TAFSIRAN ACARA TV: SUM KUNING-PERAWAN DESA
SEAKAN berusaha menyegarkan kembali ingatan dan menggedor-gedor kesadaran, Kamis (3/8/95), minggu pertama Agustus 1995 lalu, SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) menayangkan film lama bertajuk Perawan Desa, karya sutradara Frank Rorimpandey. Kisah dalam film ini diangkat dari kejadian nyata yang menghebohkan dan membuat masyarakat Yogyakarta berang.
Sumirah (diperankan Yati Surachman), seorang gadis desa penjual telur, diperkosa seleompok laki-laki muda berambut gondrong yang konon anak-anak pejabat tinggi. Sebelum peristiwa Sumirah, juga sudah ada seorang guru yang diperkosa. Tapi apa yang terjadi kemudian setelah kasus ini ditangani pihak yang berwajib? Rasa keadilan masyarakat dilecehkan, kebenaran diputarbalikkan, hukum dijadikan permainan.
Sumirah yang malang dipaksa mengakui bahwa dia tidak diperkosa. Gadis desa yang tak berdaya ini bahkan disulap menjadi tertuduh dan diseret ke pengadilan dengan tuduhan membuat laporan palsu. Kasus Sumirah ini adalah tragedi besar dalam sejarah peradaban kita.
Bagaimana demi kepnetingan orang-orang tertentu, keadilan dan kebenaran dimanipulasi. Dan betapa satu dua oknum ternyata bisa mengobrka-abrik sistem dan mencoreng nama baik lembaga peradilan. Beruntunglah bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang berhati Nurani tajam. Kegigihan para wartawan mengorek kebenaran, keberanian, dan kepedulian segenap masyarakat, dan organisasi-organisasi wanita, berbuah melegakan.
Kisah film ini diakhiri dengan adegan para pemerkosa luka parah setelah mobil yang mereka kemudikan tabrakan. Dengan kepasrahan memandang nasib dan kesederhanaan cara berpikirnya, Sumriah melihat itu sebagai hukuman yang diberikan Tuhan. Atau barangkali sutradara Frank Rorimpandey ingin mengingatkan bahwa keadilan Tuhanlah yang hanya bisa berlaku seadil-adilnya.
Ini memang ‘ending’ khas gaya Frank Rorimpandey, yang seakan ingin memberi penghiburan pada penonton, yang kebetulan tak beruntung mendapatkan keadilan di dunia. Tayangan film Perawan Desa yang dibuat 18 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang (1977-red) itu terasa kembali aktual di tengah perhatian masyarakat yang saat itu tengah terpusat pada kasus perkosaan yang menimpa keluarga Acan di Bekasi, juga kasus-kasus yang terjadi di tempat lain.
Film ini juga menunjukkan betapa masyarakat, media massa bisa punya pengaruh luar biasa dalam turut menjaga tegaknya kebenaran. Fungsi media massa sebagai alat kontrol sosial, menemukan kebenarannya dalam kasus ini. Seandainya tidak ada media massa (koran/radio) yang dengan gencar memberitakan kasus ini – seperti dilukiskan dalam film – barangkali nasib Sumirah tetap terpuruk terinjak-injak egoisme dan kewenang-wenangan oknum.
Melihat film ini juga melihat kejayaan, kebesaran, keberanian dan kepercayaan diri insan film Indonesia. Bahwa ternyata, dulu di akhir tahun 70-an, film Indonesia bisa berbuat lebih dari sekadar hiburan, tapi juga media penyadaran, pendidikan, dan kontrol sosial.
Lewat Perawan Desa, sutradara Frank Rorimpandey sudah menggelar sebuah tragedi kehidupan, juga cacat hukum dan keadilan yang pernah terjadi. Sungguh, banyak hal yang bisa kita petik bersama. Tapi tentu saja kalau kita mau membuka diri, berlapan gdada, menyadari keterbatasan betapa kita manusia sering lupa. Karena siapapun kita, tak memiliki hak untuk merasa lebih dari orang lain, lalu bertindak semena-mena.
Melihat realitas sosial seperti yang digambarkan dalam film Perawan Desa, memang sungguh “sempurna” untuk bisa melhairkan tindakan sewenang-wenang serta bertumbuhkembangnya sikap egois individualistis yang pada akhirnya membuahkan tragedy memilukan itu. Ada orang-orang tertnetu yang dengan “kekuasaan dan kekuatan” yang dimiliki merasa berhak bertindak semaunya.
Ada oknum penegak hukum yang dengan arogansinya merasa bisa memutarbalikkan fakta, dan ada korban yang merasa dirinya bukan siapa-siapa. Sehingga ketika kehormatan dan harga dirinya dirampok, tak tahu harus berbuat apa. Peristiwa tragis yang terjadi 20 tahun sebelum bacaan ini dimuat Bintang (1975-red) itu, serasa kembali menghantui ketika kenyataan di sekitar kita masih menyodorkan peristiwa yang sama.
Apakah peristiwa Sum Kuning yang menggemparkan itu dan bahkan sudah dibuat filmnya, tak cukup untuk menjadi pelajarna bersama? Apakah para pelaku tindak pemerkosaan yang beritanya sehari-hari bisa dibaca di koran, juga orang-orang yang merasa dirinya punya kekuatan dan kekuasaan lebih, sama seperti para anak-anak pejabat yang konon memperkosa Sum Kuning?
Apakah bangunan sosial yang sudah sama-sama kita bangun (belakangan itu) memang ada yang salah, sehingga peristiwa yang sama (waktu itu) masih terus terulang? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain, yang harus kita ajukan bersama-sama sebagai gugatan atau wujud kpeedulian. Peristiwa Sum Kuning telah membuat semua orang marah dan geram. Tragedi keluarga Acan jgua mengundang kegeraman yang sama.
Juga kasus-kasus perkosaan yang lain. Tapi toh hal yang sama masih saja terjadi. Apakah ini karena kita pemaaf dan gampang lupa, sehingga tak sempat belajar? Atau barangkali, 1995 ini, sudah saatnya (waktu itu) kita berhenti bertanya-tanya: ‘what’s wrong with our society’?
Tapi, seandainya kita semua menyadari bahwa setiap pelaku perkosaan, siapapun dan ke mana pun sembunyi/berlindung, polisi pasti akan datang menangkap, lalu menjebloskan ke penjara, akankah peristiwa yang sama tak akan berulang? Entahlah.
Ditulis oleh: Yanto Bhokek
Dok. Bintang – No. 233/Th. V/minggu kedua Agustus 1995, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar