MALAM MINGGU - JAMILAH: "ADIK IPAR DIJADIKAN PEMBANTU" (JAMILAH, FILM CERITA AKHIR PEKAN/TVRI PROGRAMA 1 - SABTU, 24 MARET 1990 Pkl: 22.30 WIB)
SINETRON Jamilah (TVRI Programa 1) semula berjudul Gersang Kehujanan. Pertimbangan mengganti judul, terutama karena isi cerita didominasi tokoh Jamilah, gadis desa yang memiliki cita-cita melanjutkan kuliah di Jakarta. Pada umumnya, orang desa membayangkan kota metropolitan merupakan alternatif cita-cita. Impian Jamilah sangat wajar, karena koran maupun radio dan TV sering memberitaka kesuksesan para pendatang di Jakarta.
Tapi, kisah seorang yang berhasil menaklukkan Jakarta, hanya sebatas kulitnya saja. Persoalan yang mendasar dalam perjuangan seseorang, tidak diungkap secara jelas. Pemberitaannya yang tidak imbang mengakibatkan Jamilah jadi korban. Jamilah sangat enteng memandang persoalan kehidupan di Jakarta. Itu cara yang salah.
Buktinya, Jamilah teprental-pental menggleuti kehidupan di Jakarta. Ia justru tidak mendengar dan melihta kehidupan manusia Jakarta sendiri. Jamilah merasakan, bahwa Lestari, kakak iparnya, memperlakukan dirinya tidak wajar. Jamilah hanya dianggap seorang pemantu. “Berapa sisa belanjanya?,” tanya Lestari pada Jamilah. “Iya, dagingnya eharga seribu tujuh ratus,” jawab Jamilah. Tapi Lestari tidak mau tahu.
Maka, keluarlah dampratan yang menyakitkan hati Jamilah .Jamilah tidak berdaya
untuk melawan. Ia menyadari, bahwa dirinya hanya numpang di rumah itu. Ia tidak
bisa mengadukan perlakuan Lestari ini pada kakaknya, Dahlan. Betul-betul kerja
keras untuk menghidupi istriya, adik iparnya (Tina), dan anaknya (Rini). Mak
aJamilah menunggu dan menunggu perkembangan saja.
Seorang yang menumpang memang serba salah .Jamilah seperti dilempar pada ruang dan waktu yang tidak menghargai eksistensinya. Jamilah kehilangan harga diri dan selalu bersalah bila bertindak. Apalagi lingkungan mengangap dirinya hanya sekdaar benalu yang tidak ada artinya.
Jamilah oleh Lestari dan Rini harus ditiadakan. Maka ketika Aswin, pacar Tina suka melirik Jamilah, Tina marah-marah. Kecemburuan Tina terhadap Jamilah ini jadi alasan untuk memperlakukan Jamilah dengan semena-mena.
Semakin Aswin memperhatikan Jamilah, semakin keraslah tekanan yang diperlakukan Tina kepada Jamilah. Bahkan oleh Lestari dibuat dalih buat menyingkirkan Jamilah. “Papa khan tahu, Aswin dan Tina itu sudah tunangan. Jamilah kelihatan, ingin merusak hubungan mereka,” adu Lestari pada Dahlan.
Dahlan menerima aduan Lestari dan berjanji akan menegur Jamilah. Tapi sebelum menegur, Dahlan terlebih dahulu menegur Aswin. Aswin sangat terkejut dengan sikap Dahlan itu. Maka Aswin pun menjelaskan persoalan sebenarnya yang menimpa Jamilah. Jamilah oleh istrinya diperlakukan seperti pembantu. Tapi, sebelum Dahlan menemui Jamilah, oleh Lestari dan Tina sudah diteror dahulu. Ketika Jamilah dituduh “main mata” dengan Aswin, ia pun memberontak.
Jamilah mengatakan, bahwa dirinya tidak serendah itu. Ia bukanlah tukang merusak cinta. Kesabaran Jamilah pun habis, ia meninggalkan rumah tanpa membawa bekal apa-apa. Ia terdampar di tempat para gelandangan dian diciduk pekerja sosial, karena mengotori kota. Sedangkan Dahlan, Aswin, dan Tina sibuk mencari Jamilah yang akhirnya bekerja di warung tegal.
Karena cita-citanya kuliah di fakultas kedokteran tidak mungkin tercapai, Jamilah pamitan pada pemilik warung (bu Siti) untuk pulang kampung. Nasib Jamilah yang malang, korban egoisnya orang Jakarta. Sayangnya, sinetron yang diniati gaya melodrama ini tidak total mengkesploitasi penderitaan Jamilah. Kalau saja penderitaan ini diletakkan pada proporsi yang benar sinetron Jamilah ini, (wkatu itu) akan memeras air mata penonton.
Ditulis oleh: Bujang Praktiko
JAMILAH
Jamilah – Fara Dina Chanan
Dahlan – Jack Maland
Tina – Yantri Yanuarti
Lestari – Etty Sunarto
Aswin – Sam Moses
Skenario: Dien Hakim dan Imron Rani
Pengarah acara: Vick Hidayat
Produksi: TVRI Stasiun Pusat
Dok. Monitor – No. 195/IV/Minggu, 25 Maret 1990, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar