BONUS - DI TELEVISI JEPANG, IBU-IBU BELAJAR DARI ANAK-ANAKNYA SOAL MELOMPAT DAN SENAM
AJAR, WAJAR. “Kecerdasan dan kebiasaan baik pada anak akan
berkembang pesat kalau mereka diajar melalui contoh, kebiasaan, latihan,
dorongan, penghargaan, dan hukuman yang diberikan berulang-ulang. Pengajaran dengan
cara perintah, akan segera lenyap dari ingatan mereka,” beigtu pendapat John
Locke, filsuf Inggris yang terkenal dengan teori tabula rasanya. Anak lahir
sebagai “kertas putih” yang bisa diisi apa saja oleh pendidiknya.
Pendidikan dan pengajaran yang diberikan dalam suasana gembira, dalam suasana bermain dan olahraga akan mudah diserap mereka. ‘Learning by playing’, begitu semboyan para pedagog di abad modern (waktu itu, abad 20-red) ini.
Semboyan ini benar-benar diterapkan NHK (‘Nippon Hoso Kyokai’), perusahaan televisi dan radio milik pemerintah Jepang, dalam menyajikan acara pendidikan untuk anak-anak. Mulai dari kanak-kanak (era itu) yang (waktu itu) belum sekolah, taman kanak-kanak (TK), sampai sekolah dasar (SD).
Hubungan anak dan ibu tampak wajar dan mesra, artinya mereka tidak berakting di depan kamera. Lalu anak mandi bersama ayahnya. Mula-mula, si ayah mengajari anaknya menyikat pungung, dengan langsung menyuruh anaknya mempraktekkannya pada sang ayah.
SALAM, SENAM. Ada lagi acara senam untuk ibu dan anak. Di
panggung, pembawa acara ditemani dua tokoh animasi dan satu instruktur. Si anak
menirukan sebisanya. Maka, tak ada gerakan yang seragam. Bahkan ada anak yang
bengong saja. Atau ada yang mencoba naik ke panggung. Senam semacam ini
dilakukan di tempat terbuka.
Di tempat tertutup itu, si ibu dna anak senam bersama menurut contoh instruktur. Terkadang, ada ibu yang begitu sulit melakukan satu gerakan dan si anak dengan spontan menertawai ibunya. Atau ada anak lain yang mengajari ibunya soal cara melompat dengan tepat ke dalam lingkaran-lingkaran rotan yang diletakkan di lantai.
Acara semacam ini sekaligus memberikan rasa bangga pada si anak (era itu), bahwa dalam hal tertentu, ternyata mereka lebih unggul dari orang dewasa (era itu). Perasaan bangga yang sewajarnya ini pada akhirnya mengembangkan rasa eprcaya diri pada si anak-anak (era itu).
Pendidikan moral dan etika juga diberikan pada anak-anak (era itu) yang (waktu itu) belum sekolah. Caranya melalui film kartun. Tokoh-tokoh kartun dengan gayanya yang lucu memberi contoh bagaimana acara memberikan salam, memanfaatkan barang-barang dengan teliti, tentang persahabatan, semagnat sosial, tentang kejujuran dan kebaikan. Tentang cinta kasih antar anggota keluarga. Memaafkan teman dan mentaati perintah.
MINAT, MAGNET. Untuk anak kelas I sekolah dasar (SD) – era itu, tersedia acara yang lebih bervariasi. Pengetahuan alam mulai diberikan melalui tokoh-tokoh boneka, Miru, yang artinya melihat, Kiku yang artinya mendengar, dan Nandarou yang berarti apa itu. Acara ini bertujuan membangkitkan minat pada anak-anak (era itu) untuk mengamati gejala-gejala lama dengan melihat dan mendengar dengan mata dan telinganya sendiri. Kemudian mengolah hasil pengamatan itu dan meyakininya.
Miru, Kiku, dan Nandarou misalnya, bermain dengan magnet dan menunjukkan, magnet mempunyai kekuatan menarik benda-benda besi lainnya.
Ditunjukkan lagi, ada benda-benda tertentu yang tak bisa ditarik magnet. Untuk zoologi atau ilmu hewan, Miru dan kawan-kawan mengamati tingkah laku semut. Sekaligus menggambarkan ciri-ciri semut. Pengenalan ikan mas ditekankan pada bentuknya yang unik sehingga bisa membelah air. Pengenalan burung ditekankan pada gerakannya dan ciri-cirinya yang khusus sehingga mereka bisa terbang.
Mereka juga ditunjukkan cara kerja mesin pesawat terbang. Tentang roket dan tenaga angin. Mengamati cuaca dan proses terjadinya hujan. Juga tentang cahaya. Masih ada lagi pelajaran matematika yang diperagakan dengan benda-benda kongkret. Pada tahap ini, anak-anak (era itu) memang belum bisa mengabstraksi. Mereka belum bisa membayangkan 2+3=5.
Maka diperagakan dengan menggabungkan 2 semangka dengan 3 semangka, lalu dihitung jumlahnya. Juga mulai diperkenalkan ilmu ukur, misalnya membandingkan panjang pendek suatu garis. Tentang bentuk-bentuk datar sederhana. Lingkaran dan persegi panjang, misalnya. Untuk kelas 2, 3, dan seterusnya, pelajaran ditambah dengan pengetahuan bahasa Jepang tentang huruf-huruf kanji.
Visualisasinya dibuat sedemikian rupa. Misalnya kata mulut. Mula-mula diperlihatkan bentuk mulut manusia lengkap dengan kerongkongannya. Lalu mulut menelan sesuatu. Dan bentuk ini kemudian disederhanakan, menjadi huruf kanji “mulut”. Anak berumur 9 tahun ke atas (era itu) malah membawakan acaranya sendiri. Misalnya, mewawancarai teman-temannya yang di hari krida bekerja di asawah. Pertanyaan dan jawaban timbul spontan tanpa dirancang gurunya.
Si anak (era itu) kalau salah menjawab lalu menjulurkan lidahnya. Atau ada anak bule (era itu) yang sekolah di sekolah Jepang dan (waktu itu) belum fasih berbahasa Jepang. Setiap kali kesal dengan dirinya. Menghentakkan kaki atau menggeleng sambil mengernyitkan dahi dan menutup mata.
Acara-acara ini diproduksi sesudah terlebih dahulu dikonsultasikan dengan menteri pendidikan, dengan para guru, dan para ahli. Dengan demikian, acara pendidikan yang disajikan bisa mendukung kurikulum sekolah. Untuk anak-anak (era itu), acara ini memudahkan mereka memahami suatu pelajaran karena disajikan dengan permainan, dengan gambar-gambar yang menarik dan dalam suasana yang tidak resmi.
Ditulis oleh: Irene Suliana
Dok. Monitor – No. 62/I/minggu ke-2 Januari 1988/6-12 Januari 1988, dengan sedikit perubahan




Komentar
Posting Komentar