BONUS - SYUTING SINETRON DI LUAR UJUNGPANDANG, HONOR SKENARIONYA BERKURANG

Machfud Ramli (bertopi)

BELAS, BALAS. Membicarakan biaya produksi TVRI Pusat Jakarta dengan TVRI daerah, memang kerap bikin gerah. Salah satunya, produksi sinetron. Saat menggarap sinetron (tradisional) Dodeng, yang (waktu itu) direncanakan dikompetisikan dalam FFI 1989, TVRI Ujungpandang mengambil loksi di Tana Toraja. Jaraknya, jika ditempuh pakai mobil dengan kecepatan di atas sedang, kira-kira 7 jam baru sampai di lokasi.

Machfud Ramli dan Andi Mariowawo Mochtar – masing-masing sebagai pengarah acara dan penulis skenario sekaligus pemain – bilang, biayanya seputar satu juta rupiah plus untuk seminggu syuting. Biaya yang relatif murah untuk kru yang berjumlah belasan lebih. Tanpa menyebut angka pasti, Anwar Rahim, kepala sub-drama, membandingkan: “Satu sinetron Jakarta, biayanya bisa kita pakai untuk bikin 10 judul.”

“Untungnya pihak pemerintah daerah yang kebetulan ketempatan syuting di daerahnay kerap menyumbangkan bahan mentah makanan. Yang mengolah, penduduk setempat yang biasanya sekaligus dipakai sebagai penginapan. Untung yang lain, para pemain tak pernah menuntut honorarium yang tinggi – lantaran yang dituntut juga tak ada.

“Biasanya, kalau syutingnya dalam kota Ujungpandang, honor bisa berlebih,” ungkap Mochtar membandingkan saat naskahnya digarpa dalam kota – toh, ia tetap enggan menyebut angka kongkretnya.

Secara acak, bisa dibandingkan dengan rekaman Juragan Abiyoso Teater Gandrik Yogya – yang penayangannya diundur entah sampai kapan – yang syuting dalam studio, yang relatif lebih murah dan mudah. Untuk rekaman ini, Gandrik mengaku menerima 3 juta 750 ribu, itu sudah termasuk dipotong di sana sini.

 

Widiawati, Syaifanaya. Dua-duanya pemain yang menyumbangkan semangat 

PILAH, PILIH. Minimnya biaya ini pula yang menjadikan para pekerja lebih memilih dipinjami kostum ketimbang “bikin” baru, yang lengkap dengan kelusuhan dan aslinya. Jadinya, tak mengherankan jika dalam sinetron tradisional (waktu itu) bakal terlihat kostum yang masih mengkilap dan kinyis-kinyis kendati itu konon dimaksudkan sudah dipakai berbulan-bulan.

Kostum model tradisional itu biasanya didapatkan lewat lembaga sejenis museum atau dinas kepariwisataan, yang secara sukarela meminjamkan – dengan alasan demi menjaga kebanggaan daerah, misalnya.

Sinetron memang bukan satu-satunya persoalan di TVRI Ujungpandang. Jumlah pengarah acara yang dimiliki, juga mempengaruhi hasil garpaan. Di TVRI Ujungpandang, ada 8 atau 9 pengarah acara yang harus menggarap berbagai paket – budaya, hiburan, sampai pendidikan; juga untuk tayangan lokal maupun nasional macam drama tradisional, Musik Pop Daerah, Aneka Ria Anak-Anak Nusantara, Negeri Tercinta Nusantara, dan beberapa lagi yang memang rutin diatur lewat pola acara terpadu. 

“Bisa dibilang, satu pengarah acara harus menyelesaikan satu paket dalam 3 hari, “simpul Drs. Fachruddin Djamil, (waktu itu) 44 tahun, kepala stasiun TVRI Ujungpandang. Jadinya, seorang pengarah acara mau tak mau dituntut untuk terus kerja lembur; mengedit atau ‘mixing’ satu paket sambil memulai paket lain. Konsentrasi para pengarah acara tak lagi bisa dipilah-pilah.

Kalau kemudian mereka mencoba mengistimewakan sebuah paket melebihi jadwal, itu (waktu itu) akan dilakukan jika mereka menggarap untuk tayangan pusat, apalagi jika dikompetisikan macam dalam perebutan piala Gatra Kencana. Toh, yang namanya biaya produksi, tetap taka da yang istimewa.

Paket pendidikan Permainan Bola Matematika yang menyabet juara I, dapat jatah 832.200 perak, sementara paket penerangan Jeneponto – juga menyabet Gatra Kencana I – membutuhkan 1 juta 49.900. Kayaknya, yang beginian ini bukan semata problem TVRI Ujungpandang, melainkan juga TVRI daerah lain khan?

Ditulis oleh: Veven Sp Wardhana

Dok. Monitor – No. 150/III/minggu ke-3 September 1989/13-19 September 1989, dengan sedikit perubahan

Komentar

Postingan Populer