SAPI-SAPIKU: "SAPI KREDITAN YANG MAU DIGADUHKAN" (KONTAK TANI, TVRI PROGRAMA 1 - MINGGU, 25 MARET 1990 Pkl: 11.15 WIB)

 GERAH. Wartawan masuk desa dengarkan keluh-kesah warga, lurah gerah

SAPI Sapiku diawali dengan munculnya Effendi, seorang yang bergaya wartawan, di desa Kemiri. Desa yang sedang tumbuh menjadi desa peternak sapi perah. Berbagai persoalan muncul, Kawit kebingungan karena susunya ditolak KUD, padahal hasil penjualan direncankaan untuk bayar angsuran kredit sapi. Samat yang resah, merenungi nasibnya karena dianggap tidak memenuhi syarat terima jatah kredit sapi.

Samat yang resah, merenungi nasibnya karena dianggap tidak memenuhi syarat terima jatah kredit sapi. Semua persoalan ini ditampung Effendi. “Keluhan Anda kami tamping dan akan kami tulis di koran agar pemerintah memperhatikan,” begitu gaya wartawan gadungan ini. Ada dialog antara Effendi dan pakde Paing yang dapat meawkili situasi ketidakberanian warga mengeluarkan pendapat.

Pakde Paing tahu bahwa susu yang ditolak KUD adalah susu yang rusak, yang tidak memenuhi standar persyaratan yang ditetapkan KUD. Tapi, ketika ditanya Effendi, apa saja persyaratan itu, ia cukup menjawab, “Lha, ‘sampeyan’ tanyakan sendiri ke KDU, khan lebih jelas, saya takut salah nanti.” Bila kita memasuki instansi pemerintah, menanyakan sesuatu hal, kerap kali akan mendapat jawaban yang senada dengan jawaban pakde Paing ini.

Bolehlah pak lurah mengatakan bahwa tidak benar jika hanya orang berduit yang mendapatkan jaah kredit sapi. Tapi, mau apa bila dalam presepsi Samat, hal itu benar? Seandainya Samat bicara runtut, ia dapat bertanya kepada pak lurah. “Apa artinya dibentuk koperasi, bila orang macam saya tidak mendapatkan jatah kredit?” Bila kredit sapi hanya diberikan kepada orang yang diperkirkaan mampu bayar cicilan, tak usah koperasi juga yang sanggup berikan kredit.

Jika syaratnya seperti itu, lalu apa bedanya dengan badan usaha non-koperasi? Kita semua tahu bahwa banyak program untuk menaikkan taraf hidup rakyat kelas bawah tidak sampai sasarannya, karena tidak teprenuhinya syarat maca mini. Misalnya untuk pengambilan KIK (kredit investasi kecil), banyak orang yang tidak bisa manfaatkan fasilitas ini hanya karena tidak punya agunan sertifikat. Padahal justru karena termasuk golongan melarat itulah maka mereka tidak dapat memenuhi syarat.

GADUH, GADUNG. Sayang, episode ini lepas dari tema yang semestinya. Kegundahan warga Kmeiri sarana penolakan susu oleh KUD jadi masalah wartawan gadungan. Di akhir cerita, pak Kontak menasihati Samat. “Boman dan Sumi berniat baik, dik Samat. Kalau memang tidak boleh dan tidak mampu kredit, ya membantu kesibukan saudara…. Khan itu jauh lebih baik.”

Dan Siti istri Samat, urun rembung menimpali nasihat pak Kontak ini. “’Sampeyan’ itu tidak mau mensyukuri nikmat yang dibeirkan Tuhan. Memagn keadaan kita begini, ya sudah, ndak usah ngoyo,” ujarnya kepada suaminya.

Mupus, pasrah ke dalam kenyataan yang tidak mampu diubahnya. Suatu sikap mentabahkan diri untuk tetap gagah. Maka akhirnya Samat dapat menerima kegaglananya ini. Ditelannya bulat-bulat rasa malu karena tidak dapat hidup seperti kang Boman, pakde paing, dan penduduk desa Kemiri lainnya, Samat harus merasa puas dan pas membantu ngurus sawah dan sapi kreditan kakaknya.

Kurang jelas maksudnya, ia ‘menggaduh’ (patungan pelihara ternak, di mana pihak pemelihara bisa mendapatkan satu anak setelah ternak itni beranak) sapi kreditannya Boman, atau bekerja untuk Boman. Yang jelas, ia bisa ikut antre setor susu di KUD dengan tersenyum. “Sapinya kang Boman sekarang saya yang tanggun gjawb,” kata Samat di depan KUD. Bila sapi kreditan dapat digaduhkan, tentu bisa bantu naikkan taraf hidup bagi yang tidak mampu kredit.

Persoalannya, kejujuran pihak penggaduh dapat diandalkan apa tidak? Karena menggaduh sapi perah tentu lain dengan sapi ternak, kambing ternak, atau yang lain. Selain yang sudah diungkapkan ini, kita dapat memetik hikmah dari dialog antara Samat, Siti, dan Sumi. Yakni, bagaimana mesti bersikap antara kakak dan adik, bila yang satu berkecukupan, dan yang lain kecingkrangan.

Ditulis oleh: Gatot Sukoco

KONTAK TANI (TVRI PROGRAMA 1) BIKIN KECEWA KARENA DIUBAH SEENAKNYA

KONTAK TANI merupakan hasil kerjasmaa pihak PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dengan TVRI, PPFN punya hak sairan produksinya, bahkan menentukan jadwal siaran.

Lalu, mengapa Susu Sapiku meleset dari jadwal yang diterima MM (Monitor Minggu)? Bubur Bergizi nongol di Minggu, 11 Maret 1990, semestinya ditayangkan 25 Maret 1990 ini. “Bubur Bergizi ditayangkan duluan, atas dasar pertimbangan tim ‘checking’ tim penilai bahan acara siaran,” kata Saimo dari bagian kepustakaan film.

Jawaban sama yang diterima pihak PPFN ketika menanyakan melesetnya jadwal siar Susu Sapiku. Jika MM ingin keterangan yang jelas atas melesetnya, sama sekali tidak bermaksud membesar-besarkannya. Cuma ingin mengatakan kepada pemirsa, bahwa TVRI tidak seyogyanya main ubah jadwal, melainkan punya alasan yang jelas bahwa Bubur Bergizi memang pantas didulukan.

Sayang, TVRI tidak memberikan jawaban yang diharpakan ini. Tim penilai bahan caara siaran mengatakan tak berwenang menentukan. Ifad Dewata, kasi penata acara dan evaluasi, mengatakan, “Itu yang tentukan kepala bidang perencanaan siaran.” Semetnara yang ditunjuk menjawab, “Itu tanggung jawab subdit pemberitaan.”

Dan staf di subdit pemberitaaan, JB Wahyudi mengatakan, “Itu bukan urusan pemberitaan. Tanya saja persi bapora.” Ketika sampai di sini pun, jawaban yang terang belum didapatkan. Kita jadi ingin tahu bagaimana proses sebuah skenario hingga muncul di layar TV kita. Menurut Halim Nasir, tim penilai punya wewenang batlakan sepenuhnya, terima sepenuhnya, serta mengubah suatu skenario ataupun naskah. Begitu pula untuk materi dari luar.

Pengecekan meliputi aspek kualitas gambar maupun aspek moralnya. “Seperti film The Right of The People yang mestinya ditayangkan 26 Maret (1990-red) terpaksa kami batalkan. Tak peduli kira sudah terlanjur bayar sewa film.” Jika siaran Susu Sapiku diundur, lalu apa sebabnya? Dengan tayangan yang persis sama dengan yang ditawarkan PPFN, Minggu (18/3/90) lalu, berarti tak ada alasan macam ini.

Kualitas gambar dan moralnya dinilai layak tayang oleh tim penilai. Atau barangkali memanfaatkan momen? Ini juga tidak. Saat penayangan tak punya hubungan dengan hari koperasi yang jadi tema episode ini. Bahkan mengecewakan pihak GKSI meski ini bukan proyek GKSI. “Saya dan humas GKSI jadi malu dengan pengunduran ini. Saya malu karena jadwal yang saya berikan kepada humas GKSI tidak tepat,” kata Aman Sugandhi, penulis skenario Susu Sapiku.

Dan humas GKSI malu karena sudah terlanjur menyebarkan informasi ke seluruh anggota koperasi susu sapi, supaya menonton acara ini. Kebetulan, beberapa hari sebelumnya, ada rapat GKSI se-Jawa Barat. Dalam hal apapun, jadwal meleset adalah hal lumrah. Tapi, bila tanpa alasan jelas, bisa bikin susah. Sebenarnya, siapa yang bertanggung jawab mengubah jadwal ini?

Ditulis oleh: Gatot Sukoco

Dok. Monitor – No. 195/IV/Minggu, 25 Maret 1990, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer