ANGGAR WARDHANANTI
OLIMPIADE SEOUL. Tak jelas sebabnya, Anggar Wardhananti, (saat itu) 26 tahun, pengarah acara TVRI Yogya, mengaku benci pada sisnetron yang diproduksi TVRI. “Saya ndak pernah nonton, kok.” Betapapun itu sinetron unggulan? “Iya,” mungkin dia sedang berkelakar (waktu itu), atau barangkali, memang begitulah pernyataan “cinta” model Yogya. “Tidak” dibilang “iya”, “iya” dibilang tidak.
Tetapi, Nunun – begitu dia biasa disapa – akan bialng “iya” seumpama dikonfirmasi tentang keberangkatannya ke gelanggang Olimpiade Seoul, Korsel. Keberangkatannya ke sana bukan karena di sono (waktu itu) akan memandu acara. Melainkan, sulung dari 6 saudara ini, ikutan menari bersama Padepokan Seni Bagong K, Yogya.
Sudah 5 tahun (sampai saat itu, 1983 hingga 1988-red), ia berguru pada penata tari kenamaan itu. Awalnya, dikirim kantornya sebagai wakil Indonesia pada program COCI. Enam bulan ia jadi cantrik padepokan, meski sebelumnya pernah pula bergabung di sejumlah sanggar tari: Arena Budaya, Puri Eka Budaya, dan lain-lain.
Itu sebabnya, tak heran jika kemudian Nunun sering mempengarahacarai sajian tari TVRI Yogya. Bahkan tak jarang, penggemar warna kuning, biru, dan hitam ini dipengarahacarai kawan-kawannya. Misalnya, tatkala ia mesti siaran bersama padepokan. Jika sudah begitu, yang terjadi memang rada unik. Kawan sekantor dan kawan sepadepokan, bisa saling olok – betapapun itu tak bakal mengganggu goyangnya yang, kata orang, menggemaskan.
Karena goyang itu pulalah, dalam Duta Budaya Indonesia yang kecuali ke olimpiade juga ke Jepang, Hongkong, Singapura, dan Malaysia ini – ia ditunjuk memberikan tari Jejer, tarian Banyuwangi yang lumayan erotis. Toh, Nunun gampang cemberut, jika dipuji “itu”-nya – kendati sesungguhnya, semakin cemberut justru keindahan yang muncul. Cieh, cieh!
Ditulis oleh: Butet Kartaredjasa
Dok. Monitor – No. 99/II/minggu ke-3 September 1988/21-27 September 1988, dengan sedikit perubahan



Komentar
Posting Komentar