kala itu – mereka berdua menghasilkan sinetron Karina, diputar TVRI-red, berhasil menyabet Piala Vidia dalam Festival Film Indonesia 1987), layak kita saluti.
Layak pula kita sebut Gelas karya puncak – selain Karina – dari Teater Koma. Dan penulis bacaan ini (Syamsuddin Noer Moenadi) semakin yakin bahwa sejak dulu (jauh sebelum 1988-red) adalah pengarah acara terbaik. Lewat Gelas, Dedi meletikkan semuanya itu.
GELAS RETAK
Ayah – Sjaeful Anwar
Ibu – Rita Matu Mona
Ajeng, putrinya – Ratna Riantiarno
Aida, putrinya – Nunuk Chaerul Umam
Aris, putranya – Joshua Pandelaki
Mega, putrinya – Sri Yatun Legiowati
Tobing, suami Ajeng – Idries Pulungan
Giur, istri Aris – Sari Manumpil
Mul, suami Aida – Asmin
Pengarah acara: Dedi Setiadi
Pengatur laku: N. Riantiarno
Skenario: N. Riantiarno
Musik: Boedi Indracahya, Idrus Madani, Gembong T.A., dan
Untung
Pendukung laku: Teater Koma
Produksi: TVRI Sta. Pusat Jakarta
Batas usia: 17 tahun ke atas
Dok. Monitor – No. 95/II/minggu ke-4 Agustus 1988/24-30 Agustus 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar