BONUS: ABS-CBN HARUS MENUNGGU 16 TAHUN UNTUK MENAMBAL LUBANG BEKAS PELURU
SERBU, SERU. Masih ingat cerita mencak-mencaknya pemerintah
kita (waktu itu), gara-gara sebuah stasiun TV swasta negara tetangga (Emerald
Network-red) tak mau bayar uang sewa transponder satelit Palapa?
Cerita buruk beberapa tahun sebelum bacaan ini dimuat Monitor itu, sebetulnya tak terlalu enak diungkap. Tapi manakala kita mau bicara dunia pertelevisian Filipina, mau tak mau, pengalaman itu terbicarajan juga. Soalnya, televisi – juga radio – Filipina, sudah kadung masuk dalam persoalan politik maupun bisnis negara itu. Ada yang didirikan dengan membawa kepentingan atau misi sebuah kelompok atau perorangan.
Alto Broadcasting System – Chronicle Boradcasting Network (ABS-CBN), barangkali sebuah gambaran pas tentang peta budaya televisi Filipina. Didirikan oleh keluarga pengusaha Lopez pada 1954, semula hanya bernama ABS. Lima tahun kemudian, grup perusahaan lain bergabung. Ditambahkan nama CBN di belakangnya. Selain sebagai stasiun TV tertua di Asia, ABS-CBN mungkin juga terbesar pada waktu itu.
Pun kiprah pertama dalam siaran warna, tahun 1967. Dan sampai awal 1970an, ABS-CBN hanya bisa disejajarkan dengan HK Jepang. Baik dalam jumlah personil (1.200 pegawai tetap, 800 staf khusus radio-TV, dan 800 pekerja kontrakan), punya 7 cabang siaran TV dan 21 pemancar radio, juga peralatan yang diimpor dari AS.
Sampai 22 September 1972, sebuah petaka terjadi. Berdasarkan ‘letter of instructions’ (LOI) no. 1, Presiden Marcos – yang beberapa saat sebelumnya mengumumkan UU darurat militer – memerintahkan untuk menutup semua stasiun televisi dan radio.
Pasukan Metrocom di bawah komando kapten Rolando Abadilla, menyerbu markas ABS di Bohol Avenue, Quezon City, Metro Manila, beberapa saat menjelang tengah malam. Masa vakum panjang, dengan pegawai yang terlantar pun dimulai. Perundingan alot dan rebutan memasuki babak baru. Kerakusan pejabat – plus sekongkolnya – merambah ke televisi.
Roberto Benedicto, rekan dekat Presiden Marcos, yang sudah punya Kanlaon Broadcasting System (KBS), bekerjasama dengan National Medai Production Center (NMPC), ingin mengambil alih ABS.
Saat itu, Benedicto memang dikenal sebagai raksasa media di Filipina. Selain KBS yang dijadikan payung usaha, ia juga punya Radio Philippines Network yang mengoperasikan TV Channel 9 (walau akhirnya tak mau bayar sewa Palapa), serta Banahaw Broadcasting Corporation yang mengoperasikan TV Channel 13.
Augusto Almedo-Lopez, pemilik ABS, minta ganti rugi sepadan. Kerugian akibat dibredelnya stasiun TV andalannya tak kurang dari 9,8 milyar peso (sekitar – waktu itu – 784 milyar rupiah). Belum lagi pesangon pegawai yang terpaksa kehilangan pekrejaan, sejumlah 1,109 milyar peso (sekitar – waktu itu – 88 milyar rupiah).
Awal November 1972, Eugenio Lopez Jr menawarkan lewat Mehan Juan Ponce Enrile untuk menjual ABS pada pemerintah. Presiden Marcos menunjuk Cesar x Zalame, dirut Phil-Am Life Insurance, untuk berembuk dengan ABS.
Perundingan cukup alot, gara-gara pemerintah enggan membayar dengan harga layak. Perundingan pun gagal. Setahun kemudian, nama Kokoy Romualdes muncul ke permukaan. Ia menawarkan kerjasama. Pegawai dipkeerjakan lagi, dan kerugian peralatan diganti lewat kredit First National City Bank (FNCB). Gambaran semakin jelas dan ABS siap memulai siaran lagi pada 15 Mei 1973.
Tapi, Presiden Marcos tak setuju dengan kepemilikan bersama pemerintah-swasta. Yang dikehendaki, usaha itu harus murni swasta. Usut punya usut, orang terkuat Filipina ini keberatan akan bunga hutang sekitar 12-14% yang harus dibayarkan.
Rencana pembukaan kembali pun mundur hingga 31 Mei 1973. Perudingan terlalu seru, agaknya. Dan sekongkol dekat Marcos makin banyak yang ingin berkepentingan. Rencana mundur beberapa tahun. Bahkan mandek sama sekali, setelah selusin nama muncul di meja perundingan. Benedicto, yang masih ngotot merebut ABS, beberapa saat pindah ke Jepang, dan jadi dubes di sana. Jalan pun tertutup lagi.
CURANG, KURANG. Pihak yang ingin bekrepentingan, kalau perlu melakukan kecurangan untuk melicinkan jalan. ABS dibiarkan mati pelan-pelan, sampai pada saatnya nantinya, Benedicto cs bisa mengambil alih dengan harga murah. Padahal, dari beberapa stasiun TV dan radio yang mulai dioperasikan lagi (berdasarkan prioritas pemerintah), peso yang dikeduknya selama Juni hingga Desember 1973 saja tak kurang dari 103 juta (sekitar – waktu itu – 8,24 milya rrupiah). Itu baru dari televisi asja.
Ironisnya, mereka jadi besar karena memakai sebagian fasilitas ABS yang nganggur. Memakai jaringan iklan ABS, juga memanfaatkan potensi pemirsa. Januari 1978, badan pemerintah National Media Production Center, yang didominasi orang-orang KBS, mengulurkan tawaran untuk – lagi-lagi – membeli peralatan ABS. Tetap saja tak ada kabar setelah itu.
Tim yang dibentuk untuk menginventarisasikan aset ABS, yang kemudian dipakai bagi patokan kerjasama, tak pernah jalan. Tiba-tiba, 13 Agustus 1984, semua orang kaget tatkala meninjau staisun transmisi radio di Meycauyan dan Mandaluyong yang milik ABS, hanya mendapati bangunan kosong.
Dua ‘transmitter’ raksasa berdaya 50 kilowatt, yang berat masing-masing lebih dari 1 ton, entah ke mana. Yang tak kurang menghernakan, menara setinggi 300 kaki (sekitar 100 meter) di Meycauyan (kampungnya Lydia De Vega), hilang tanpa bekas. Bangunan bekas staisun pun sudah dihuni 2 keluarga. Tercatat di kartu kelurahan, mereka memang penghuni “rumah tinggal” itu.
Di Mandaluyong, peralatan juga mengalami nasib sama. Dan gedung bekas stasiun transmisi, dihuni seorang bujangan (era itu). Di ‘broadcast center’, Augusto Almeda Lopez diberitahu, waktu NMCP mengambil gedung ABS, peralatan yang ditemukan hanyalah ‘transmitter’ milik Channel 4. Seabrek alata dan perangkat lain, entah tercerai-berai ke mana.
Pun halnya dengan perpustakaan dan dokumen hasil 25 tahun ABS beroperasi. Sudah pasti, tuduhan dilayangkan ke Benedicto. Apa lacur, waktu itu ia sudah semakin sulit dihubungi. Angin perubahan pun segera berembus, tatkala revolusi rakyat pimpinan Cory Aquino berlangsung pada Februari 1986. Gedung ABS yang terlantar sekian lama, pada awlanya dipakai untuk tempat perlindungan tentara anti-Marcos. Dan kawasan pemukiman sekitarnya memang jadi saksi baku tembak.
Setelah semuanya reda, awak ABS yang telah 16 tahun mengganggu, mulai bangkit lagi. Tiga tahun sudah, hingga bacaan ini dimuat Monitor (1989-red). Perkembnagan yang terjadi, (waktu itu) belum menggembirakan. Bahkan muncul tanda-tanda pesimistik di antara beberapa stafnya. Soal kesulitan memperoleh izin penggunaan transponder Palapa, soal keharusan memakai Domsat, barangkali satu dua sebabnya.
“Dulu (jauh sebelum 1989-red), nasib kami jelek karena rekan dekat Marcos berebut untuk memiliki stasiun ini. Barangkali sekarang (1989-red), kejadiannya sama. Orang-orang kongres atau rekan dekat Presiden Aquino juga mau menarik ABS-CBN ke tangan mereka. Kalau begitu, memang siallah nasib kita,” kata beberapa orang yang enggan disebut namanya.
Ditulis oleh: Slamet Riyadi (Manila)
Dok. Monitor – No. 140/III/minggu ke-1 Juli 1989/5-11 Juli 1989, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar